Munajad Cinta

Munajad Cinta
Oleh : Eviyana Utami

“Cinta ini bukan hanya tentang aku dan kamu tapi tentang aku, kamu, Dia dan mereka”
Fajar baru saja menyingsang. Baru terbangun dari sang pelukan malam. Kini ia kembali melaksanakan amanah yang diberikan kepadanya.  Memberikan kehangatan pada penduduk pribumi. Menyinari setiap yang terlihat olehnya. Seorang gadis bertubuh tinggi melangkah menuju sebuah ruangan yang terletak dipinggir dedaunan. Aroma segar dedaunan masih hangat tercium. Memberikan kenikmatan bagi yang menghirupnya. Gadis itu membawa sebuah kertas putih polos dan sebuah tinta hitam. ia mulai mengambil tempat disebuah pojok pada ruangan. Tangannya mulai menari-nari diatas kertas putih. Sejenak ia terhenti untuk melihat hamparan dedaunan yang ada didepannya kemudian mencoret-coret kertas itu kembali.
“Urwa,, Urwa,,” terdengar suara samar-samar yang menghentikan tangannya.
“Urwa,, kamu dimana ?” suara itu kembali terdengar kali ini lebih jelas. Ia tertegun sejenak meratapi tulisannya.
“Urwa,, Astagfirullah dari tadi Ibu memanggilmu” ucap perempuan paruh baya yang memakai daster warna cokelat dibalut dengan jilbab berwarna peach yang melingkar dikepalanya.
“Maaf ibu ,, Urwa sedang menulis tadi” jawabnya sembari menundukkan kepalanya.
“tidak mengapa nak, mari ikut ibu ke dapur,, hari ini ayahmu akan pulang” ujar ibu Aminah sembari memegang kepala putri tunggalnya.
“Alhamdulillah bu. Urwa sangat senang ayah pulang”.
Seberkas garis senyuman merekah diwajah mereka. Terdengar beberapa kali kalimat syukur yang diungkapkan mereka.
Kedatangan Hidayat disambut hangat oleh kedua perempuan berjilabab itu. Ia memeluk kedua perempuan itu dengan hangat. Tak hentinya pula ia mengucap rasa syukur. Setelah melaksanakan Ibdah Unrah kini pak Hidayat kembali berkumpul  ersama keluarga kecilnya.
“Ayah bagaimana suasana Mekkah? Indahkah ayah ?”
Laki-laki itu tersenyum manis melihat pertanyaan putri semata wayangnya.
“Ayah kok senyum aja sih, pertanyaan Urwa kenapa tidak dijawab?” ucapnya polos
“Nak, Mekkah adalah kota yang sangat Indah, Kota yang tenang. Kota yang selalu diselimuti dengan limpahan berkah serta Rahmat-Nya, Mekkah adalah kota yang sangat menenangkan hati. Setiap saatnya selalu terdengar kalimat Allah.”
“Ayah,, Urwa ingin sekali pergi kesana”
“Pergilah nak, tapi jangan sendiri, Pergilah dengan suamimu kelak”
Gadis itu tertegun mendengar ucapan ayahnya. Sejenak suasana terasa hening. Hanya terdengar tiupan angin yang masuk melalui celah jendela yang masih terbuka dan beberapa suara jangkrik yang memang masih terdengar. Aminah datang dengan membawa nampan berisikan beberapa makanan serta minuman yang menjadi kesukaan suami dan anaknya.
Matahari masih tertidur dalam pangkuan sang malam. Namun lantunan suara azan sudah terdengar dari berbagai sudut desa. Urwa dan ibunya sudah terbangun dan mengambil air wudhu. Sementara ayahnya sudah sedari tadi meninggalkan ruah menuju masjid yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Usai menunaikan sahalat sunnah dan shalat fardhu kedua perempuan ini kemudian melanjutkan dengan membaca  beberapa surat yang terdapat dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Mereka tampak khusyuk melantunkan kalimat-kalimat suci dalam Al-Qur’an tanpa menyadari Hidayat sudah duduk diantara mereka berdua dengan wajah yang tersendu-sendu. Selesai mendengarkan perempuan itu malafazkan ayat-ayat Al-Qur’an Hidayat memeluknya dengan erat dengan penuh kasih sayang sambil beberapa kali terdengar kalimat uacapan syukur yang dipanjatkan.
Fajar mulai menyingsang dari peraduannya. Urwa menuju kedalam sebuah ruangan untuk mengambil bebrapa buku yang kemudian dimasukan kedalam tasnya. Kali ini langkahnya dipercepat. Hidayat dan Aminah yang meilihat tingkah laku anaknya menjadi terheran-heran.
