Menanti di ujung Senja

Menanti di ujung Senja
Hari itu rasanya aku ingin bunuh diri. Pekik ku dalam hati. Hingga kubanting tubuhku diatas kasur kasar. Kupejamkan mata menghapus semua lelah yang mendera. Suara itu kembali terdengar dalam otakku. Membuatku memutar kembali memori yang sempatku. “Andai saja hari itu”. Hatiku terus berontak kesal mengingat-ingat kejadian yang telah hampir membunuh hatiku. “sial” tambahku kesal. Aku hampir tak percaya. memori otakku terus saja memutar ulang kejadian itu. Air mataku hampir menetes ketika seluruh adegan demi adegan kembali teringat. “kenapa” bisikku.  Hingga ku buka mataku agar dapat melupakan kejadian yang dulu sempat merenggut kebahagiaanku. Rasanya hatiku sudah terlalu lelah untuk menahannya. Bola-bola bening kemudian mengalir halus dipipiku. “kenapa harus aku” pekikku lagi. Rasanya inngin kuteriakan pada dunia. Ingin kuceritakan bagaimana kejamnya dunia ini kepadaku.
“Kirana” terdengar suara halus nan lembut yang kemudian memecahkan kegundahan yang sedang menghantui hatiku. “Iya bu” balasku singkat. “ayo makan dulu nak. Dari tadi sepulang sekolah kamu belum makan”. “iya bu sebentar kirana ganti baju dulu”. Kemudian suaranya hilang ditelan suara angin yang bertiup pelan. Kulangkahkan kaki menuju ruang makan. Disana sudah menanti perempuan setengah baya. wajahnya terlihat kusut. Tangannya yang dulu halus kini telah kusut termakan oleh waktu. Senyum tulus yang terpancar diwajahnya mampu menenangkan kegundahan yang sedari tadi menyelimuti hatiku. “ayok nak makan dulu” ucapnya pelan dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. “iya bu” jawabku singkat. Wanita setengah baya ini kemudian meletakkan sesendok nasi serta lauk pauk kedalam piring yang tersedia didepanku. Kusantap dengan lahap makanan yang disajikannya.
Bintang-bintang terlihat berbinar. Kupejamkan mata berharap dapat menghapus memori itu. Tapi percuma saja semakin aku ingin menghapusnya semakin jelas adegan demi adegan melayang dalam otakku. “sial kenapa sulit sekali” pekikku. “aku hanya ingin tidur dengan tenang Oh Tuhan” aku kembali menjerit pelan. Namun sayang tangisku kembali pecah ketika setiap kali kejadian itu terbayang dalam ingatanku. Ku raih handphone mungilku. Ku putar musik yang beberapa musik yang kemudian membawaku menuju alam lain yang dapat membuatku tenang.
Mentari telah terbit diufuk timur. Terlihat nan indah suasana dipagi hari. Diiringi dengan kicauan burung yang membuat lengkap indah dipagi ini. Kulangkahkan kaki menuju ruang tengah mencari sosok wanita setengah baya tapi tak jua kutemukan. Bayangnya seolah musnah. Kuraih tasku dan kemudian melangkah menerjang sinar sang mentari. Disekolah suasan terlihat sudah ramai. Orang-orang berlalu lalang didepanku. Kakiku terus saja melangkah menuju salah satu ruangan bertuliskan XII IPS1. Memasuki ruang kelas yang tak bersahabat membuat pikirnku kusut. Lantainya kotor belum tersapu, sampah berserakan dimana-mana. Pemandangan yang sangat buruk. “kemana orang-orang yang piket. Kenapa jam segini mereka juga belum datang padahal sebentar lagi akan amsuk kelas” gumamku. Mataku terus menatap tajam melihat ruang kelas yang kotor. “ selamat pagi nyonya besar”. Suara itu memecahkan suasana kemalut.  “apa-apaan ini” jawabku kesal. Mataku menatap tajam kearahnya. Diapun tidak mau kalah menatap dengan tatapan seolah-olah ingin membunuh lawannya.
Satu persatu mulai berdatangan. Setidaknya dapat memecahkan suasana tegang yang tengah menyelimuti. “pagi-pagi sudah ada yang mau perang” ledek salah satu laki-laki berparas gagah dengan hidungnya yang mancung  serta postur tubuhnya yang tinggi belum lagi ditambah kulitnya yang putih menambah pesonanya. Tak kuhiraukan perkataannya. Kulangkahkan kaki meninggalkan kelas. Ku ambil napas panjang untuk mengurangi sedikit beban yang ada. “kenapa sih pagi-pagi seperti orang mau perang” suara laki-laki tadi kembali terdengar. “dan kenapa kamu selalu ikut campur” jawabku ketus. “Kirana kumohon berhenti bersikap dingin kepadaku.” “Terus” suaraku kembali terdengar dingin seolah-lah tak kuhiraukan kata-kata yang ia lontarkan. “kirana kumohon jangan seperti ini terus. Aku tersiksa dengan sikapmu yang seperti ini. Ku mohon berhentilah bersikap dingin.” Matanya menatap tulus. Hatiku tetap keras membantu.”maaf Bayu aku ada urusan kita bahas lain kali saja”. Tatapannya penuh dengan rasa kecewa. Sementara hatiku masih keras. Mataku kembali mengeluarkan butiran halus. Mengalir seperti aliran sungai.
