Konsep Pendekatan Kritis dalam Shindunata ( Max. Horkheimer)
Konsep
Pendekatan Kritis dalam Shindunata
Dilema
Usaha Manusia Rasional
Kritik
Masyarakat Modern oleh Max. Horkheimer dalam Rangka Sekolah Frankfurt
Max Horkeimer
dilahirkan pada 14 Februari 1895 di
Zuffenhausen, dekat Stuttgart. Ayahnya Moroz (Moses) Horkeimer seorang Yahudi
totok. Ia mendidik Horkeimer dengan keras dan otoriter dan mengharuskan anaknya
mengelola perusahaannya.
Teori kritis Horkheimer
bermula pada protesnya terhadap keadaan masyarakat yang penuh dengan kenistaan
dan Horkheimer berharap akan tumbuhnya masyarakat baru dengan tidak ada lagi kenistaan tadi. Teori
kritis masyarakat bukan merupakan istilah filsafat ataupun sosiologi memang
merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan hubungan dialektis antara
filsafat dan sosiologi. Disatu pihak, teori kritis menghapuskan filsafat
sebagai teori-teori semata-mata. Filsafat harus menjadi teori yang harus
membuahkan praksis bagi perubahan masyarakat. Dalam hal ini teori kritis
menjadi salah satu relasi filsafat. Dipihak lain, teori kritis bukan merupakan
suatu cabang sosiologi semata, melainkan benar-benar sosiologi kritis. Artinya,
teori kritis tidak berhenti pada analisa data, melainkan mencari terus secara
kritis dengan suatu pengadaian akan adanya kebenaran yang melebihi data-data
tersebut.
Sosiologi kritis
sekolah Frankfurt ingin agar sosiologi tidak menjadi sebuah duplikat dari
realitas sosial yang ditelitinya. Namun menemukan esensi dari suatu realitas.
Menurut Horkheimer esensi itu adalah sesuatu yang tersembunyi dibalik permukaan
dari apa yang Nampak dari fakta-fakta yang diperkirakan. Esensi itu yang
membuat fakta-fakta sebagai sesungguhnya. Sosiologi kritis bukanlah suatu focade sosiologi melainkan sosiologi yang
mencoba menemukan hubungan struktural dari gejala-gejala sosial yang
dijumpainya. Sosiologi kritis selalu mengandaikan bahwa fakta sosial tidak
pernah bebas nilai. Kecenderungan memandang fakta sosial sebagai bebas nilai
akan berakibatkan manipulasi oleh fakta-fakta sosial atas sosiologi, sosiologi
tidak menyadari bahwa fakta yang dijaringnya itu penuh dengan kepentingan dan
nilai-nilai tersendiri.
Berbeda dengan
sosiologi semacam itu, sosiologi kritis sekolah Frankfurt tidak mau
bersekongkol dengan fakta yang diselidikinya. Ia selalu curiga bahwa
fakta-fakta yang terlihat obyektif sebenarnya penuh dengan nilai-nilaiyang
tidak disetujuinya dan ingin didobraknya. Sekolah Frankfurt menginginkan
pembangunan masyarakat yang rasional, karena hanya dalam masyarakat rasional
itulah kepenuhan individu dapat tercapai. Kini masyarakat rasional masih
merupakan kerinduan individu masih terbelenggu dalam jerat-jerat keirasionalan
masyarakat. Demikian, teori kritis bersoal terus menerus dengan pembebasan
manusia supaya manusia menjadi otonom dan rasional. Maka teori kritis bermaksud
menjadi teori emansipatoris.
Emansipasi adalah
persoalan yang selalu relevan sepanjang zaman dan juga untuk negara-negara
berkembang. W.F. Wertheim mengatakan bahwa pembangunan sebaiknya dimengerti
sebagai emansipasi daripada modernisasi[1].
Emansipasi dimaksudkan sebagai pembebasan dari kealamiahan manusia maupun dari
rintangan yang dibuat oleh manusia itu sendiri.
A. Latar
Belakang Historis dan Teoritis Sekolah Frankfurt
1. Sekolah
Frankfurt
Istilah sekolah
Frankfurt dipakai untuk menunjukkan sekelompok cendekiawan yang tergabung dalaminstitut fiir Sozial forschung (Institute
for Social Research), yang didirikan di Frankfurt am Main pada tahun 1923.