“Pelan-pelan nak” ucap Ibu Aminah
“Urwa buru-buru bu” ucapnya sambil mengenakan Flatshoes berwarna putih yang biasa digunakannya.
“Kau mau kemana nak masih pagi seperti ini?” kali ini ayahnya yang kembali bertanya.
“Urwa hari ini ada kajian ayah di masjid Al-Muttaqin di desa sebelah”
“kamu pergi dengan siapa nak?”
“Urwa pergi sama Nurul bu,, Ayah ibu Urwa berangkat dulu takut telat”
“hati-hati nak jangan lari-lari”
“baik bu” Ucap gadis itu sambil mencium tangan ayah dan ibunya. Gadis itu kemudian pergi meninggalkan ayah dan ibunya yang masih duduk menikmati kehangatan fajar.
“Bu,, Semalam pak Zaid menelpon beliau meminta untuk bertemu ayah hari ini” ucapnya sembari meminum kopi hitam yang masih terasa hangat tenggorokan.
“Pak Zaid sahabat ayah yang tempo hari mengantar ayah ?”
“Tepat sekali bu,, katanya ada sesuatu yang ingin dibicarakan”
“Temui beliu ayah, beliau orang yang sangat baik terutama pada keluarga kita”
“Tentu bu,, tak enak juga menolak ajakan beliau”.
Lantunan shalawat sudah mulai terdengar jauh dari masjid. Para jama’ah sudah berlalu lalang memasuki tempat suci yang selalu dijadikan tempat untuk menunaikan ibadah oleh umat islam. Didalamnya sudah terlihat para jamaah yang sudah menempati tempat duduk dengan menggunakan jilbab. Terlihat beberapa anak kecil turut meramaikan kajian tersebut.
            Nurul dan Urwa menempati sebuah posisi di sebelah kanan didekat tirai yang memisahkan antara jama’ah laki-laki dan perempuan. Acarapun dimulai, semua jamaah mengikuti dengan khidmat. Berkali-kali terdengar suara takbir dan lantunan shalawat yang sangat menyejukkan hati.
“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh” Terdengar suara laki-laki paruh baya.
“Wa’alaikumussalam Warahmatullahi wabarokatuh” terdengar suara serentak dijawab oleh jamaah yang ada di masjid tersebut.
Seorang Ustadz kemudian memulai mukaddimah disertai dengan pujian-pujian kepada Allah subhanahu wata’ala dan RasulullahSawlallahu’alaihi wasallam.
“Bapak-bapak , ibu-ibu, serta adik-adik yang di Rahmati Allah. Alhamdulillah Allah memberikan kemudahan pada langkah kita untuk sama-sama membariskan Shaf pada kajian di pagi hari yang penuh berkah ini. Alhamdulillah pada kesempatan kali ini kita kedatangan seorang pemuda yang InsyaAllah baik agamanya. Ia baru saja menyelesaikan pendidikannnya di Yaman. Dia adalah ananda Furqon yang kali ini akan memberikan tausiah langsung kepada kita.
Lelaki berparas tampan dengan kulit putih bersih itu memperkenalkan dirinya dengan sopan. Ia kemudian melanjutkan dengan menceritakan pengalaman hidupnya selama berada di negara rantauan serta ilmu yang didapatkannya di Negara yang telah membekalinya dengan Ilmu agama tersebut. Kehadiran Furqon mampu menyedot perhatian jama’ah terutama jamaah akhwat. Tak henti mereka memberikan pujian kepada ustadz muda itu.
“Aduhh ganteng banget ya, sholeh pula,, Calon imam idaman banget” ucap seorang jamaah putri
“Iya bener, mana pinter lagi,, kalau di lamar dia aku mah nggak nolak” balas jamaah putri lainnya
kini ustadz itu mengakhrinya dengan mengucap salam. Para jamaah kemudian berhamburan keluar meninggalkan masjid. Tak terkecuali Nurul dan Urwa yang sedari tadi sudah mengambil ancang-ancang. Namun saat hendak meninggalkan masjid ustadz Arif memanggil Nurul dan Urwa.
“Assalamu’alaikum Nurul”
“MasyaAllah Urwa ustadz Arif memanggil aku ada apa ya”
“Udah samperin aja siapa tahu kamu dijodohkan sama Furqon” ejek Urwa sambil mendorong tubuh sahabatnya itu.
“Wa’alaikumussalam Ustadz ada apa ya?”
“Tolong nanti kamu umumkan pada jamaah putri di pondok untuk mengikuti kajian nanti malam di Masjid pondok”
“baik Ustadz”
“Urwa,, saya dengar bapakmu sudah pulang?”
