Teori Kritis Sebagai Teori Emansipatoris
A. Teori
Kritis Sebagai Teori Emansipatoris
a. Teori
Tradisional
Teori
tradisional memiliki tujuan yakni membangun konsep-konsep umum mengenai semua
hal. Ini nampak dalam cita-citanya yang selalu ingin meraih a universal systematic science. Teori
tradisional bersifat netral, karena ia menyediakan diri sebagai alat yang siap
pakai untuk menganalisa secara teknis setiap hal dan keadaan termasuk
masyarakat. Kenetralan teori tradisional sejalan dengan cita-cita Descartes
(1596-1650) sebagai peritis lahirnya teori tradisional. Dasar berpijak teori
tradisional adalah ilmu pengetahuan. Ini nampak dalam filsafat Descartes yang
memakai cara kerja ilmu pasti, atau positivism yang membangun filsafatnya
dengan cara kerja ilmu alam.
Menurut
positivisme, ilmu pengetahuan mencukupi dirinya sendiri, berdikari dan bebas.
Masyarakat bisa maju dan diselamatkan asal mau tunduk pada hukum dan metodologi
ilmu pengetahuan alam. Teori tradisional bersifat netral terhadap fakta diluar
dirinya. Ia berpijak hanya pada ilmu pengetahuan dan memisahkan teori dan fakta karena
memandang fakta hanya secara lahiriah. Berdasarkan hal tersebut Horkheimer
menuduh teori tradisional sebagai teori yang bersifat ideologis[1].
Seperti berikut .
Pertama,
kenetralannya menjadi kedok pelestarian keadaan yang ada. Dengan hanya
menganalisa serta mengatur fakta secara teknis, teori tradisional tidak
bertanya kenapa realitas sampai terjadi. Dengan kata lain ia menerima dan
membenarkan realitas tersebut.
Kedua, teori
tradisional berpikir secara “ahsitori”. Teori tradisonal memutlakkan ilmu
pengetahuan sebagai satu-satunya unsur yang bisa memajukan dan menyelamatkan
masyarakat. Dengan memutlakkan ilmu pengetahuan teori tradisional melupakam
masyarakat dalam proses histori yaitu kehidupan manusia yang real yang tidak
hanya bergantung pada ilmu pengetahuan tetapi juga pelbagai sektor lain dalam
masyarakat. Dengan demikian teori tradisional secara tidak sadar telah
melakukan penipuan ideologis yang seakan hanya ilmu pengetahuan yang hanya bisa
membebaskan masyarakat.
Penipuan diri
itu makin terbongkar jika dilihat pada pandangan teori tradisional entang ego
sebagai subyek teorinya. Menurutnya ego sduah bebas dari masyarakat, padahal
kenyataannya tidak demikian. Pada tahap tiap sejarah masyarakat memiliki peran
aktif dalam diri ego, dalam tingkah lakunya, dalam cara berbicara dan adatnya
bahkan menentukan pula pengetahuan dan kesadarannya.
Ketiga, teori
tradisional memisahkan teori dan praxis. Dengan memisahkan teori dan praxis,
teori tradisional hanya berpikir teori demi teori, maka ia menjadi ideologis
karena fakta dilluar dibiarkannya begitu saja. Berarti pula ia menerima dana
membenarkan fakta dan realitas sebagai apa adanya. Ia tidak memikirkan
bagaimana teorinya dapat menghasilkan kesadaran yang bakal bisa membuahkan
tindakan untuk mempengaruhi bahkan mengubah fakta menjadi realitas.
Berdasarakan sifatnya
yang ideologis , seperti yang diterangkan dalam tiga alasan diatas, Horkheimer
menganggap bahwa teori tradisional tidak mungkin menjadi teori emansipatoris.
Sebalikanya dengan mendobrak keadaan irasional yang ada, teori tradisional yang
sifatnya ideologis melestarikam keadaaan yang ada. Dengan demikian Horkeimer
juga menunjukkan fungsi teori yakni justru dalam kenetralannya, justru dalam
keilmiahannya untuk memandang fakta secara obyektif justru dalam refleksinya
yang transendal dan luhur tentang kebebasan diam-diam teori membenarkan dan
mendukung keadaan yang ada.
b. Teori
Kritis
Horkheimer sudah
menetapkan teori kritisnya yakni memberikan kesadaran untuk membebaskan manusia
dari masyarakat irasional dan dengan demikian memberikan pula kesadaran untuk
membangun masyarakat rasional tempat manusia memuaskan semua kebutuhan dan
kemampuannya. Singkatnya, teori kritis hendak membebaskan masyarakat dari
keadaannya yang irasional jaman ini. Ia hendak menjadi teori emansipatoris.