Pelopor institute tersebut adalah Felix J. Weil, seorang sarjana ilmu plitik.
Dengan dana yang diterima dari ayahnya, Herman Weil. Seoarang saudagar kaya
Jerman yang hijrah ke Argentina. Weil ingin menghimpun cendekiawan-cendekiawan
kiri untuk menyegarkan kembali ajaran Marx sesuai kebutuhan saat itu. Weil
ingin agar kelompok cendekiawan yang tergabung dalam institutnya benar-benar
independen dari kelembagaan maupun kepartaian. Namun institute yang dibangunnya
tidak dapat menjaga keindependenan secara material maupun intelektual.
Anggota-anggota yang pertama adalah Friedrich Pollock (ahli ekonomi), Theodor
W. Adorno ( musikus, ahli sastra, psikolog dan filsuf), Herbert Marcuse (murid
filsuf Martin Heidegger yang mencoba memadukan fenomenologi dan marxixme yang
kemudian terkenal sebagai ‘nabi’ dan ‘inspirator’ gerakan New Left di Amerika), Erich Fromm (ahli psikoanalisa Freud), Karl
August Wittfogel (ahli sinology), Lio Lowenthal (sosiolog), Walter Benjamin
(kritikus sastra) dan MarxHorkheimer.
Horkheimer resmi
menjadi direktur institute pada Januarai 1931. Dibawah Horkeimer Institut for sozial Forschung lebih
popular dengan sebutan Sekolah Frankfurt. Dalam pidatonyayang berjudul “The Present state of Social Philosophy and
the Task of an Institute for Social Research”Horkheimer menggariskan
konsepsinya tentang filsafat sosial sebagai “interpretasi filosofis tentang
nasib manusia sejauh manusia bukan dipandang sebagai individu melainkan anggota
masyarakat[2].
Obyek dari filsaat sosial dengan demikian adalah “semua kelembagaan yang
bersifat material dan spiritual dari kemanusiaan secara keseluruhan”[3].
Maka ia menyerang filsafat yang puas dengan idea-ideabelaka, sementara
membiarkan individu di dunia ini kehilangan “makna filosofis” dari idea-idea
tersebut. Manusia diandaikan mempunyai kebebasan tapi dalam kenyataannya sosial
kebebasan ini terbelenggu dalam pelbagai bentuk seperti keterasingan
pengangguran dan paksaan.
Horkheimer
menggariskan dengan tegas bahwa metode analisa sekolah Frankfurt bukanlah vulgar hegelian yang menganggap dasar
dan pergerakan dunia atau sejarah itu Roh; bukan pula vulgar masrxis yang menganggap kejiwaan manusia, kepribadian juga
hukum kesenian dan filsafat sebagai semata-mata cermin dari bidang ekonomi.
Tetapi metode sekolah Frankfurt haruslah dapat menangkap hubungan dialektis
antara material dan realitas mental. Sasaran utama kritik sekolah Franfurt
adalah ekonomi politiknya dan bidang ekonomi. Bidang tersebut harus diandaikan
bila kritik ingin mencapai perubahan masyarakat. Horkheimer juga menganggap
bidang-bidang kebudayaan, termasuk didalamnya adalah ideology dan politik juga
harus dijadikan sasaran kritik sekolah Frankfurt.
Analisa terhadap
ideology dapat menolong orang untuk memahami betapa ideologi sangat berperan
dalam mengacaukan kenyataan sosial. Dalam hal ini Horkheimer melebihi
pendahulunya termasuk Marx, ingin membongkar ideology tidak hanya dengan
menunjuk kenyataan ekonomis yang dipalsukan oleh ideologi.
2.
Kapitalisme
Monopolis dan Fasisme
Sekolah
Frankfurt memahami kapitalisme monopoli sebagai suatu tahap kapitalisme dimana
usaha-usaha raksasa menguasai pasar dan menentukan harga, sementara
perusahaan-perusahaan kecil dengan serta merta di gulungnya. Kapitalisme
monopolis dengan demikian mengakhiri kapitalisme liberal. Kebebasan pasar (the primacy of the market) dari perusaan
kapitalisme liberal telah diganti dengan control ketat perusahaan-perusahaan
besar (the primacy of control).
Pemiliknya (ownership atau private
property) sudah menjadi kekuasaan ekonomis perusahaan-perusahaan
besar.sistem pekerjaan bebas yang masih bis dijalankan dijaman kapitalisme
liberal kini sudah digantikan dengan pekerjaan sistem upahan yang ketat dan
dipaksakan.