“Alhamdulillah sudah Ustadz kemarin”
“Alhamdulillah,, sampaikan salam saya untuk bapakmu nak,, serta samaikan juga agar beliau menyempatkan diri untuk menghadiri kajian nanti malam”
“InsyaAllah ustadz akan saya sampaikan”
Tak sengaja mata Urwa mengarah kearah Furqon. Tanpa disadari Furqon juga melemparkan pandangan kearah Urwa sehingga mereka saling tatap dalam beberapa saat. Sehingga menimbulkan rasa diantara mereka berdua.
“Astagfirullah”Ucap Furqon dalam hati
Ia kembali menundukkan pandangannya. Begitu juga dengan Urwa yang sadar bahwa seharusnya ia tak boleh bertatap pandang dengan orang yang bukan Mahromnya.
Urwa dan Nurul pun meninggalkan ustadz Arif dan Furqon yang tengah berdiri. Namun sesekali Furqon melemparkan pandangan kearah Urwa yang sudah jauh melangkah meninggalkannya sehingga tanpa sadar ustadz Arif menepuk lengannya.
“Sudah jangan diliat begitu dosa” ucap Ustadz Arif sambil tersenyum
“Astagfirullah tidak Ustadz”
Seolah mengerti dengan suasana hati anak didiknya ustadz Arif kemudian menceritakan tentang Urwa dan keluarganya. Furqon hanya diam menyimak paparan yang dijelaskan oleh ustadz Arif sesekali ia melemparkan senyuman. Ada rasa bahagia yang menyelam dalam hatinya ketika mendengar cerita tentang Urwa dan keluarganya. Ia kemudian diam-diam memendam perasaan terhadap Urwa. Mungkin untuk pertama kalinya ia merasakan hal ini dalam hidupnya. Ustadz Arif memang sangat peka dengan anak didiknya itu. Ia kemudian memberikan saran kepada anak didiknya untuk segera melamar Urwa.
“Apa harus secepat itu ustadz sedangkan saya baru bertemu dengannya Cuma sekali”
“Suatu niat baik janganlah ditunda, apalagi nanda sama dia sudah sama-sama dewasa. menurutku sudah saatnya untuk membina rumah tangga”
Furqon hanya bisa terdiam dan menunduk mendengar pernyataan ustadznya. Dalam hati ia sangat bahagia mendengar ucapan Ustadz Arif.
“Segeralah menemui orangtuanya” ucap ustadz Arif tersenyum sembari memegang bahu anak didiknya.
Furqon hanya membalas dengan senyuman. Ia masih tidak percaya tentang apa yang dirasakannya saat ini.
Disebuah ruang kosong pak Hidayat dan bu Aminah tengah duduk sembari menikmati sebuah teh hangat. Sesekali mereka memberikan suara tawa keecil. Dibalik pintu seorang gadis datang dengan membawa tas putih dan sepatu putih yang agak kucek yang dikenakannya tadi”
“Assalamu’alaikum” ucapnya sembari mencium tangan kedua orangtuanyya.
“Wa’alaikumussalam” kedua orangtuanya menjawab dengan serempak.
“Ayah tadi Urwa ketemu dengan Utadz Arif. Beliau memberikan amanah kepada Urwa untuk menyampaikan salam serta undangan krpada bapak untuk menghadiri kajian nanti malam di masjid pondok pesantren Nurul Huda”.
“’Alaika’Alaihissalam,, InsyaAllah nanti malam ayah akan datang”
Urwa kemudian meninggalkan ayah dan ibunya yang masih asyik berbincang.
“Ayah kita beritahu saja Urwa sekarang” Ucap Aminah dengan sangat gembira
“jangan bu,, biar besok saja, sekalian Ia akan melihat calon suaminya”
“Ibu masih belum menyangka ternyata maksud dan tujuan dari pak Zaid adalah untuk meminang putri kita untuk anaknya”.
“ayah juga msih belum menyangka bu,, terlebih lagi anaknya adalah putra yang sangat soleh, berpendidikan”
“Alhamdulillah pak”
Malam datang dengan begitu cepatnya. Senja mulai menenggelamkan diri pada peraduan malam. Angin masuk melalui celah-celah jendela. Suasana terasa sangat sejuk dan nyaman. Urwa duduk disebuah kursi kecil di pojok sebuah tempat dikamarnya. Ia mulai menyalakan lampu yang terletak diatas meja belajarnya. Tangannya mulai menari-nari diatas kertas putih. Ia menuliskan beberapa bait kata tentang apa yang ia rasakan saat ini. Ada sedikit rasa sakit dan ada juga sedikit rasa bahagia yang ia rasakan saat ini.