Sifat dan ciri teori kritis yakni.
Pertama, teori kritis
curiga dan kritis terhadap masyarakat. Horkheimer berpendapat bahwa kritik
harus dilontarkan terhadap masyarakat
ekonomi dewasa ini jika teori ingin benar-benar menjadi emansipatori. Sistem masyarakat
semata-mata didasarkan pada nilai tukar. Semuanya dianggap komoditi yang hanya
mempunyai nilai tukar[2]. Maka
kritik harus dikenakan pada masyarakat yang mekanismenya siatur oleh nilai
tukar. Dalam kategori produktif misalnya teori kritis tidak bertanya bagaimana
menaikkan produksi agar manusia bisa dimajukan. Sebaliknya teori kritis malah
bertanya apakah produktivitas itu tidak perlu dipersoalkan terlebih dahulu.
Teori kritis memaklumi
bahwa individu tak bisa dipisahkan dari masyarakat. Ia percaya bahwa kepenuhan
individu dapat tercapai dalam masyarakat, juga individu dapat memperoleh
kepuasan kalau ia menjalankan tugasnya dalam masyarakat. Tapi dilain pihak
berhadapan dengan masyarakat dewasa ini teori kritis sungguh-sungguh tidak
percaya terhadap segala macam kaidah dan peraturan yag dilaksanakan masyarakat.
Kaidah dan penipuan itu ternyata suatu penipuan ideologis. Kepennuhan
eksistensi individu hanya digambarkan sebagai sesuatu yang luhur sedangkan
sebenarnya tidak ada karena kenyataannya individu justru diperbudak dan
berinteraksi secara ilmiah dalam masyarakat yang ditentukan oleh pembagian
kerja dan penggolongan kelas dimana kelas penguasa yang berhak menentukan
tujuan individu.
Kedua, eori kritis
berpikir secara historis. Teori kritis berpijak pada masyarakat dalam prosesnya
yang historis, jadi masyarakat dalam totalitasnya. Totalitas itu harus
dimengerti sebagai perkembangan masyarakat secara keseluruhan dalam prosesnya
yang historis. Maka ia mampu berpikir secara real, yakni memakai totalitas
sebagai kerangka berpikir, yang dimaksudnya tak lain tak bukan adalah berpikir
dalam kontradiksi. Dengan sendirinya ia tidak pernah memutlakkan salah satu
unsur dalam totalitas itu. Pandangannya tentang ego bersifat matrealistis,
yakni ego yang terikat pada masyarakat. Hasilnya adalah ego yang historis, ego
yang tidak berkhayalan dirinya sudah bebas tapi ego yang berkonflik dengan
dirinya sendiri karena merasa menjadi bagian dari masyarakat yang masih berada
dalam kontradiksi. Konflik itu akan hilang apabila kontradiksi masyarakat sudah
hilang.
Ketiga, teori kritis
tidak memisahkan teori dan praxis. Teori kritis menganggap bahwa realitas
obyektif itu adalah produk yang berada dalam control subyek. Control itu
dijalankan sedemikian rupa sehingga sekurang-kurangnya di masa depan realitas
akan kehilangan ciri faktualitasnya semata-mata, artinya realitas tidak berdiri sebagai sekedar fakta belaka,
melainkan fakta yang sudah dipengaruhi subyek. Jadi bagi teori kritis teori itu
bukan demi teori, teori itu harus bisa memberikan kesdaran untuk mengubah realitas
teori kritis, tidak memisahkan teori dan praxis.
[1]Arti ideologis disini
dipakai hubungan dengan kritik ideology karl Marx. Bahwa apapun wujudnya selalu
ingin menerima dan membenarkan suatu kenyataan.
[2] Tentang nilai tukar
dan komoditi.lih. penjelasan Marx bab 1 buku ini hal 46-48
Komentar
Posting Komentar