Menurut
Horkheimer, dewasa ini sebagian besar perusahan industry dan perbankan telah
berkembang pesat, sehingga taka da negara yang data bermalasan hingga mengalami
kebangkrutan. Kebangkrutan akan menimbulkan dampak yang sangat besar bagi
seluruh bidang ekonomi dan bidang politik. Itulah alasan ekonomis yang
melatarbelakangi campur tangan negara. Kapitalisme negara sebagai perkembangan
dari kapitalisme monopolis itu berawal dari kapitalisme liberal sendiri yang
megakibatkan timbulnya negara otoriter atau fasisme. Horkheimer “Fasisme tidak
berlawanan dengan masyarakat borjuis, tapi dalam kondisi sejarah tertentu, ia
merupakan bentuk yang paling cocok bagi masyarakat borjuis”.
Kapitalisme
negara dengan bantuan terror politis dari fasisme dapat mencekam individu
dibawah cakar kekuasaannya. Untuk meperteguh kekuasaannya mereka menciptakan
kebutuhan-kebutuhan baru, menggiring masyarakat menuju ke konsumerise,
sementara individu tidak berkuasa apa-apa lagi. Horkheimer dan kawan-kawannya
masih tetap yakin bahwa kelas proletariat dapat dijadika harapan untuk
menjungkirkan sistem kapitalisme. Tapi kenyataannya kelas proletar tidak
melakukan pemberontakan. Sebalikanya rezimfasis Jerman dibawah Hitler dapat
mencegah kemungkinan itu. Manipulasi fasisme berhasil mendominasi kesadaran
proletar untuk melemahkan unsur-unsur kerevolusionerannya. Sekolah Frankfurt
beralih ke analisa ideology yang meliputi kesadaran dan struktur psikis kaum
proletar pada waktu itu. Para buruh sendiri tidak benar-benar meninati
perubahan, apalagi ketika keadaan ekonomi makinmmebaik. Mereka
lama-kelamaanmenjadi instrument dari kadaan yang ada bahkan menjadi bagian dari
sistem itu dan ikut melestarikan sistem tersebut. Kelas buruh sungguh-sungguh
telah dimanipulasi kesadaran oleh keadaan yang ada. Perusahaan-perusahaan besar
telah menyumbang dalam memperbesar kesejahteraan mereka namun pada saat yang
sama mendominasi kesadaran mereka.
3.
Latar
Belakang Pemikiran Sekolah Frankfurt
a.
Kritisme
Kant
Kant menamakan
Filsafatnya sebagai kritis dalam arti akal budi harus menilai kemampuan dan
keterbatasannya dan hanyalewat kemampuan dan keterbatasannya itu akal budi
mengetahui sesuatu. Menurut Kantobyek pada dirinya sendiri tidak pernah dapat
diketahui obyek itu benar-benar das Ding
an sich (sesuatu pada dirinya) yang dipahami oleh akal budi yang subyektif.
Sekolah Franfurt menghargai Kant karena telah menemukan otonomi subyek dalam
membentuk pengetahuannya. Disinilah pengertian kritis pertma yaitu pengetahuan
tidak ditentukan oleh obyek, tetapi subyek yang telah menghasilkan pengetahuan
itu. Demngan demikian manusia tidak perlu lagi memahami alam sebagai alamiah
tapi menggantinya sebagai “kebudayaan” artinya alam yang telah dirasionalkan
manusia. sejarahpun tidak perlu lagi berjalan seara deterministis, sejarah
dipahami secara kritis sebagai pengungkapan diri secara rasional.
b.
Dialektika
Hegel
Ajaran Hegel
yangpaling terkenal adalah dialektika. Dengan dialektikanya Hegel hendak
mengetengahkan bahwa akal budi dalam usahanya untuk menjadikan kesadaran diri
yang sempurna ternyata mengalami halangan dan pembatasan untuk menjadi dirinya
. meski demikian justru semuanya ituyang menjadikan dan menetapkan kesadaran
diri manusia. Dialektika Hegel yaitu Pertama,
berpikir secara dialektik berarti berpikir dalam totalitas. Totalitas ini bukan
berarti semata-mata keseluruhan, dimana unsur-unsurnya yang bertentangan berdiri sejajar. Tapi totalitas
itu berarti keseluruhan yang mempunyai unsur-unsur yang saling bernegasi (mengingkari
dan diingkari), saling berkontradiksi, saling bermediasi.