Kuberi nama Ia Rindu . Datang dengan tiba-tiba.menyelinap melalui dinding hati. Ia datang dengan begitu cepat tanpa memberitahu. Ini adalah rasa baru yang datang dalam kehidupan. Rasa yang belum pernah kurasakan pada seseorang yang baru kukenal. Kuberi nama Ia rindu karena dia berhasil mencuri pandanganku, mencuri perhatianku dan masuk dalam relung hatiku. Beberapa bait kalimat yang dituliskan Urwa.
Kajian malam berlangsung dengan sangak khidmat. Ustadz Arif yang bersanding dengan Furqon memberikan ceramah yang snagat menarik kepada para jamaah yang hadir. Sehingga menuai banyak pujian dari para jamaah yang kagum atas apa yang disampaikan oleh kedua ustadz itu. Terutama pak Hidayat yang sangat kagum dengan laki-laki muda nan soleh itu dalam menyampaikan ceramah sangat elegan dan mampu menyentuh hati. Sesudah kajian malam berlangsung pak Hidayat menemui ustadz Arif sambil memberikan pelukan hangat. Ia juga memberikan pelukan kepada Furqon yang sedari tadi sudah membuatnya terkagum-kagum dengan pemuda tampan itu.
“MasyaAllah saya sungguh kagum dengan nanda,, nanda benar-benar luar biasa,, sehingga membuat mata saya berkaca-kaca”
“MasyaAllah pak,, sungguh semuanya datang dari Allah saya hanya memiliki tugas menyampaikan saja”balasnya santun
Pak Hidayat kemudian memeluk furqon dengan erat. Dalam hatinya ada sesuatu pengharapan kepada pemuda. Pak hidayat kemudian berlalu meninggalkan kedua ustadz tersebut.
“itu adalah ayahnya Urwa,, besok kau datang kerumahnya dan segera untuk mengkhitbah anaknya” Ucap ustadz Arif sembari tersenyum kepada Furqon
“InsyaAllah ustadz akan saya lakukan”
Sebuah ruangan dihias dengan sedemikian rupa. Beberapa pot bunga ditata dengan rapi pada setiap pojok ruangan sehingga menimbulkan kesan yang elegan dan sangat indah dipandang mata. Beberapa orang kemudian sibuk membersihkan ruangan tersebut. Sementara disebuah ruangan yang terletak agak jauh dari ruangan itu seorang perempuan paruh baya tengah asik mempersiapkan sajian makanan. Tak lupa ia mencicipi beberapa makanan agar tak ada satu masakanpun yang tidak enak. Seorang gadis memasuki ruangan tersebut dengan penuh rasa heran. Ia memandangi setiap pojok ruangan dengan tatapan penuh dengan tanda tanya. Ia kemudian menanyakan kepada beberap orang yang ditemuinya namun syang tidak ada dari mereka yang memberikan respon atas pertanyaannya. Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan yang terletak agak jauh dari ruangan tadi. Ia mendapati seorang peremuan tengah sibuk mempersiapkan makanannya.
“Bu diluar ada apa ya”
“Astagfirullah nak,, kamu mengagetkan Ibu”
“Maaf bu,, tapi Urwa heran saja bu”
“Segera siap-siap nak karena hari ini kita akan kedatangan tamu penting”
            Urwa pun meninggalkan ibunya yang masih sibuk mengurus masakannya. Ia hanya menuruti apa yang dikatakan ibunya tanpa berani berkomentar apapun.
Matahari sudah mulai masuk dalam pelukan sang malam. Kini yang terlihat hanya cahaya rembulan yang menerangi gelapnya malam. Ditambah dengan tiupan angin yang menambah indah suasana malam ini. Seorang pemuda melangkahkan kaki menuju sebuah rumah yang terletak dipinggir sebuah jalan kecil yang dihimpit dengan hamparan dedaunan yang tak terklihat oleh gelapnya malam. Rumah tersebut terlihat sepi. Hanya suara tiupan angin yang terdengar dari jauh.
Pemuda itu mengetuk pintu dengan sopan sembari mengucapkan salam namun tak kunjung ada jawaban dari pemilik rumah. Ia pun kembali mengetuk pintu untuk kedua kalinya namun tak kunjung ada jawaban. iapun berniat untuk pergi. Namun dari balik pintu terdengar suara seorang perempuan menjawab salam dan membukakakn pintu. Perempuan itu memandangi pemuda itu dengan penuh tanya. Ia sebelumnya tak pernah menerima tamu semuda itu.
“Mohon maaf nak ingin menemui siapa?”