Sinar matahari begitu menyengat. Panasnya seperti berada dalam neraka. “sayang hari ini pulang dengan siapa” ujar salah seorang dengan nada yang tulus. “stop memanggilku dengan panggilan itu” jawabku ketus. “hahaha kamu ini jangan sok bersikap dingin seperti itu” jawabnya dengan nada meledek. Ku tarik napas panjang. “kamu kenapa sih sayang”. “berhenti memanggilku dengan kata itu apa kamu tidak malu”. Tak kuhiraukan dia. Kakiku terus melangkah pelan menerjang panasnya matahari. Dia mengejar dengan langkah yang kuat. Senyum tulusnya merekah diwajah cantiknya. “sudahlah kirana aku ini sahabatmu. Kita sahabatan juga sudah lama. Bukannya kita sudah biasa dengan panggilan itu. Dijaman sekarangkan juga banyak sesama perempuan yang saling memanggil dengan kata sayangg, bebeb, yah banyak lagi”. “tapi aku tidak suka Cha”. Haha kamu ini memang tidak pernah berubah”. “sudah ayok pulang”. Dia menarik tanganku halus. Dia memang satu-satunya sahabat yang paling mengerti dan selalu ada untu ku.
Malam ini kembali bintang bersinar dengan indahnya. Binaran sinarnya menyejukan hati. “andai saja” bisikku pelan. Cepat-cepat aku mengalihkan pikiranku. Serasa tidak ingin memutar ulang kejadian yang masih tersimpan rapi dalam memoriku. “kak” terdengar suara agak pasi memecahkan suasana. “masuk dek” jawabku pelan. Tangannya yang halus meraih tanganku. Tatapannya penuh tanda tanya. Seperti ada sesuatu yang hendak ia sampaikan. “ada apa dek” ucapku halus. “aaku”. Suaranya masih terbata-bata. “adek kenapa? Kasih tahu kakak dek ada apa”. Dia kemudian memelukku erat. Pikiranku penuh tanya. Ada apa dengan adek kecilku kenapa dia terlihat sangat sedih. “aaaku ka,,,,,,” suaranya masih terbata. Hingga kurasakan ada yang berbeda. tanagnnya masoh erat memeluk tubuhku. Hatiku terus bertanya. “ada apa adek? Cerita sama kakak”. “aaakuuu,, kaaa,,” suaranya masih terisak diiringi melodi tangisan yang sedari tadi. Seolah ada kata yang tak sempat terucap. “kenapa dek? Jawab kakak”. Tangannya melapas tubuhku. Kutatap dengan pandangan penuh tanya. Namun pandangannya msih saja tertunduk. Diangkatnya wajahnya yang sendu sembari mengeluarkan senyum manisnya. “tidak ada kak” ucapnya sembari mengeluarkan senyum mungil yang selalu meneduhkan.
“kamu yakin tidak apa-apa? Tidak ingin berbagi sama kakak?”. “tidak kak. Gita nggak apa-apa kok kak?” suaranya meyakinkan seolah-olah memberikan isyarat kalau dia memang baik-baik saja. Senyumnya terus saja merekah pada wajah manisnya. Diraihnya tanganku sembari berbisik kepadaku. “kak jangan tinggalin Gita kak. Gita sayang kakak. Sayang banget”. Senyumnya kembali merekah. Aku hanya tertegun melihat perubahan sikap adik kecilku. “iya dek kakak janji. Kakak juga sayang sama Gita” balasku dengan membals senyum yang sedari tadi dilontarkan adikku. “ayok kita makan kk. Kasihan ibu sudah menunggu kita”. Aku hanya menangguk pelan. Dimeja makan aku melupakan kejadian tadi. Ibu dan Gita terlihat sangat bahagia. Kupandangi mereka dengan tatapan penuh kasih sayang meski hatiku terus bertanya tentang perubahan sikap adikku tadi.
Dipojok kelas tengah berdiri seorang laki-laki dengan tatapan ganas. Kakinya mengayun melangkah kearahku. Matanya tak berkedip memandangku. Aku tertegun. Badanku gemetaran. Sejenak dia berhenti tepat dihadapanku. “na” ucapnya halus. Aku memandanginya dengan tatapan penuh tanya. Bibirku masih bungkam. Matanya memandang ganas kearahku bak singa yang ingin menerkam mangsanya. Langkahnya semakin mendekat kearahku. Kini laki-laki berpostur tubuh tinggi itu berdiri tepat didepanku. Tatapannya masih ganas.  Aku masih saja membungkam. Lama dia menatapku. Seolah-olah ada pesan yang ingin tersampai lewat matanya. “na” ucapnya pelan. Sejenak ia diam. Keheningan menyelimuti hanya suara angin yang berlalu lalang. “na” ucapnya memecah kesunyian. “bisakah kita kembali seperti dulu”. Serasa disambar petir mendengar kalimat yang  ia lontarkan. Kakiku terasa lemas. Namun hatiku terus memekik. “hah !! kembali seperti dulu setelah kau membunuh mimpiku” pekikku dalam hati.“Maaf bayu. Aku ada rapat diruang Osis” jawabku singkat. Aku memutar balik tubuhku seketika meninggalkan Bayu yang masih tertegun. ia mungkin tahu kalau itu hanya alasanku untuk tak memberikan jawaban atau sekedar menghindarinya.
