1. Emile Durkheim Emile Durkheim lahir Di Epinal, Perancis, pada 15 April 1858. Ayah dan kakeknya adalah seorang Rabbi atau pendeta bagi kaum Yahudi. Namun Durkheim sendiri adalah orang yang Agnotis yaitu orang yang tidak mau tahu dengan agama. Perhatiaannya terhadap agama lebih lebih bersifat akademis ketimbang teologis (mestropic:1988). Kebanyakan dari karyanya dimaksudkan untuk membuktikan bahwa fenomena keagaamaan berasal dari faktor-faktor social bukan dari ilahi, dan semua jenis karangannya berdasarkan pada penelitian yang dilakukannya. Kajiannya mengenai kenyataan gejala social yang berbeda dari gejala individual, analisisnya mengenai tipe struktur social, dasar solidaritaas serta integrasinya, maupun pemecahan sosiologinya mengenai gejala seperti penyimpangan, bunuh diri dan individulisme, serta studi statistic mengenai angka bunuh diri membuatnya menjadi pemikir yang banyak memberikan sumbangan terhadap sosiologi sebagai ilmu. Selain itu pengaruh Durkheim sangat mencolok dalam aliran fungsionalisme sosiologi modern. Fungsionalisme juga menekankan integrasi dan solidaritas, dan juga pentingnya memisahkan analisa tentang konsekuensi-konsekuensi social dari gejala social, dar analisa tentang tujuan dan motivasi yang sadar dari individu.durkheim meninggal pada 15 November 1917 yaitu pada usianya yang ke 59 tahun. Karyanya diantaranya : The division of society, the rules of sociological Methods, The elementary Form Religious life, and The structutre of social action. Konsep Durkheim Tentang Fakta Sosial Menurut Durkheim ada tiga karakteristik fakta social yaitu : • Gejala bersifat eksternal terhadap individu yaitu cara berfikir, bertindak, dan berperasaan yang memperlihatkan sifat yang patut dilihat sebagai sesuatu yang berada diluar kesadaran individu. Contohya : bahasa, system moneter, Norma-norma, Profesional. • Besifat memaksa individu. Dalam hal ini individu dipaksa, dibimbing, diyakini, didorong atau dengan cara tertentu tertentu ddipengaruhi oleh berbagai tipe fakta social dalam lingkungan sosialnya. • Bersifat umum atau tersebar secara meluas dalam suatu masyarakat. Fakta social ini merupakan milik bersama bukan milik individual. Dalam bukunya yang berjudul The Rule Of Sociolocal Method Durkheim membedakan antara dua tipe fakta social Yaitu Material (Birokrasi, Hukum) dan non-material (culture, instrusi social). Perhatiaanya tertuju pada upaya membuat analisis komparatif mengenai apa yang membuat masyarakat bias dikatakan berada dalam keadaan Primitif atau Modern. Durkheim menyimpulkan masyarakat primitive dipersatukan terutama oleh fakta social non materil, khususnyaoleh kekuatan ikatan moralitas bersama atau yang ia sebut sebagai kekuatan kolektif bersama. Solodaritas dan Tipe Struktural Sosial Solidaritas menunjuk pada suatu keadaan hubungan antara individu atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosinal bersama. Ikatan ini lebih mendasar dari pada hubungan kontraktual yang di buat atas persetujuan rasional. Penjelasan Durkheim mengenai Solidaritas diperoleh dalam bukunya The Division Of Labour In Society. Dalam karyanya tersebut Durkheim menganalisa pengaruh kompleksitas dan spesialisasi pembagian kerja dalam struktur dan perubahan-perubahan yang diakibatkannya dalam bentuk-bentuk pokok solidaritas social. Pertubuhan dalam pembagian kerja meningkatkan suatu perubahan dalam struktur social dari solidaritas mekanik dan solidaritas organik.  Solidaritas Mekanik Solidaritas ini terbentuk atas dasar kesadaran kolektif, yang menunjuk pada totalitas kepercayaan-kepercayaan dan sentiment-sentimen bersama yang rata-rata ada pada warga yang sama. Cirri khas yang pentig dari solidaritas mekanik adalah suatu tingkat homogenetik yang tinggi dalam kepercayaan atau sentimen dengan tingkat pembagian kerja yang sangat minim.  