“Mohon Maaf bu nama saya Furqon, saya anak didik Ustadz Arif”
Betapa kagetnya perempuan itu mendengar pernyataan pemuda itu. Ia tak menyangka rumahnya akan didatangi oleh ustadz muda yang sering diperbincangkan oleh warga desa.
“MasyaAllah nak,, ya Allah mari masuk nak,, pak pak ya Allah nak mari masuk”
“Terimakasih bu” ucap Furqon sembari menerima ajakan dari perempuan itu.
Merekapun memasuki sebuah ruangan yang ditata dengan indah. Beberapa makanan sudah tersedia di meja makan. Serta terlihat beberapa orang tengah berada dalam ruangan tersebut.
“MasyaAllah nanda Furqon,, bapak tidak menyangka nanda mau berkunjung ke rumah sederhana ini” ucap pak hidayat sembari memeluk pemuda tersebut.
“Maaf sebelumnya pak jika saya lancang berkunjung tanpa memberitahu pak Hidayat sebelumnya” ucapnya
“tidak apa-apa nak ,, saya merasa terhormat ataskedatangan nanda. Mari silahkan duduk,, kebetulan kami sedang ada acara kecil-kecilan.”
Seorang gadis kemudian keluar dari dalam sebuah ruangan. Ia terlihat cantik dengan gamis berwarna pink yang dikenakannya dibalut dengan jilbab berwarna serupa sehingga menambah kecantikannya. Perempuan itu melempar pandangan kearah Furqon dan ia masih saja merasakan ada getaran aneh yang menyelimuti hatinya. begitu juga dengan Furqon. Ia tahu kali ini rindunya sudah terbalas dengan pertemuannya dengan Urwa. Pak Hidayat kemudian memperkenalkan Furqon kepada pak zaid dan keluarganya. Betapa terkejutnya Furqon ketika pak Hidayat memperkanalkan seseorang pemuda bernama Fatih yang akan menjadi calon Imam bagi Urwa. Hatinya bak terhambar petir. Ada duri yang begitu tajam yang menusuk pada hati yang paling dalam. Nafasnya seolah terhenti mendengar ucapan pak Hidayat. Ia kemudian menunduk. Butiran kecil mengalir dari matanya. Ia berusaha untuk mengusap agar tak seorangpun tahu pedih hati yang dirasakannya. Urwa yang mendengar pernytaan ayahnya pun tertunduk. Ia tak menyangka ayahnya akan menikahkan dia dengan pemuda anak sahabatnya. Tak jauh dari beda dari apa yang dirasakan oleh Furqon. Urwa tertunduk. Napasnya terasa sesak. Ia hanya terdiam selama selama acar berlangsung. Makanan tidak ada yang masuk dalam tubuhnya. Semua terasa hambar. Ia diam-diam melirik kearah Furqon yang sedari tadi hanya terdiam. Ia tahu maksud dari pemuda itu mendatangi rumahnya. Ia dapat membaca dengan jelas kekecewaan yang tergambar dari raut wajah pemuda itu. Namun ia tak dapat berbuat banyak. Apa yang sudah dibuat oleh ayahnya tak mampu dia bantah. Ia tak mau dicap sebagai anak durhaka.
            Hari-hari terasa begitu hampa. Seperti tak lagi ada kehidupan. Ia sudah mengetahui bahwa ia tak dapat memiliki laki-laki yang dicintai. Disepertiga malam ia menunaikan shalat malam dan menadahkan tangan memohon petunjuk dan ketenangan hati kepada sang ilahi.
“Ya Allah,, hamba tahu semua ini adalah garis yang sudah Engkau tentukan. Hamba memohon ampun wahai Robb ku yang telah menaruh harapan selain kepada-Mu. Sehingga Kau limpahkan rasa kecewa yang teramat dalam. Wahai Robb-ku sesungguhnya jika Engkau tidak memberikan takdir atas Cintaku dan cintanya maka hilangkanlah rasa ini. Jangan Engkau berikan perasaan yang dapat menyakiti hati kami”
Linangan air mata mengali deras diwajahnya. Ia tahu kini hatinya sakit.bukan karena cinta tak berbalas namun karena takdir belum memihaknya.
Pagi sekali, sebelum fajar terbit dari peraduannya. Nurul sudah berada didepan rumah Urwa. Ia mengetuk pintu dan mengucap slaam seperti biasa. Ia kemudian masuk kedalam kamar urwa. Ia mendapati sahabatnya itu tengah duduk termenung menghadap jendela. Ia melihat menatap mata sahabatnya. Ada luka yang sedang ia sembunyikan. Ia kemudian memluk erat sahabatnya. Tak kuasa melihat sakit yang diderita sahabatnya.