Pemikiran
dialektis menekankan bahwa dalam kehidupan yang nyata unsur-unsur itu tidak
mungkin berdiri sejajar pasti unsur-unsrnya saling berkontradiksi, bernegasi
dan bermediasi. Pemikiran dialektis mengharuskan unsur-unsur tersebut saling
bertarung, karena semua unsur memiliki potensi kebenaran jadi tidak boleh
ditiadakan. Unsur-unsur tersebut dibiarkan saling bernegasi dengan saling
mengingkari dan diingkari, setiap unsur berhak mempertahankan dirinya, lalu
unsur-unsur tersebut saling bermediasi, setiap pihak merasa diperkaya jika ia
dierantai oleh lawannya yang memberikan sesuatu yang tidak ia punya. Proses
dialektis ini tidak mengarah pada sintetis dalam artian perpaduan, melainkan
mengarah pada tujuan baru yakni rekonsiliasi yang mencakup pembaharuan,
penguatan dan perdamaian.
Kedua, Seluruh
proses dialektis itu sebenarnya merupakan realitas yang sedang bekerja. Secara
singkat dapat dikatakan demikian : manusia dalam proses menyatakan dirinya
ternyata menghadapi suatu dunia obyektif yang berada diluar dirinya. Jadi meski
dunia itu mengancam dirinya ia tidak boleh ditiadakan, karena meniadakan sama
dengan menghancurkan kedirian manusia itu. Proses dialektis sebagai “realitas
yang bekerja”itu terlihat dalam pekerjaan manusia. kontradiksi dan negasi
antara manusia dan dunia obyektif juga mediasi antara manusia terhadap
lingkunganny. Dnegan demikian manusia juga makin memhamai kediriannya, serta
lingkungannya juga diangkat kederajat yang lebih tinggi karena telah
dimanusiakan oleh manusia.
Ketiga, berpikir
dialektis berarti berpikir dalam perspektif empiris-historis. Dilihat dari
perspektif historis empiris, kesadaran dan realitas selalu mengasingkan.
Realitas selalu menjadi hambatan bagi kesadaran untuk merealisasikan dirinya
secara penuh dan sebaliknya kesadaran terlalu miskin untuk menuntut dirinya sebagai
“sama kaya” dengan realitas.
Keempat,
berpikir dialektis berarti berpikir dalam kerangka kesatuan teori dan praxis. Pemikiran
dialektis tidak mengandaikan adanya kesenjangan antara teori dan praxis yang
harus dijembatani, melainkan bagaimana suatu teori dapat membuahkan praxis.
Menurut Hegel teori semacam itu harus berpangkal pada realitas, ia harus
meliputi kesadaran tentang realitas, termasuk kemampuan untuk merubah realitas.
Teori seperti ini sifatnya afirmatif artinya mau menyatakan diri menjadi realitas.
c.
Kritik
ekonomi-politik Karl Marx
Das Kapital Marx, emusatkan diri pada analisa ekonomi kapitalis
dan dinamikanya. Sebagai ahli ekonomi, Marx menggambarkan hukum-hukum ekonomi
kapitalis dan berusaha untuk memperlihatkan bahwa cara produksi kapitalis
dengan sendirinya akan membawa kapitalis pada keruntuhannya. Kritik Marx
terhadap ekonomi kapitalis ini disebut ekonomi politik. Penyelidikan Marx ini
sebenarnya tidak dijalankannya dalam rangka ekonomis semata, melainkan dipahami
sebagai usahanya untuk membuka syarat-syarat pembebasan manusia dari penindasan
kekuatan-kekuatan ekonomis yang mempunyai makna emansipatoris.
Dibawah
kapitalisme, produksi barang dagangan mencapai kemajuan besar dan bersifat
universal, karena produksi diadakan demi pasaran dan dengan tujuan mencapai
untung. Untuk memenuhi kebutuhan pasar dan demi keuntungan itulah maka kaum
kapitalis terdorong menciptakan produksi sebanyak-banyaknya. Dipihak lain kaum
proletariat makin menyadari nasibnya sebagia kelas yang terus-menerus dihisap kaum
kapitalis. Mereka lalu memberontak dan memulai revolusi. Dengan revolusinya
kaum proletariat mencopt hak milik kaum kapitalis atas alat produksi dan
menyerahkannya kepada seluruh masyarakat. Dalam keadaan itu kaum proletariat
menyadari bukan pribadi-pribadi kapitalis melainkan hak milik atas alat
produksilah yang dulu menindas mereka.