Solidaritas Organik Solidaritas ini muncul atas dasar pembagian kerja bertambah besar dan saling ketergantungan yang sangat tinggi. Menurut Durkheim, kuatnya solidaritas ini ditandai oleh pentingnya hokum yang bersifat memulihkan dari pada yang bersifat refresif. Dalam solidaritas organic memberikan ruang otonomi bagi individu sehingga membuat individu menjadi terpisah dari ikatan sosialnya. Namun, bagi slidaritas organik bahwa kesadaran kolektif menjadi penting ketika dalam kelompok kerja dan profesi, karena memiliki keseragaman kepentingan. Perbedaan antara Solidaritas Mekanik dan Solidaritas organik a. Soidaritas Mekanik  Pembagian kerja rendah  Kesadaran kolektif kuat  Hukum referesif dominan  Individualitas rendah  Konsesus terhadap pola-pola normatif itu penting  Keterlibatan komunitas dalam menghukum orang yang menyimpang  Saling ketergantungan rendah  Bersifat primitive atau pedesaan b. Solidaritas organik  Pembagian kerja tinggi  Kesadaran kolektif lemah  Hukum restitutif dominan  Individualitas tinggi  Consensus pada nilai-nilai abstrak itu penting  Badan-badan control social yang menghukum orang yang menyimpang  Saling ketergantungan yang tinggi  Bersifat industrial-perkotaan Dalam bukunya The Elementary Forms of Religious Life (Bentuk-bentuk Dasar Kehidupan Religi) Durkheim membahas masyarakat primitif untuk menemukan akar agama. Durkheim yakin melalui masyarakat primitive ia akan dapat menemukan akar agama dari pada lewat masyarakat modern. Temuannya adalah bahwa sumber agama adalah sumber agama adalah masyarakat itu sendiri. Masyarakatlah yang menentukan bahwa sesuatu itu bersifat sacral dan yang lainnya bersifat Profan, khususnya dalam kasus yang disebut totemisme. Dalam agama primitif (Totemisme) benda-benda seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang didewakan. Selanjutnya totemisme dilihat sebagai tipe khusus fakta sosial non material, sebagai bentuk kesadaran kolektif. Durkheim menyimpulkan bahwa masyarakat dan agama adalah satu sama. Agama sesungguhnya adalah masalah social. Dan juga ia meyakini bahwa agama adalah hal paling primitive dari segala fenomena social. Integrasi Sosial dan Angka Bunuh Diri (Suicide) Durkheim memandang bunuh diri sebagai fakta social bukan individu. Proposisi dasar yang digunakan dalam bunuh diri adalah bahwa angka bunuh diri bebeda-beda menurut tingkat integrasi social. Durkheim membedakan tiga tipe bunuh diri yaitu : 1) Bunuh diri egoistik Tekanan dari masyarakat luar terhadap individu dan kurangnya ikatan social yang cukup dengan kelompok social. Contohnya : Orang protestan memiliki angka bunuh diri yang lebih tinggi dari pada orang katolik, karena kepercayaan mereka mendorong individualism yang lebih besar, dan ikatan komunal dalam gereja protestan lebih rendah. 2) Bunuh diri Anomik Yaitu memiliki ikatan social yamg rendah, dan juga muncul dari tidak adanya pengaturan bagi tujuan dan aspirasi individu yang tidak terpenuhi. Dalam kondisi yang normal dan stabil keinginan individu oleh norma-norma yang sesuai dengan prinsip-prinsip moral yang umum. Nnorma-norma ini menjamin bahwa keinginan individu dan aspirasinya pada umumnay sebanding dengan alat-alat yang tersedia. Kalau norma pengatur ini tidak berdaya lagi akibatnya adalah keinginan individu tidak dapat dipenuhi lagi, keinginan ini lalu meledak diluar untuk mencapai keinginannya dan individu terus menerus mengalami frustasi. Contohnya : Krisis Ekonomi 3) Bunuh Diri Altruistik Yaitu memiliki ikatan social yang tinggi. Bunuh diri altruistik dapat merupakan salah satu hasil dari dua kondisi. Pertama, norma-norma kelompok mungkin menuntun pengorbanan kehidupan-kehidupan idividu. Contohnya : bunuh diri dikalangan pilot-pilot yang bertugas dalam angkatan udara Jepang yang bertugas selama perang Dunia II. Kedua , norma-norma kelompok itu dapat menuntut pelaksanaan tugas-tugas yang begitu berat untuk dapat dicapai sehingga individu-individu mengalami kegagalan walaupun sudah menunjukkan usaha yang paling optimal. Contohnya, Para perwira militer yang menderita kekalahan yang memiliki angka bunuh diri angka lebih tinggi dan lebih tinggi dalam kenyataannya dibandingkan dengan serdadu-serdadu bawahannya karena identifikasi mereka dengan kemiliterannya.

Komentar

Postingan Populer