“Aku tahu saat ini kamu tengah terluka. Aku tahu semuanya. Malam itu aku bertemu dengan Furqon. Ia sedang menagis dihadapan ustadz Arif. Ia menceritakan semuanya dan tak sengaja aku mendengarnya. Aku tak menyangka bahwa kalian saling mencintai dan ia hendak mengkhitbahmu. Namun sayang ia sudah didahului oleh orang lain” ucapnya sambil mmeluk sahabatnya.
“Nurul,, sungguh aku tak pernah merasakan rasa sakit seperti ini. Untuk pertama kalinya dalam hidupku. Seorang laki-laki masuk dan mengetuk pintu hati yang telah kujaga. Ia mengetuknya dengan lembut. Ia dekati sang pencipta hati. Namun takdir memihak pada yang lain”
“Sabarlah sahabatku. Yakinlah semuanya sudah diatur oleh Allah. Do’akan terus. Bermunajadlah pada sang Pencipta. Minta yang terbaik pada-Nya. Ingatlah bahwa apa yang terjadi pada dirimu saat ini adalah rencana-Nya yang paling baik untukmu kedepannya”.
Urwa menatap sahabatnya dalam-dalam. Ia kemudian mengambil sebuah kertas yang kemudian dicoret-coretnya. Kemudian ia memberikan kertas itu kepada Nurul.
“Tolong sampaikan surat ini kepadanya Nurul. Didalamnya dalah ungkapan hatiku untuknya”.
“Baik akan saya sampaikan”
Nurul kemudian berlalu meninggalkan Urwa yang tengah duduk termenung. Perlahan bayangnya mulai hilang. Nurul kemudian menemui Furqon yang tengah berada di masjid. Ia bersama dengan santri yang lain. Kemudian ia memberikan secarik kertas tak bernyawa yang dititipkan Urwa untuknya. Ia pun berlalu meninggalkan Furqon yang tengah tertegun membaca isi surat yang tuliskan untuknya.
Teruntuk Akhy Furqon,,
Assalamu’alaikum Akhy Furqon.. engkau tahu tentunya tentang cinta. Cinta adalah suatu hal yang fitrah yang dimiliki oleh setiap insan. Cinta diberikan kepada hati manusia untuk merasakan kasih sayang. Maaf sebelumnya, aku mengetahui kedatanganmu malam itu adalah untuk mengkhitbahku untuk menjadi calon makmum mu,, tapi maaf aku sudah terlebih dahulu di khitbah oleh pemuda lain. Ia adalah pilihan ayahku. Itu adalah diluar kuasaku. Maaf wahai akhy,, aku menaruh harapan padamu, aku menyebutmu dengan kata rindu,. Karena akhy adalah laki-laki yang pertama kali mengetuk pintu hati yang telah lama kujaga. Maaf,, jika aku mencintaimu. Tapi apa yang terjaadi pada kita saat ini adalah sesuatu yang telah Allah takdirkan untuk kita. Karena cinta tidak hanya tentang kita, tapi ada Dia yang Maha Cinta dan mereka Orangtua kita.
Wassalam,, Urwatil Wustqo
Tanpa sadar air matanya mengalir. Berkali-kali ia mengucap asmaAllah untuk menguatkan hatinya. “Ya Allah semua atas takdirMu. Hamba serahkan semuanya pada-Mu” bisiknya dalam hati. Ia kemudian menulis pada sebuah kertas kosong yang dikantonginya. Ia menulis beberapa kalimat dalam kertas tersebut. Kemudian ia menemui Nurul yang tengah membaca di sebuah kursi yang berada disamping ruangan perpustakaan. Ia kemudian menghampiri Nurul dan memberikan kertas yang dituliskannya. Serta sebuah Al-Qur’an kecil yang Ia tulis dengan tangannya sendiri. Nurul kemudian melangkahkan kakinya menuju rumah Urwa yang terletak lumayan jauh dari Pondok pesantrennya. Disana ia mendapati rumah tengah ramai. dan seorang pemuda berparas tampan tengah duduk bersama kedua orang taunya serta pak Hidayat dan bu Aminah yang turut menemani. Ia mendegar tentang rencana pernikahan yang akan berlangsung dalam waktu dekat ini. Fatih kemudian melihat ke beberapa arah disudut ruangan seperti tengah mencari-cari sesuatu. Namun ia tahu apa yang dicarinya sedang tidak ada dihadapannya.
“Urwa sedang di kamarnya nak Fatih” ucap bu Aminah seolah mengerti apa yang sedang dicari oleh calon menantunya itu.