Menurut Marx,
hakekat ekonomi kapitalisme adalah memburu profit sebanyak-banyaknya. Profit
itu pasti tidak diperoleh karena pertukaran yang manusiawi. Dalam pertukaran profit
yang manusiawi si A dan si B saling memberikan apa yang dibutuhkan keduanya,
tapi dalam nilai yang sama. Disini tidak terjadi profit karena si A dan si B
mendapatkan nilai yang sama. Dalam kapitalisme, pemilik modal selalu menerima
lebih banyak dari apa yang dimilikinya semula, dengan kata lain ia selalu
menerima profit dalam proses tukar menukarnya.
Kritik Marx selanjutnya yakni kritk terhadap
nilai tukar dalam kapitalisme. Ini termaktub dalam pandangan Marx tentang
komoditi yang nantinya juga akan mempengaruhi Horkeimer dan kawan-kawannya.
Selama menjdi nilai pakai taka da sesuatu yang mengherankan. Nilai pakai yakni
nilai yang melekat pada suatu benda yang tidak bisa ditukar begitu saja.
Misalnya meja yang terbuat dari kayu. Dari segi nilai pakai kita akan
mengatakan bahwa meja itu tetap meja atau kayu walaupunkayu sudah diubah
menjadi meja. Tetapi jika menyangkut nilai tukar, meja sudah bukan meja atau
kayu lagi.
Menurut nilai
pakai, meja itu lain dari taplak karena meja dan taplak mempunyai nilai pakai
yang khas pada dirinya masing-masing. Tetapi begitu ia menjadi komoditi, meja
dianggap sama dengan taplak. Dengan demikian kerja manusiawi yang khas untuk
meja disamakan begitu saja dengan kerja manusiawi untuk taplak. Sebab, kerja
manusiawi tidak diukur dari dirinya sendiri melainkan diukur oleh ukuran yang
sama yakni waktu yang dicurahkan untuk mengerjakan sesuatu. Dalam komoditi
kerja manusiawi yang khas sudah tidak dihargai lagi. Komoditi hanya memunyai
nilai tukar. Besarnya nilai tersebut diukur dari jumlah waktu pekerjaan.
Berbeda dengan
yang dulu, sekarang hubungan sosial karya manusia atau individu tidak bisa
berjalan begitu saja, sebelum individu mewujudkan produknya sebagai komoditi,
artinya hubungan itu baru bisa terjalin dalam tindakan tukar menukarantar
komoditi. Padahal tindakan tukar menukar itu justru meniadakan kekahsan suatu
produk sosial. Suatu produk dianggap sama nilainya, tanpa memperhatikan
perbedaan nilai pakainya. Nilai tukar harus mendahului nilai pakai, jika suatu
produk dianggap sebagai komoditi, sistem kapitalisme berjalan berdasarkan nilai
tukar. Kapitalisme menganggap semua barang itu komoditi, artinya barang
bernilai hanya sejauh ia mempunyai nilai tukar dan dapatditukarkan dalam
tindakan tukar menukar. Jadidalam komoditi yang hanya mempunyai nilai tukar
manusia diasingkan dari pekerjaannya yang khas. Komoditi adalah tempat
keteraasingan manusia dari pekerjaannya.
d.
Kritik
ideology lewat Freud
Titik tolak
pemikiran Marx tentang kritik ideology terdapat dalam bukunya The German Ideology yang ditulisnya
bersama Frederich Engels. Marx mengajarkan bahwa kesadaran manusia dalam
pelbagai bentuknya mau tidak mau ditentukan oleh keadaan material ekonomis
bukan sebaliknya. Kesadaran itu merupakan bangunan dari basis kenyataan
ekonomis. Marx menegaskan kembali bahwa bukanlah kesadaran manusia yang
menentukan keadaan mereka melainkan sebaliknya keadaan sosialah yang menentukan
kesadaran mereka.