Perkataan Bayu benar-benar mengahantui pikiranku. Ia mampu mencuri konsentrasi yang sudah susah payah aku kumpulkan. “kamu kenapa na”. ucap seorang wanita yang sedari tadi tengah mengamati tingkahku. “nggak apa-apa kok” jawabku pelan. “Bayu lagi” ucapnya penuh tanya seolah-olah ia tengah menerka kejadian apa yang tengah aku alami bersama Bayu. “Ng-ng-nggak kok Cha”. “nggak usah bohong sama aku deh na. apa yang dikatakan Bayu sama kamu ayok cerita”. Wajahnya semakin mendekat kearahku. Tatapannya tajam penuh tanya. Ia memang selalu tahu setiap kejadian yang menimpaku tanpa aku ceritasekalipun. Kadang aku sempat berpikir dia seoarng paranormal yang bisa menebak masalah seseorang. Anindita Rosa. Perempuan yang disering dipanggil Ocha ini memili paras yang cantik, anggun, ditambah dengan tubuhnya yang tinggi semampai bak seorang bidadari yang diturunkan Tuhan ke Bumi. Tutur sapanya halus nan Lembut pandai bermain piano dan Biola. Laki-laki mana yang tidak tertarik dengannya. Tidak hanya cantik fisik namun juga memiliki hati yang bersih. Berbeda sekali denganku gadis tomboi, kalau ngomong juga asal-asalan.
“Hei”. Suaranya memecahkan lamunanku. “Ditanya malah ngelamun. Ayok cerita”. aku masih memilih untuk membungkam. “yakin nggak mau cerita? ya udah kalau gitu sana cerita sama rumput yang bergoyang”. Ujarnya dengan nada kesal. Sejenak suasana menjadi henin. “Bayu” suaraku memecahkan keheningan. Ocha menatapku dengan penuh tanya. “Bayu memintaku agar kembali seperti dulu na. mengulang kisah yang sudah dulu kubunuh”. “tu kan apaku bilang na. Bayu itu nggak salah”. Tatapanku berubah. Ada rasa kecewa dalam batinku. Sahabatku sendiri membela orang yang telah membunuh mimpiku. “bagaimana mungkin dia nggak salah na jelas-jelas waktu itu dia..” belum sempat kulanjutkan perkataanku Ocha melanjutkan perkataannya. Kali ini dia menaikan nada suaranya. “Itu karena kamu waktu itu nggak mau dengar penjelasan dari dia na. coba kamu dengar penjelasannya Bayu kamu dapat tahu mana yang benar dan mana yang salah”. Tatapannya semakin menajam. “kamu nggak tahu na gimana pengorbanan yang dilakukan Bayu ke kamu. Kamu nggak tahu na karena kamu nggak pernah mau tahu. Selama ini dia selalu ngelindungin kamu tapi dimatamu dia nggak pernah benar. Maaf na.sebagai sahabat aku wajib mengingatkanmu. Karena seorang sahabat tak akan selamanya memiliki pendapat yang sama, terkadang akan berbeda tapi percaya aku begitu karena aku ingin memecahkan kesedihan yang kamu rasakan na”.
“nggak cha. Semua laki-laki itu sama”. “jangan kamu berbicara seperti itu hanya karena kamu menengok ke masalalu. Aku tahu apa yang kamu alami. Tapi tidak semua laki-laki seperti itu na”. serentak perkataan ocha membuatku kembali memutar memori yang pernah kubuang jauh dalam pikiranku. Hatiku bergetar takut. Aku merasa tersudut. Kakiku lemas. Seluruh tubuhku rasanya tertusuk ribuan jarum yang menghujaniku. Bibirku kaku. “kenapa cha? kenapa kamu mengingatkan aku tentang kejadian yang selama bertahun-tahun ini telah berusaha kukubur? Kenapa kamu jahat cha? Pekikku dalam hati. Ocah yang sedari tadi melihat perubahan sikapku mengusap pundakku. Namun segera kutepis tangannya. Ia tersentak kaget. Aku berlalu meninggalkannya dengan sisa tenaga yang kupunya. Ia masih berdiri tertegun memandang kepergianku.