“Astagfirullah maafkan Fatih bu, seharusnya belum saatnya untuk Fatih” ucapnya
Seisi ruangan tertawa dibuatnya. Fatih adalah laki-laki yang berpendidikan. Ia sudah menamatkan S2 nya disalah satu universitas di Inggris. Meskipun tinggal dengan masyarakat yang notabenya non muslim namun Ia tetap mempertahankan Agamanya dan tak pernah meninggalkan kewajiban dan sunnah. Hal ini yang membuat pak Hidayat sangat tersentuh dengan pemuda tampan ini. Terlebih dia adalah pemuda yang sopan dan juga bersahaja yang tentunya menjadi calon imam idaman.
Nurul kemudian masuk kedalam kamar Urwa. Ia mendapati Urwa tengah membaca sebuah Novel karya Habiburrahman yang berjudul Ayat-Ayat Cinta. Nurul kemudian memberikan sepucuk surat yang dtitipkan untuk nya dan juga memberikan Al-Qur’an kecil.
“Assalamu’alaikum Ukhty ,,
Aku sudah menerima surat yang engaku kirimkan untukku. Terimaksih untuk rasa cinta yang ukhty berikan untukku. Terimaksih untuk setiap kata indah yang sangat membekas dihatiku. Ukhty,, aku mengetahui aku trelambat dalam menjemputmu sebagai calon makmumku,, InsyaAllah aku Ikhlas dengan apa yang sudah Allah takdirkan untuk kita. Semua yang terjadi adlah bentuk takdir Allah untuk kita. Rasa sakit yang kita rasakan saat  ini adalah bentuk teguran dari Allah bahwa tidak ada tempat berharap selain kepada-Nya. Allah cemburu karena cintaNya telah kita bagi..  Ukhty,, aku percaya Allah mengirimkan Akhy Fatih untukmu karena dia adalah laki-laki yang terbaik untukmu.. ku hadiahkan Al-Qur’an kecil untuk hadiah pernikahan kalian berdua,, Do’aku semoga kalian berjodoh hingga maut memisahkan kalian, Aamiin
Wassalam,, Umar Al-Furqon
Tak kuasa Urwa menitikkan air matanya. Ia menangis dalam pelukan sahabatnya. Apa yang disampaikan oleh Furqon memang benar. Segala sesuatu yang telah terjadi memang sudah digariskan oleh Allah. Kini Ia hanya perlu menikmati skenario yang telah Allah berikan untuknya. Setiap malam dalam shalatnya ia hanya meminta petunjuk dari Allah. Ia hanya terus bermunajad memohon Ridho Allah.
            Menjelang pernikahan Fatih menemui Urwa yang tengah duduk disebuah kursi kosong yang terletak disamping hamparan dedaunan. Ia menghampiri Urwa hanya untuk bercengkaram mendekatkan diri dan hatinya. Ia melihat pada mata perempuan yangakan menjadi makmumnya itu. Terdapat kesedihan yang ia sembunyikan. Ia dapat membaca dengan jelas bahwa ia menangis bukan karena bahagia namun karena rasa sedih yang berkecamuk dalam hatinya.
“Apa gerangan yang membuat ukty sedih? Adakah ukty tertekan dengan rencana pernikahan kita” ucapnya pelan.
“tidak akhy,, bukankah ini semua sudah digariskan Allah. Engaku laki-laki yang telah orangtua pilihkan untukku,,
“Apakah aku termasuk pilihan hatimu”
Urwa hanya terdiam mendengar ucapan Fatih. Disatu sisi ia merasa telah menganiaya hati pemuda yang baik hati ini. Tak seharusnya ia bersikap demikian pada laki-laki yang akan menjadi imamnya itu.
“Cinta itu datang dari hati bukan dari Pikiran kita. Sejatinya cinta itu membahagiakan bukan menyakitkan” Fatih tersenyum kemudian meninggalkan Urwa yang tengah tertegun.
berbagai hal sudah dipersiapkan. Urwa tampak cantik dengan mengenakan Gaun Putih dibalut dengan renda-renda dipinggirnya. Sementara Fatih tampak gagah dengan mengenakan Kemeja putih polos. Fatih kemudian memasuki ruanganpada sebuah masjid yang telah disediakan. Furqon dan Ustadz Arif datang sebagai saksi pernikahan. Sebelum akad dimulai para tamu berbincang. Fatih menemui Furqon dan Ustadz Arif yang tengah berbincang. Faith dengan sopan memperkenalkan dirinya kepada dua ustadz tersebut. Fatih kemudian meminta waktu Furqon untuk berbicara.
“Maaf akhy,, hari ini adalah hari pernikahanku dengan ukhty Urwa,, Akhy bolehkan saya bertanya sesuatu?” ucapnya
Furqon terheran mendengar pernyataan yang diucapkan Fatih.