Menurut Marx
ideology itu adalah ilusi atau kesadaran palsu. Maksudnya ideology tidak
menggambarkan situasi nyata manusia secara apa adanya. Jadi ideology
menggambarkan kenyataan secara terpuntir atau terbalik. Bukan artinya ideology
keliru menggambarkan kenyataan, melainkan bahwa ideologi menggambarkan kenyataan
dan interpretasi yang dibalik apa yang tidak baik dan tidak wajar dikatakan dan
diusahakan sedemikian hingga tampak baik dan wajar. Itulah sebabnya Marx
memakai istilah camera obscura untuk
menjelaskan ideologi.
Tentang kritik
ideology, Fromm menunjukkan bahwa dlaam hidup psikis terdapat dua naluri dasar
dan selalu berkonflik yakni naluri seksual dan naluri mempertahankan diri.
Naluri mempertahankan diri selalu minta dipuaskan secara langsung, misalnya
rasa lapar hanya bisa dipaskan dengan makan.
Sedang naluri seksual dapat digantikan, disublimasikan dan dipuaskan
dalam fantasi.jadi naluri seksual ini lebih luwes terhadap kondisi sosial tidak
dapat memuaskan, sedangkan naluri mempertahankan diri sangat kaku terhadap
lingkungannya. Maka ideology meski ditinjau dalam hubungan dengan naluri
seksual, karena ideologi adalah semacam fantasi yang dapat memuaskan naluri
seksual itu.
Psikoanalisa
dapat menunjukkan bahwa ideology manusia adalah produk dari
keinginan-keinginan, naluri-naluri instinktif, interes-interes dan
kebutuhan-kebutuhan tertentu, yang pada dirinya sendiri tidak sadar menemukan
pengungkapannya sebagai rasional yakni sebagai ideology[4]. Jadi
dengan menjabarkan naluri-naluri seksual ke dalam pelbagai kebutuhan konkret,
kita akan memahami bahwa ideology justru merupakan semacam represi atau
penundaan terhadap kebutuhan tersebut, dan patut dikemukakakan bahwa
dorongan-dorongan psikis itu tidak hanya bersifat biologis, melainkan juga
historis. Artinya mereka juga merupakan produk sosial tertentu. Dengan demikian
psikoanalisa tidak hanya dapat menerangkan gejala-gejala yang sifatnya
individual, tetapi juga sosial analisa terhadap dorongan-dorongan psikis yang
bersifat sosial, tentu akan makin membantu untuk menyelami pelbagai bentuk
rasionalitas sosial yang terkandung dalam ideologi.
Buat sekolah
Franfurt usaha Fromm untuk mengintegrasikan psikoanalisa Freud dan ajaran Marx
dari sudut teori tentang naluri itu memang merupakan sumbangan besar untuk
makin memperkaya kritik ideology. Namun mereka beranggapan teori Freud
superegolah yang paling memberi kunci kritik ideology. Freud menerangkan bahawa
ego ideal atau superego dapat berbentuk pribadi, kelompok yang mungkin saja
dibenci, dimusuhi, secara aktif (seperti anak terhadap bapak dalam keluarga).
Pada jaman ini ajaran Freud itu bisa berbunyi, kendati penguasa itu dibenci dan
tidak disukai, toh kelas yang ditindas oleh penguasa tetap tertarik secara
emosional kepada penguasa tersebut.
Superego
tersebut bisa berbentuk rasional atau ideologi yang terus menerus menentukan
anggota masyarakat tetapi anggota masyarakta msih saja mematuhinya. Padahal
dibalik superego tersebut tersembunyi berbagai kepentingan untuk memanipulasi
dan menindas. Bersama Freud mereka yakin bahwa individu menderita dibawah
pelbagai paksaan dan tekanan dalam bentuk tingkah laku dan cara berpikir yang
sudah ditentukan bukan kemauannya. Sekolah Frankfurt ingin memahami ilusi itu
supaya individu dapat membebaskan dirinya dari konflik-konflik terinternalisir
yang membutakan dirinya dan memincangkan tindakannya.
[1]Lih. W.F/
weirtheim.1974. The Rising waves of
Emancipation from Counterpoint toward Revolution”dalam Emanuel de Kant dan
Gavin William, (ed). Sociology and
Development, London: Tavistock Publications, hal 318.
[2]Kutipan tentang
Horkeimer dalam ibid hal.10
[3] ibidem
[4]Kutipan tentang From
dalam Phil Slater, op.cit hal.97
Komentar
Posting Komentar