Sore itu suasana terasa indah. Tiupan semilir angin menambah nuansa Indah. Kulangkahkan kaki menyusuri panjangnya sabuk hitam.”dengan tekad dan usaha yang kuat aku yakin hari ini aku pasti bisa menaklukan rasa takutku”. Gumamku penuh semangat. Kakiku terus saja melangkah. Hingga terhenti disalah satu tempat yang sangat megah. Serasa mimpi bisa menginjakkan kaki ditempat ini. Wajahku sumringah bahagia menatap tiap sudut ruangan tersebut. “hai na” terdengar suara laki-laki berpostur tubuh tinggi memanggilku. Ia melambaikan tangan kearahku seolah-olah memberikan isyarat padaku untuk menghampirinya. “kamu sudah siapkan?”. Tanya nya dengan semangat. “Aku yakin kamu pasti bisa sayang bisiknya dengan penuh kasih sayang. “Terimakasih sayang” balasku singkat. “Kamu jangan gugup gitu dong jelek tahu”. Suara ledekannya mampu memecahkan keraguan yang mengganjal dihatiku. Dia memang laki-laki yang baik. Rhama Ardian laki-laki yang selama dua tahun ini menemani perjalananku. Ia yang mengisi hariku dengan penuh kasih sayang yang tidak penah kudapatkan sebelumnya. sikapnya, tutur sapanya yang lembut memberikan kenyamanan.

            Matanya masih menatap tajam kearahku. Seolah ia dapat membaca kegundahan yang tengah menghantuiku. Hatiku sudah mulai tak karuan, pikiranku sudah mulai kacau bagai kaset dalam DVD yang rusak. Rhama mulai melangkahkan kaki menuju kearahku. “Masih belum datang juga? Sudah di telpon?”. Tanyanya pelan. “belum. Udah ku telpon juga nggak diangkat”. Dia tersenyum menenangkan hatiku. “Sudah sayang tenang dulu siapa tahu dia sedang dijalan. Positif thingking aja ya”. Sikapnya yang tenang dan dewasa yang membuatku benar-benar jatuh hati kepadanya. Dia mampu menangkan hatiku dalam berbagai situasi. “Selamat Sore para Peserta Festval Musik Nusantara”. Salah satu pemandu acara mulai membuka acaranya. “Senang sekali ya semuanya kita dapat berkumpul diacra yang supe megah ini”. Lanjut salah satu pemabawa acara yang berparas cantik nan anggun. Aku terus saja melihat ponselku. “ya ampun Bayu kamu kemana ? kenapa belum juga datang?” gumamku. Mulutku terus menggerutu. Hatiku sudah mulai tidak tenang. Pikiranku bertambah kacau.
            Kuraih telponku. Kupencet dan mencari-cari nomor Bayu. Kutelpon namun tetap saja tidak ada yang menjawab. “sial!! Bayu kamu dimana” pekikku. Rasanya sudah panas. para peserta sudah mulai menunjukkan keahlian mereka dalam bermusik. “Sebentar lagi giliranku” batinku kini berbisik. Mataku terus mencari sosok bayu ditengah kerumunan orang-orang yang berdesak-desakan menonton acara tersebut. Rhama terus saja menenangkan kegundahanku. “coba telpon sekali lagi” ujarnya tenang. Kembali kutelpon namun kali ini terdengar berbeda. tidak aktif. Pikiranku bertambah kacau. Hatiku sudah mulai tidak karuan. Benar-benar tidak bisa berpikir dengan tenang. “kenapa? Kenapa Bayu? Kamu mau menghancurkan mimpi yang sama-sama kita buat? Mimpi yang selama ini ingin kita raih sekarang sudah berada didepan mata. Apa kamu ingin menyia-nyiakannya?” hatiku terus bertanya-tanya. “mbak” seorang crew dari acara tersebut memecahkan kebimbangan. “sebentar lagi gilirannya segera dipersiapkan”. “tapi mas rekan saya belum datang bisa di skip kemudian diganti kepeserta yang lain nanti kalau sudah datang akan saya kabari”. “Maaf mbak kalau teman mbak belum datang terpaksa tim anda kami diskualifikasikan”.  Tegasnya.
            Mataku terus ecari-cari sosok Bayu. Namun tak kunjung terlihat.”ya Tuhan”. Kini badanku terasa lemas. “gimana mbak apa rekannya sudah datang” tanya salah seorang crew kepadaku. “masih belum mas. Tunggu sebentar lagi ya”. Berusaha meyakinkan agar tim kami tidak didiskualifikasikan. “Maaf mbak kami sudah menunggu 5selama 5 menit kami tidak bisa lagi memberikan toleran waktu. Jadi maaf mbak dengan sangat menyesal tim anda kami diskualifikasikan”. Bak petir menyambar.  Mimpi yang kini didepan mata kini telah musnah dalam sekejap mata. “Tapi pak bisakah anda menunggunya sebentar saja” Rham menari ulur tangan Crew tersebut yang ingin memberikan isyarat kepada MC untuk melanjutkan kepeserta yang lain. “maaf mas ini sudah menajdi peraturan yang kami buat”. “Mas saya bisa tampil sendiri. Saya bisa main gitar”. “maaf mbak ini group bukan solo jadi kami tidak bisa”. Sekuat tenaga Rhama berusaha meyakinkan para crew namun hasilnya tetap saja nihil. “sudahlah Rhama semunya sudah berakhir. Impi ang kini telah kubangun  runtuh seketika”. Hatiku kecewa. Sakit,, perih semuanya terasa menyatu. Rhama berusah menenangkanku. Namun masih saja bayangan Bayu meanri-nari dipikiranku.
            Senja itu terlihat sangat Indah. Warna jingga yang memancarkan sinarnya tampak sangat Indah. Tak heran jika banyak orang yang rela menunggu  untuk menikmati keindahannya. “setiap orang punya mimpi. Setiap orang punya rencana tapi selebihnya Tuhan yang menentukan bagaimana kita. Percayalah sayang Tuhan selalu memberikan apa yang kita butuhkan meski terkadang bukan seperti apa yang kita inginkan”. Kata-kata bijaknya sedikit menenangkan kegundahan hatiku. Tapi dalam benakku masih banyak seribu tanya tentang sikap Bayu yang tiba-tiba menghilang. “Rham. Kenapa Bayu nggak datang diacara penting ini, disaat mimpi sudah didepan mata. Hanya tinggal selangkah lagi”. Rhama menatapku dengan penuh rasa Iba. “Mungkin dia punya alasan tersendiri kenapa dia tidak datang”. “tapi setidaknya dia bisa mengabariku ram.” Di pegangnya erat tanganku. Ditatapku dengan  penuh rasa cinta. “Sayang, mungkin keperluannya sangat mendesak sehingga dia tidak bisa mengabarimu. Besok kamu tanyakna padanya”. Diraihnya tubuhku dengan kehangatan. Dia memelukku dengan penuh kasih sayang. Rasa sakit itu sedikit demi sedikitpun memudar.
            Diujung senja ini aku menunggu suatu kepastian yang tidak pernah kudapatkan. Hingga sampai saat ini masih belum juga menemukan titik terang. Memori itu tiba-tiba melintas dipiranku. Kenapa harus kuputar lagi kejadian yang telah lama kubuang. Kenapa harus aku ingat lagi laki-laki yang pernah menyakitiku. Laki-laki yang mengkhianati cinta tulus yang kuberikan. Laki-laki yang selalu membuatku nyaman ketika berada disisinya. “Tuhan !! kenapa dia mengkhianati cinta tulus yang kuberikan. Kenapa ram kenapa kamu” tangisku memecahkan suaraku. Hatiku terasa terkoyak. Sakit terasa keubun-ubun. Setahun kucoba mengubur masa lalu yang kelam namun tetap saja bayang nya selalu terlintas. “Rhama aku merindukanmu”. Hatiku berbisik. Ingin sekali mengulang saat indah bersamanya.
            Ia masih tertegun. Duduk di bangku kosong dekat kelas. Pandangannya kosong. Entah apa yang sedang dipikirkan laki-laki berparas gagah ini. Bibirnya masih terbungkam. Suasana sunyi hanya suara semilir angin yang sedari tadi meniup halus tubugnya hingga membuat rambutnya yang rapi terayun-ayun. “andai saja waktu itu kamu mau mendengarkanku na”. ucapnya pelan. Nada suaranya terdengar memelas. Ia kembali memutar memorinya. Mengingat kejadian yang terjadi beberapa tahun silam. Namun sebuah suara memecahkan konsentrasinya. “Bayu”. Seorang perempuan canti anggun tengah melambaikan tangan kearahnya dan kemudian menghampirinya. “kamu ngapain disini sendirian, ntar kesambet baru tahu rasa”. Suaranya yang halus memecahkan suasana. “Nggak apa-apa kok cha. Aku Cuma lagi pengen sendiri aja”. “alasanmu basi yu. Bilang aja kamu lagi galau kepikiran kirana”. Sontak bayu kaget seolah sahabatnya itu bisa mengetahui isi pikirannya. Namun dia tetap mengelak.
            “Nggak kok cha. Eh kamu ngapain kesini”. “elehh jangan sok ngubah topik pembicaraan deh yu. Aku tahu kok kamu tadi ngomongkan sama Kirana”. “kamu tahu darimana cha? Aneh udah kayak dukun aja”. “haha aku kan emang dukun. Dukun cinta”. Keduanya hanyut dalam tawa. Mereka melupakan kejadian yang menimpa mereka hari itu. Tatapan mereka penuh bahagia. Sudah lama rasanya mereka tidak mengobrol panjang speerti itu. Karena ocha juga menghargai sahabat kecilnya Kirana. Namun disisi lain tetap saja kalau bayu juga adalah sahabat baiknya. “Terkdang kita harus menyembunyikan suatu kebenaran bukan karena takut untuk mengatakannya tapi, tapi karena kadang karena tidak ada yang ingin mendengarkan penjelasan tersebut”. Ucap Bayu pelan. “tapi sampai kapan yu? Apa kamu tidak kasihan dengan Kirana. Ia begitu tersiksa. Sudah banyak beban yang dipikulnya. Ditambah dengan kejadian waktu itu”. Sejenak suaranya terhenti seolah tak ingin kembali berkata. Berat rasanya jika harus mengingat penderitaan yang dilalui sahabatnya itu.
            Tubuhku masih terbaring diatas kasur . Pikiranku melayang. Entah kemana pikiran ini ingin membawa memoriku. Kembali kupejamkan mata berharap mendapatkan suatu ketenangan. Tapi rasanya seperti percuma. Otakku memaksaku untuk menggali memori yang sudah pernah kukubur. “ayah”. Hatiku tiba-tiba bergetar ketika bayangan seorang  anak kecil menyebut kata itu. “ayah kakiku sakit”. Anak itu merengek kesakitan. Kakinya yang dipenuhi luka membuatnya tak mampu untuk bergerak. “sudah sayang tidak apa-apa hanya luka kecil biasa. Kalau diobati juga pasti sembuh”. Laki-laki separuh baya itu berusaha menenangkan buah hatinya. tangannya yang keras dengan telaten mengobati luka putri kecilnya. “sudah kan nggak sakit lagi”. “iya ayah sudah tidak sakit lagi. Kirana sayang ayah”. Dipeluknya putri kecilnya dengan penuh kasih sayang. Tanpa disadari gadis kecilnya tertidur dalam buaian sang ayah.
            Perabotan rumah berserakan dimana-mana lebih terlihat seperti kapal pecah. Seorang perempuan setengah baya tengah meraung kesakitan. Bukan karena sakit fisik. Bahkan ditubuhnya tidak tampak sama sekali luka lebam ataupun sayatan pisau. Kali ini sakit yang tidak ada obatnya. Sakit hati. Tangisannya kembali meluap. Entah apa yang tengah terjadi antara pasangan suami istri ini. Seorang anak kecil melihat dengan seksama adu mulut yang dilakukan orangtuanya. Ditatapnya dengan penuh tanya. “aku tidak menyangka mas pernikahan yang telah kita bina selama ini harus hancur karena orang ketiga”. “Maafkan aku Ratih aku benar-benar tidak ingin menyakitimu”. Di pegangnya erat tangan istrinya. Namun dengan cepat ditangkis. “jangan sentuh aku lagi. Aku tidak sudi disentuh oleh laki-laki yang tega berkhianat. Mengingkari Janji yang diucapkan pada Allah”. Laki-laki itu terdiam. Sementara perempuan setengah baya itu  masih larut dalam isak tangisnya.
            Anak kecil itu hanya tertegun mengamati kejadian demi kejadian yang kemudian tersimpan dalam memorinya. Dia mungkin masih belum mengerti seutuhnya apa yang tengah dialami oleh kedua orangtuanya. “Sekarang mas harus memilih aku dan anak-anak kita atau perempuan itu”. Laki-laki itu tertunduk dalam diamnya. Seolah terasa berat untuk memilih. “maafkan aku Ratih, sepertinya pernikahan kita memang cukup sampai disini. Aku akan pergi bersamanya.” Sontak perkataan laki-laki itu membuat Ratih tak berdaya. Bak disambar petir yang menggelegar. Tubuhnya terasa mati. Hatinya berkecamuk. Rasa marah, kesal, kecewa meramu menjadi satu. Seolah tengah diaduk dalam api yang panas. “saya tidak menyangka mas Herman akan mengakhirinya seperti ini. Dulu kita membangun istana ini dengan susah payah tapi sekarang dengan mudahnya kamu menghancurkannya mas. Kamu benar-benar hebat”. Suaranya terhenti kini berganti dengan isak tangis. “apa alasanmu mas meninggalkan kami hanya demi perempuan itu. Tidakkah kamu menengok anak-anak kita yang masih kecil mas? Tidak kah itu yang menjadikan alasanmu untuk bertahan mas?”.
“Maafkan aku Ratih. Aku merasa kesepian. Kamu begitu sibuk dengan pekerjaanmu. Dan maafkan aku Ratih aku telah mengkhianati janji suci kita”. “pergilah mas kalau begitu tinggalkan aku dan anak-anak. Aku sanggup merawat mereka seorang diri”. “Baiklah. Maafkan aku Ratih. Aku akan mengurus surat perceraian kita”. Terlihat laki-laki itu mengemas barangnya.  Anak kecil itu masih saja tertegun termangu melihatnya. Ditatapnya wajah anak mungilnya untuk terakhir kalinya. “nak ayah pergi ya jaga diri. Tumbuhlah menjadi perempuan kuat seperti ibumu. Maafkan ayah yang tidak bisa menjaga kepercayaan ibumu. Kelak jika kamu dewasa temukanlah laki-laki yang bisa menjagamu terutama hatimu. Jangan mencari  laki-laki seperti  ayah. Ayah menyayangimu”. Diciumnya kening kedua anaknya. Si mungil Gita tengah tertidur. Rasanya berat sekali kakinya melangkah meninggalkan istananya. Diluar tengah menunggu seorang perempuan dengan membawa mobil mewahnya. Herman kemudian memasuki mobil tersebut. Hingga perlahan demi perlahan bayang mereka menghilang.