“Mohon maaf akhy ingin bertanya apa?”
“Bagaimana perasaanmu terhadap Urwa?”
“Maaf akhy saya tidak mengerti..”
“Aku mengetahuinya akhy,, sejak pertama kali kita berjabat tangan dan sejak pak Hidayat memperjenalkanku sebagai calon menantunya. Maaf akhy,, aku sekarang mengerti arsa sakit yang engkau rasakan. tatapan Urwa adalah rasa sakit yang dia goreskan atas pernikahan ini. Aku tidak ingin menikah tanpa atas dasar rasa cinta akhy. Aku tidak ingin menjadi duri diantara kalian.aku sadar bukan aku laki-laki yang Allah takdirkan untuk Urwa namun akhylah laki-laki itu”
Furqon hanya terdiam mendengar pernyataan yang disampaikan oleh Fatih. Ia tak dapat berkata apapun. Ia hanya tertunduk. Hingga pak Hidayat memanggil Fatih untuk melangsungkan akad pernikahan. Namun betapa terkejutnya ketika Fatih menolak untuk menikahi Urwa perempuan yang dicintainya. Semua undangan dan juga orangtuanya merasa terheran dengan apa yang tengah dilakukan oleh Fatih. Sementara Urwa yang didampingi oleh Nurul merasa lega atas apa yang disampaikan oleh Fatih. Namun disisi lain ia merasa bersalah atas sikap yang dilakukan Fatih. Kemudian Fatih memberikan kejelasan atas tindakannya.
“Ayah Ibu, Ayahanda Hidayat, Bunda Aminah,, Sebelumnya Fatih minta maaf atas apa yang sedang Fatih lakukan. Jujur bukan Fatih tidak ingin menjalankan sunnah Rasul tapi Fatih tidak bisa menikah tanpa didasari atas dasar cinta. Ayah Ibu, Ayahanda Hidayat, Bunda Aminah Mohon maaf,, laki-laki yang ditakdirkan untuk Urwa bukanlah Fatih tapi orang lain.laki-laki yang sungguh Allah berikan kepdanya rasa taat yang luar biasa, pengetahuan agama yang luar biasa. Fatih tidak bisa menggantikan itu”.
“Apa maksudnya akhy” Ucap Urwa
“ukhty,, laki laki yang ku maksud adalah dia Furqon. Kalian saling mencintai dan Fatih Ikhlas karena memang ini yang sudah digariskan Allah”
“nanda Furqon jawablah “Ucap pak Hidayat
Furqon hanya terdiam dan menundukkan kepala. Ia mengeluarkan air mata. Ustadz Arif kemudian memeluknya dan mengatakan ini adalah jawaban atas do’a yag selama ini engkau panjatkan jemputlah ia jodohmu.
“Barakallah” semua hadirin mengucapkan dengan serentas.
Pak Hidayat dan pak Zaid kemudian memluk Fatih dengan erat. Mereka mengucapkan rasa bangga atas apa yang dilakukan oleh Fatih. Pak Hidayat kemudian memeluk Furqon dengan sangat erat dan kemudian menjabat tangannya.  Kali ini ia akan menyerahkan tanggung jawabnya terhadap Urwa kepada Furqon yang akan membimbing Urwa sebagai istrinya.
“Sah para saksi”
“sah” ucap serentak
“Barakallah” semua terucap dengan serentak
Urwa dengan malu-malu mencium tangan Furqon. Ia menitikkan air mata bahagia. Do’a yang telah dia panjatkan kini telah terjawab oleh Allah.
“wahai rindu,, aku tahu sekarang jawaban Allah atas Do’aku,, engaku adalah laki-laki yang Allah kirimkan untuk menjadi takdirku. Terimakasih rindu sudah datang di waktu yang tepat,, menjemputku dirumah Allah atas izin dan Ridho Allah” ucap Urwa sembari menitikkan air mata
“Wahai bidadariku,, Aku menjemputmu atas izin dan ridho Allah,, aku memintamu pada-Nya dengan mahar yang telah kutulis dengan tanganku sendiri. Al-Qur’an ini ku tulis sebagai mahar bagi pernikahan kita. Harapku aku bersamamu hingga di Jannah-Nya nanti” ucap Furqon kemudian memeluk istrinya.
Semua hadirin yang datang terharu meilhat perjuangan mereka. Inilah janji Allah bagi hamba-Nya yang terus bermunajad kepada-Nya. 
"Teruslah berdo’a Karena kita tidak akan tahu kapan do’a kita akan terkabulkan".





Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer