Konsep Pendekatan Kritis dalam Shindunata ( Max. Horkheimer)


Konsep Pendekatan Kritis dalam Shindunata
Dilema Usaha Manusia Rasional
Kritik Masyarakat Modern oleh Max. Horkheimer dalam Rangka Sekolah Frankfurt
Max Horkeimer dilahirkan pada  14 Februari 1895 di Zuffenhausen, dekat Stuttgart. Ayahnya Moroz (Moses) Horkeimer seorang Yahudi totok. Ia mendidik Horkeimer dengan keras dan otoriter dan mengharuskan anaknya mengelola perusahaannya.
Teori kritis Horkheimer bermula pada protesnya terhadap keadaan masyarakat yang penuh dengan kenistaan dan Horkheimer berharap akan tumbuhnya masyarakat baru  dengan tidak ada lagi kenistaan tadi. Teori kritis masyarakat bukan merupakan istilah filsafat ataupun sosiologi memang merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan hubungan dialektis antara filsafat dan sosiologi. Disatu pihak, teori kritis menghapuskan filsafat sebagai teori-teori semata-mata. Filsafat harus menjadi teori yang harus membuahkan praksis bagi perubahan masyarakat. Dalam hal ini teori kritis menjadi salah satu relasi filsafat. Dipihak lain, teori kritis bukan merupakan suatu cabang sosiologi semata, melainkan benar-benar sosiologi kritis. Artinya, teori kritis tidak berhenti pada analisa data, melainkan mencari terus secara kritis dengan suatu pengadaian akan adanya kebenaran yang melebihi data-data tersebut.
Sosiologi kritis sekolah Frankfurt ingin agar sosiologi tidak menjadi sebuah duplikat dari realitas sosial yang ditelitinya. Namun menemukan esensi dari suatu realitas. Menurut Horkheimer esensi itu adalah sesuatu yang tersembunyi dibalik permukaan dari apa yang Nampak dari fakta-fakta yang diperkirakan. Esensi itu yang membuat fakta-fakta sebagai sesungguhnya. Sosiologi kritis bukanlah suatu focade sosiologi melainkan sosiologi yang mencoba menemukan hubungan struktural dari gejala-gejala sosial yang dijumpainya. Sosiologi kritis selalu mengandaikan bahwa fakta sosial tidak pernah bebas nilai. Kecenderungan memandang fakta sosial sebagai bebas nilai akan berakibatkan manipulasi oleh fakta-fakta sosial atas sosiologi, sosiologi tidak menyadari bahwa fakta yang dijaringnya itu penuh dengan kepentingan dan nilai-nilai tersendiri.
Berbeda dengan sosiologi semacam itu, sosiologi kritis sekolah Frankfurt tidak mau bersekongkol dengan fakta yang diselidikinya. Ia selalu curiga bahwa fakta-fakta yang terlihat obyektif sebenarnya penuh dengan nilai-nilaiyang tidak disetujuinya dan ingin didobraknya. Sekolah Frankfurt menginginkan pembangunan masyarakat yang rasional, karena hanya dalam masyarakat rasional itulah kepenuhan individu dapat tercapai. Kini masyarakat rasional masih merupakan kerinduan individu masih terbelenggu dalam jerat-jerat keirasionalan masyarakat. Demikian, teori kritis bersoal terus menerus dengan pembebasan manusia supaya manusia menjadi otonom dan rasional. Maka teori kritis bermaksud menjadi teori emansipatoris.
Emansipasi adalah persoalan yang selalu relevan sepanjang zaman dan juga untuk negara-negara berkembang. W.F. Wertheim mengatakan bahwa pembangunan sebaiknya dimengerti sebagai emansipasi daripada modernisasi[1]. Emansipasi dimaksudkan sebagai pembebasan dari kealamiahan manusia maupun dari rintangan yang dibuat oleh manusia itu sendiri.
A.    Latar Belakang Historis dan Teoritis Sekolah Frankfurt
1.      Sekolah Frankfurt
Istilah sekolah Frankfurt dipakai untuk menunjukkan sekelompok cendekiawan yang tergabung dalaminstitut fiir Sozial forschung (Institute for Social Research), yang didirikan di Frankfurt am Main pada tahun 1923. Pelopor institute tersebut adalah Felix J. Weil, seorang sarjana ilmu plitik. Dengan dana yang diterima dari ayahnya, Herman Weil. Seoarang saudagar kaya Jerman yang hijrah ke Argentina. Weil ingin menghimpun cendekiawan-cendekiawan kiri untuk menyegarkan kembali ajaran Marx sesuai kebutuhan saat itu. Weil ingin agar kelompok cendekiawan yang tergabung dalam institutnya benar-benar independen dari kelembagaan maupun kepartaian. Namun institute yang dibangunnya tidak dapat menjaga keindependenan secara material maupun intelektual. Anggota-anggota yang pertama adalah Friedrich Pollock (ahli ekonomi), Theodor W. Adorno ( musikus, ahli sastra, psikolog dan filsuf), Herbert Marcuse (murid filsuf Martin Heidegger yang mencoba memadukan fenomenologi dan marxixme yang kemudian terkenal sebagai ‘nabi’ dan ‘inspirator’ gerakan New Left di Amerika), Erich Fromm (ahli psikoanalisa Freud), Karl August Wittfogel (ahli sinology), Lio Lowenthal (sosiolog), Walter Benjamin (kritikus sastra) dan MarxHorkheimer.
Horkheimer resmi menjadi direktur institute pada Januarai 1931. Dibawah Horkeimer Institut for sozial Forschung lebih popular dengan sebutan Sekolah Frankfurt. Dalam pidatonyayang berjudul “The Present state of Social Philosophy and the Task of an Institute for Social Research”Horkheimer menggariskan konsepsinya tentang filsafat sosial sebagai “interpretasi filosofis tentang nasib manusia sejauh manusia bukan dipandang sebagai individu melainkan anggota masyarakat[2]. Obyek dari filsaat sosial dengan demikian adalah “semua kelembagaan yang bersifat material dan spiritual dari kemanusiaan secara keseluruhan”[3]. Maka ia menyerang filsafat yang puas dengan idea-ideabelaka, sementara membiarkan individu di dunia ini kehilangan “makna filosofis” dari idea-idea tersebut. Manusia diandaikan mempunyai kebebasan tapi dalam kenyataannya sosial kebebasan ini terbelenggu dalam pelbagai bentuk seperti keterasingan pengangguran dan paksaan.
Horkheimer menggariskan dengan tegas bahwa metode analisa sekolah Frankfurt bukanlah vulgar hegelian yang menganggap dasar dan pergerakan dunia atau sejarah itu Roh; bukan pula vulgar masrxis yang menganggap kejiwaan manusia, kepribadian juga hukum kesenian dan filsafat sebagai semata-mata cermin dari bidang ekonomi. Tetapi metode sekolah Frankfurt haruslah dapat menangkap hubungan dialektis antara material dan realitas mental. Sasaran utama kritik sekolah Franfurt adalah ekonomi politiknya dan bidang ekonomi. Bidang tersebut harus diandaikan bila kritik ingin mencapai perubahan masyarakat. Horkheimer juga menganggap bidang-bidang kebudayaan, termasuk didalamnya adalah ideology dan politik juga harus dijadikan sasaran kritik sekolah Frankfurt.
Analisa terhadap ideology dapat menolong orang untuk memahami betapa ideologi sangat berperan dalam mengacaukan kenyataan sosial. Dalam hal ini Horkheimer melebihi pendahulunya termasuk Marx, ingin membongkar ideology tidak hanya dengan menunjuk kenyataan ekonomis yang dipalsukan oleh ideologi.
2.      Kapitalisme Monopolis dan Fasisme
Sekolah Frankfurt memahami kapitalisme monopoli sebagai suatu tahap kapitalisme dimana usaha-usaha raksasa menguasai pasar dan menentukan harga, sementara perusahaan-perusahaan kecil dengan serta merta di gulungnya. Kapitalisme monopolis dengan demikian mengakhiri kapitalisme liberal. Kebebasan pasar (the primacy of the market) dari perusaan kapitalisme liberal telah diganti dengan control ketat perusahaan-perusahaan besar (the primacy of control). Pemiliknya (ownership atau private property) sudah menjadi kekuasaan ekonomis perusahaan-perusahaan besar.sistem pekerjaan bebas yang masih bis dijalankan dijaman kapitalisme liberal kini sudah digantikan dengan pekerjaan sistem upahan yang ketat dan dipaksakan.
Menurut Horkheimer, dewasa ini sebagian besar perusahan industry dan perbankan telah berkembang pesat, sehingga taka da negara yang data bermalasan hingga mengalami kebangkrutan. Kebangkrutan akan menimbulkan dampak yang sangat besar bagi seluruh bidang ekonomi dan bidang politik. Itulah alasan ekonomis yang melatarbelakangi campur tangan negara. Kapitalisme negara sebagai perkembangan dari kapitalisme monopolis itu berawal dari kapitalisme liberal sendiri yang megakibatkan timbulnya negara otoriter atau fasisme. Horkheimer “Fasisme tidak berlawanan dengan masyarakat borjuis, tapi dalam kondisi sejarah tertentu, ia merupakan bentuk yang paling cocok bagi masyarakat borjuis”.
Kapitalisme negara dengan bantuan terror politis dari fasisme dapat mencekam individu dibawah cakar kekuasaannya. Untuk meperteguh kekuasaannya mereka menciptakan kebutuhan-kebutuhan baru, menggiring masyarakat menuju ke konsumerise, sementara individu tidak berkuasa apa-apa lagi. Horkheimer dan kawan-kawannya masih tetap yakin bahwa kelas proletariat dapat dijadika harapan untuk menjungkirkan sistem kapitalisme. Tapi kenyataannya kelas proletar tidak melakukan pemberontakan. Sebalikanya rezimfasis Jerman dibawah Hitler dapat mencegah kemungkinan itu. Manipulasi fasisme berhasil mendominasi kesadaran proletar untuk melemahkan unsur-unsur kerevolusionerannya. Sekolah Frankfurt beralih ke analisa ideology yang meliputi kesadaran dan struktur psikis kaum proletar pada waktu itu. Para buruh sendiri tidak benar-benar meninati perubahan, apalagi ketika keadaan ekonomi makinmmebaik. Mereka lama-kelamaanmenjadi instrument dari kadaan yang ada bahkan menjadi bagian dari sistem itu dan ikut melestarikan sistem tersebut. Kelas buruh sungguh-sungguh telah dimanipulasi kesadaran oleh keadaan yang ada. Perusahaan-perusahaan besar telah menyumbang dalam memperbesar kesejahteraan mereka namun pada saat yang sama mendominasi kesadaran mereka.
3.      Latar Belakang Pemikiran Sekolah Frankfurt
a.       Kritisme Kant
Kant menamakan Filsafatnya sebagai kritis dalam arti akal budi harus menilai kemampuan dan keterbatasannya dan hanyalewat kemampuan dan keterbatasannya itu akal budi mengetahui sesuatu. Menurut Kantobyek pada dirinya sendiri tidak pernah dapat diketahui obyek itu benar-benar das Ding an sich (sesuatu pada dirinya) yang dipahami oleh akal budi yang subyektif. Sekolah Franfurt menghargai Kant karena telah menemukan otonomi subyek dalam membentuk pengetahuannya. Disinilah pengertian kritis pertma yaitu pengetahuan tidak ditentukan oleh obyek, tetapi subyek yang telah menghasilkan pengetahuan itu. Demngan demikian manusia tidak perlu lagi memahami alam sebagai alamiah tapi menggantinya sebagai “kebudayaan” artinya alam yang telah dirasionalkan manusia. sejarahpun tidak perlu lagi berjalan seara deterministis, sejarah dipahami secara kritis sebagai pengungkapan diri secara rasional.
b.      Dialektika Hegel
Ajaran Hegel yangpaling terkenal adalah dialektika. Dengan dialektikanya Hegel hendak mengetengahkan bahwa akal budi dalam usahanya untuk menjadikan kesadaran diri yang sempurna ternyata mengalami halangan dan pembatasan untuk menjadi dirinya . meski demikian justru semuanya ituyang menjadikan dan menetapkan kesadaran diri manusia. Dialektika Hegel yaitu Pertama, berpikir secara dialektik berarti berpikir dalam totalitas. Totalitas ini bukan berarti semata-mata keseluruhan, dimana unsur-unsurnya yang  bertentangan berdiri sejajar. Tapi totalitas itu berarti keseluruhan yang mempunyai unsur-unsur yang saling bernegasi (mengingkari dan diingkari), saling berkontradiksi, saling bermediasi.
Pemikiran dialektis menekankan bahwa dalam kehidupan yang nyata unsur-unsur itu tidak mungkin berdiri sejajar pasti unsur-unsrnya saling berkontradiksi, bernegasi dan bermediasi. Pemikiran dialektis mengharuskan unsur-unsur tersebut saling bertarung, karena semua unsur memiliki potensi kebenaran jadi tidak boleh ditiadakan. Unsur-unsur tersebut dibiarkan saling bernegasi dengan saling mengingkari dan diingkari, setiap unsur berhak mempertahankan dirinya, lalu unsur-unsur tersebut saling bermediasi, setiap pihak merasa diperkaya jika ia dierantai oleh lawannya yang memberikan sesuatu yang tidak ia punya. Proses dialektis ini tidak mengarah pada sintetis dalam artian perpaduan, melainkan mengarah pada tujuan baru yakni rekonsiliasi yang mencakup pembaharuan, penguatan dan perdamaian.
Kedua, Seluruh proses dialektis itu sebenarnya merupakan realitas yang sedang bekerja. Secara singkat dapat dikatakan demikian : manusia dalam proses menyatakan dirinya ternyata menghadapi suatu dunia obyektif yang berada diluar dirinya. Jadi meski dunia itu mengancam dirinya ia tidak boleh ditiadakan, karena meniadakan sama dengan menghancurkan kedirian manusia itu. Proses dialektis sebagai “realitas yang bekerja”itu terlihat dalam pekerjaan manusia. kontradiksi dan negasi antara manusia dan dunia obyektif juga mediasi antara manusia terhadap lingkunganny. Dnegan demikian manusia juga makin memhamai kediriannya, serta lingkungannya juga diangkat kederajat yang lebih tinggi karena telah dimanusiakan oleh manusia.
Ketiga, berpikir dialektis berarti berpikir dalam perspektif empiris-historis. Dilihat dari perspektif historis empiris, kesadaran dan realitas selalu mengasingkan. Realitas selalu menjadi hambatan bagi kesadaran untuk merealisasikan dirinya secara penuh dan sebaliknya kesadaran terlalu miskin untuk menuntut dirinya sebagai “sama kaya” dengan realitas.
Keempat, berpikir dialektis berarti berpikir dalam kerangka kesatuan teori dan praxis. Pemikiran dialektis tidak mengandaikan adanya kesenjangan antara teori dan praxis yang harus dijembatani, melainkan bagaimana suatu teori dapat membuahkan praxis. Menurut Hegel teori semacam itu harus berpangkal pada realitas, ia harus meliputi kesadaran tentang realitas, termasuk kemampuan untuk merubah realitas. Teori seperti ini sifatnya afirmatif artinya mau menyatakan diri menjadi realitas.
c.       Kritik ekonomi-politik Karl Marx
Das Kapital Marx, emusatkan diri pada analisa ekonomi kapitalis dan dinamikanya. Sebagai ahli ekonomi, Marx menggambarkan hukum-hukum ekonomi kapitalis dan berusaha untuk memperlihatkan bahwa cara produksi kapitalis dengan sendirinya akan membawa kapitalis pada keruntuhannya. Kritik Marx terhadap ekonomi kapitalis ini disebut ekonomi politik. Penyelidikan Marx ini sebenarnya tidak dijalankannya dalam rangka ekonomis semata, melainkan dipahami sebagai usahanya untuk membuka syarat-syarat pembebasan manusia dari penindasan kekuatan-kekuatan ekonomis yang mempunyai makna emansipatoris.
Dibawah kapitalisme, produksi barang dagangan mencapai kemajuan besar dan bersifat universal, karena produksi diadakan demi pasaran dan dengan tujuan mencapai untung. Untuk memenuhi kebutuhan pasar dan demi keuntungan itulah maka kaum kapitalis terdorong menciptakan produksi sebanyak-banyaknya. Dipihak lain kaum proletariat makin menyadari nasibnya sebagia kelas yang terus-menerus dihisap kaum kapitalis. Mereka lalu memberontak dan memulai revolusi. Dengan revolusinya kaum proletariat mencopt hak milik kaum kapitalis atas alat produksi dan menyerahkannya kepada seluruh masyarakat. Dalam keadaan itu kaum proletariat menyadari bukan pribadi-pribadi kapitalis melainkan hak milik atas alat produksilah yang dulu menindas mereka.
Menurut Marx, hakekat ekonomi kapitalisme adalah memburu profit sebanyak-banyaknya. Profit itu pasti tidak diperoleh karena pertukaran yang manusiawi. Dalam pertukaran profit yang manusiawi si A dan si B saling memberikan apa yang dibutuhkan keduanya, tapi dalam nilai yang sama. Disini tidak terjadi profit karena si A dan si B mendapatkan nilai yang sama. Dalam kapitalisme, pemilik modal selalu menerima lebih banyak dari apa yang dimilikinya semula, dengan kata lain ia selalu menerima profit dalam proses tukar menukarnya.
 Kritik Marx selanjutnya yakni kritk terhadap nilai tukar dalam kapitalisme. Ini termaktub dalam pandangan Marx tentang komoditi yang nantinya juga akan mempengaruhi Horkeimer dan kawan-kawannya. Selama menjdi nilai pakai taka da sesuatu yang mengherankan. Nilai pakai yakni nilai yang melekat pada suatu benda yang tidak bisa ditukar begitu saja. Misalnya meja yang terbuat dari kayu. Dari segi nilai pakai kita akan mengatakan bahwa meja itu tetap meja atau kayu walaupunkayu sudah diubah menjadi meja. Tetapi jika menyangkut nilai tukar, meja sudah bukan meja atau kayu lagi.
Menurut nilai pakai, meja itu lain dari taplak karena meja dan taplak mempunyai nilai pakai yang khas pada dirinya masing-masing. Tetapi begitu ia menjadi komoditi, meja dianggap sama dengan taplak. Dengan demikian kerja manusiawi yang khas untuk meja disamakan begitu saja dengan kerja manusiawi untuk taplak. Sebab, kerja manusiawi tidak diukur dari dirinya sendiri melainkan diukur oleh ukuran yang sama yakni waktu yang dicurahkan untuk mengerjakan sesuatu. Dalam komoditi kerja manusiawi yang khas sudah tidak dihargai lagi. Komoditi hanya memunyai nilai tukar. Besarnya nilai tersebut diukur dari jumlah waktu pekerjaan.
Berbeda dengan yang dulu, sekarang hubungan sosial karya manusia atau individu tidak bisa berjalan begitu saja, sebelum individu mewujudkan produknya sebagai komoditi, artinya hubungan itu baru bisa terjalin dalam tindakan tukar menukarantar komoditi. Padahal tindakan tukar menukar itu justru meniadakan kekahsan suatu produk sosial. Suatu produk dianggap sama nilainya, tanpa memperhatikan perbedaan nilai pakainya. Nilai tukar harus mendahului nilai pakai, jika suatu produk dianggap sebagai komoditi, sistem kapitalisme berjalan berdasarkan nilai tukar. Kapitalisme menganggap semua barang itu komoditi, artinya barang bernilai hanya sejauh ia mempunyai nilai tukar dan dapatditukarkan dalam tindakan tukar menukar. Jadidalam komoditi yang hanya mempunyai nilai tukar manusia diasingkan dari pekerjaannya yang khas. Komoditi adalah tempat keteraasingan manusia dari pekerjaannya.
d.      Kritik ideology lewat Freud
Titik tolak pemikiran Marx tentang kritik ideology terdapat dalam bukunya The German Ideology yang ditulisnya bersama Frederich Engels. Marx mengajarkan bahwa kesadaran manusia dalam pelbagai bentuknya mau tidak mau ditentukan oleh keadaan material ekonomis bukan sebaliknya. Kesadaran itu merupakan bangunan dari basis kenyataan ekonomis. Marx menegaskan kembali bahwa bukanlah kesadaran manusia yang menentukan keadaan mereka melainkan sebaliknya keadaan sosialah yang menentukan kesadaran mereka.
Menurut Marx ideology itu adalah ilusi atau kesadaran palsu. Maksudnya ideology tidak menggambarkan situasi nyata manusia secara apa adanya. Jadi ideology menggambarkan kenyataan secara terpuntir atau terbalik. Bukan artinya ideology keliru menggambarkan kenyataan, melainkan bahwa ideologi menggambarkan kenyataan dan interpretasi yang dibalik apa yang tidak baik dan tidak wajar dikatakan dan diusahakan sedemikian hingga tampak baik dan wajar. Itulah sebabnya Marx memakai istilah camera obscura untuk menjelaskan ideologi.
Tentang kritik ideology, Fromm menunjukkan bahwa dlaam hidup psikis terdapat dua naluri dasar dan selalu berkonflik yakni naluri seksual dan naluri mempertahankan diri. Naluri mempertahankan diri selalu minta dipuaskan secara langsung, misalnya rasa lapar hanya bisa dipaskan dengan makan.  Sedang naluri seksual dapat digantikan, disublimasikan dan dipuaskan dalam fantasi.jadi naluri seksual ini lebih luwes terhadap kondisi sosial tidak dapat memuaskan, sedangkan naluri mempertahankan diri sangat kaku terhadap lingkungannya. Maka ideology meski ditinjau dalam hubungan dengan naluri seksual, karena ideologi adalah semacam fantasi yang dapat memuaskan naluri seksual itu.
Psikoanalisa dapat menunjukkan bahwa ideology manusia adalah produk dari keinginan-keinginan, naluri-naluri instinktif, interes-interes dan kebutuhan-kebutuhan tertentu, yang pada dirinya sendiri tidak sadar menemukan pengungkapannya sebagai rasional yakni sebagai ideology[4]. Jadi dengan menjabarkan naluri-naluri seksual ke dalam pelbagai kebutuhan konkret, kita akan memahami bahwa ideology justru merupakan semacam represi atau penundaan terhadap kebutuhan tersebut, dan patut dikemukakakan bahwa dorongan-dorongan psikis itu tidak hanya bersifat biologis, melainkan juga historis. Artinya mereka juga merupakan produk sosial tertentu. Dengan demikian psikoanalisa tidak hanya dapat menerangkan gejala-gejala yang sifatnya individual, tetapi juga sosial analisa terhadap dorongan-dorongan psikis yang bersifat sosial, tentu akan makin membantu untuk menyelami pelbagai bentuk rasionalitas sosial yang terkandung dalam ideologi.
Buat sekolah Franfurt usaha Fromm untuk mengintegrasikan psikoanalisa Freud dan ajaran Marx dari sudut teori tentang naluri itu memang merupakan sumbangan besar untuk makin memperkaya kritik ideology. Namun mereka beranggapan teori Freud superegolah yang paling memberi kunci kritik ideology. Freud menerangkan bahawa ego ideal atau superego dapat berbentuk pribadi, kelompok yang mungkin saja dibenci, dimusuhi, secara aktif (seperti anak terhadap bapak dalam keluarga). Pada jaman ini ajaran Freud itu bisa berbunyi, kendati penguasa itu dibenci dan tidak disukai, toh kelas yang ditindas oleh penguasa tetap tertarik secara emosional kepada penguasa tersebut.
Superego tersebut bisa berbentuk rasional atau ideologi yang terus menerus menentukan anggota masyarakat tetapi anggota masyarakta msih saja mematuhinya. Padahal dibalik superego tersebut tersembunyi berbagai kepentingan untuk memanipulasi dan menindas. Bersama Freud mereka yakin bahwa individu menderita dibawah pelbagai paksaan dan tekanan dalam bentuk tingkah laku dan cara berpikir yang sudah ditentukan bukan kemauannya. Sekolah Frankfurt ingin memahami ilusi itu supaya individu dapat membebaskan dirinya dari konflik-konflik terinternalisir yang membutakan dirinya dan memincangkan tindakannya.


[1]Lih. W.F/ weirtheim.1974. The Rising waves of Emancipation from Counterpoint toward Revolution”dalam Emanuel de Kant dan Gavin William, (ed). Sociology and Development, London: Tavistock Publications, hal 318.
[2]Kutipan tentang Horkeimer  dalam ibid hal.10
[3] ibidem
[4]Kutipan tentang From dalam Phil Slater, op.cit hal.97

Komentar

Postingan Populer