“Ibu ayah mau kemana? Kenapa dia pergi berasama perempuan itu bu?. Ratih memeluk anaknya kencang. Ia sendiri tak dapat menyembunyikan rasa kecewanya terhadap suaminya. “sudah nak. Sekarang kirana, ibu dan Gita akan memulai hidup baru tanpa ayah. Kita akan bahagia sayang”. Dicimnya kening anaknya. Anak itu kemudian meraung. Seolah-olah ia mulai mengerti apa yang tengah terjadi dalam keluarganya. “ayahhh jangan pergi kirana sama siapa ayahh ayahhhh”.
“ayah ,, ayah jangan pergi,, ayahhhhhh”. “Kirana kamu kenapa bangun nak bangun”. Kali ini mataku berlinangan air mata. “ibu” ucapku pelan. Ibu memelukku dengan hangatnya. Seperti pelukan sewaktu aku kecil dulu. “sudahlah nak. Jangan mengingat kejadian itu lagi”. Rasanya sudah sangat sesak. Dalam pelukannya aku menagis tersedak-sedak. Namun perempuan dihadapanku ini benar-benar kuat. Ia mampu menjalani hidupnya sendiri. Membangun semuanya dari awal. Ia bahkan banting tulang untuk membesarkanku dan adikku. Hatinya yang kuat telah menjadikannya sebagai pribadi yang kuat. “Ibu” bisikku pelan. “kenapa sayang”. Dia mulai mengusap linangan air mata yang mengalir dipipiku. “ajari aku arti kuat yang sesungguhnya tanpa harus mengeluh sedikitpun”. Dia hanya tersenyum dan kemudian memelukku dengan erat. “satuhal yang ahrus kamu ingat nak. Jangan pernah terlihat lemah didepan orang lain meskipun kamu sedang menderita sekalipun. Kamu dan Gita adalah alasan ibu untuk tetap berjuang dan kuat”.
            Rinai hujan membasahi setiap yang dijumpainya. Alunan petir menyambar dimana-mana. Rasanya sudah sangat lega ketika harus berbagi duka dengan sosok perempuan tegar. Ada sedikit beban yang terlepas. “Ayah aku masih ingat pesanmu itu. Namun hingga senja tiba aku masih belum juga berjumpa dengannya” bisikku dalam hati. Kututup mataku menikmati nuansa yang terasa sangat menenangkan jiwa. “haii sayang. Lagi ngapain diluar kelas gini masuk yukk”. “kamu apaan sih cha selalu gitu”. “iya deh maaf”. “Cha ,, aku kangen sama Rama”. “apa kangen? Nggak salah dia ninggalin kamu Cuma buat perempuan lain. Hellow”. Aku hanya terdiam. Semuanya masih terasa seperti mimpi. Mimpi buruk yang tak pernah kuharapkan. “eh udah jangan galau gitu lupain Rama na. lupakan masa lalu yang hanya akan menghalangi jalanmu. Buka matamu masih banyak yang harus dikerjakan. Jangan habiskan waktumu hanya untuk memikirkan orang yang belum tentu memikirkanmu apalagi menyayangimu. Sudah nanti sore ikut aku ya”. “kemana?”. “nanti juga kamu akan tahu”. Senyum manisnya mulai merekah diwajah imutnya. Sontak suasana kembalii hanyut dalam rintihan hujan yang dibalut dengan gentaran petir.
            Sisa-sisa hujan masih menyelimuti  nuansa sore. Entah kemana gadis berpras cantik ini akan membawaku. Langkah kami masih belum terhenti. Hingga tiba disuatu danau yang yang indah. Danau tersebut dikelilingi oleh bunga-bunga yang indah. Belum lagi kura-kura yang terdampar disekitaran danau menambah lengkap keindahan danau tersebut. “Cantik banget cha”. Aku masih tertegun menyaksikan indahnya ciptaan Tuhan. “mm na sebenarnya ada yang ingin ketemu sama kamu”. “aku?”. Tiba-tiba muncul seorang laki-laki berpostur tubuh tinggi. Wajahnya tampan penuh pesona. “dia” batinku mulai berbisik. Rasanya sakit yang dulu hilang kini bermunculan kembali.”ngapain kamu kesini”. “na aku mau ngejelasin semuanya”. Wajahnya tampak meyakinakan. “na. kamu tidak akan tahu kebenaran jika kamu tidak mendengar penjelasan”. Kali ini ocha menmbahkan. “jangan biarkan hatimu membatu na. aku begini karena aku sayang sama kamu. Kamu sahabatku na. aku nggak mau kamu hidup dalam bayang-bayang kebencian”. Sontak bibirku terbungkam rapat.”baiklah bayu kamu mau ngomong apa”.
Mendegar penjelasan yang dilontarkan Bayu membuatku diam terbungkam. Aku tak menyangka dia mengalami hal yang lebih parah dariku. “tapi kenapa kamu tidak cerita yu”. “maafkan aku na. sebenarnya Rama juga mengetahui hal ini tapi aku sengaja menyuruhnya untuk tidak memberitahumu”. “Rama tapi ,,, kenapa yu kenapa kamu tidak jujur padaku. Pantas saja selama ini  aku tak pernah melihatmu memainkan alat musik”. “aku jauh lebih tersiksa na. kecelakaan yang menimpaku saat aku hendak ke pergi ke lokasi lomba belum lagi vonis dokter”. Kata-katanya terhenti. Aku tahu dia sudah tak kuat untuk melanjutkan katanya. Dalam batinku tumbuh penyesalan atas sikapnya kepada Bayu. “maafkan aku yu aku menyesal?”. Suasana seketika berubah menjadi sendu. Ocha tak kuat membendung kesedihannya. “kini kamu tahu kebenarannya na”. tak kuat rasanya menanggung penyesalan. Kulangkahkan kaki meraih tubuh Bayu. Ku peluk dia erat dengan rasa penyesalan. Tangisku pecah. Ia membalas pelukannku dengan erat. “aku menyayangimu na. sangat” bisiknya pelan yang hampir tak kucerna sedikitpun.
            Satu persatu beban mulai terasa hilang. Rasanya seperti memulai kehidupan baru yang telah lama hilang. Kehidupan yang aku inginkan dengan melepas semua beban yang selama ini berkecamuk dalam hatiku. “wahai Rabb-Ku Terimakasih telah mengurangi beban yang sedari dulu telah membungkam hatiku. Menutup mata batinku, yang membuat kacau kehidupanku. Kini telah kutemui bahagia yang selama ini kunanti dengan penuh kedamaian. Telah kutemukan kembali sahabat yang dulu pernah hilang. Dan telah kucoba untuk mengikhlaskan masa lalu yang hampir membunuh bahagiaku. Terimakasih Tuhan telah memberikan ketenangan ini”. Gumamku dalam hati dan menutup mataku dengan pelan. Ku ayunkan kaki melangkah dengan senyum yang merekah kuat. Merekahkan kembali sayap yang hampir patah terkubur masa lalu.
            Semuanya terasa sangat berbeda. ada kehidupan baru yang kudapatkan. Kehidupan yang bertahun-tahun telah lenyap yang hampir terhapuskan oleh ego. “duh yang dari tadi senyum-senyum sendiri”. “eh sejak kapan kamu datang cha”. “aduh gini yang dari tadi sibuk sendiri”. “hehe maaf cha, jangan marah ya “. “jangan pasang wajah memelas kayak gitu gue gak suka dan rasanya pengen maafin terus”. “selamat pagi para ladies”. “gue lapar kekantin yuk”. “aduh cha aku baru datang kamu malah langsung ngajakin kekantin”. “nggak apa-apa yu sekalian ngerayain persahabatan kita yang kembali untuh”. “nanti sore kita kepantai gimana”. “boleh juga idemu na”. oke nanti sore ya”.
            Senja mulai menampakkan pesonanya. Langit mulai merubah warnanya. Terlihat sangat indah dan memberikan ketenangan. Desiran ombak membuatku hanyut dalam lamunan. Rasanya sudah lama sekali tidak pernah merasakan ketenangan seperti ini. Tak hentinya kalimat syukur terus terucap dalam bibir ini. Bayu dan Ocha juga tampak sangat gembira. Ada senyum yang terpancar yang sempat hilang dan kini kutemukan kembali. “na”. suara itu membuat tubuhku bergetar. Suara yang telah lama hilang. Suara yang sangat kurindukan. Suara yang hampir membunuh hatiku. “tidak mungkin dia”. Gumamku berusaha meyakinkan hatiku. Mungkin hanya bagian dari sisa-sisa kerinduan yang masih menempel pada dinding hati. “na” suara itu kembali terdengar sangat jelas. “ini bukan suara desiran ombak yang membawa kerinduan. Namun ini nyata suara yang sedari lama kurindukan. Kuputar balik tubuhku. Betapa terkejutnya aku melihat laki-laki yang tengah duduk tak berdaya dikursi roda.
            Bibirku masih saja terbungkam. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Sesulit apa hidup yang dijalaninya. Hingga kini dia kembali masuk dalam kehidupanku lagi. “Rama”. Ucapku pelan dengan nada yang bergetar. “Apa yang terjadi denganmu. Kenapa kamu duduk di kursi roda ini”. Semua terasa seperti mimpi. Tubuhku tak hentinya bergetar. Aku hanya berdiri tertegun melihatnya. Senyumnya yang manis merekah seperti dulu. Masih seperti Rama yang kukenal. Dalam hati terus saja seribu pertanyaan inginku lontarkan kepadanya. Sementara Bayu dan Ocha masih tertegun berdiri tak percaya. “Na”. suaranya memecahkan kekabutan. “Na aku minta maaf untuk semua yang telah kulakukan. Untuk semua kekecewaan yang telah kuberikan padamu. Untuk semua luka yang telah kugoreskan dalam hatimu. Aku minta maaf na”. kata-katanya pecah oleh suara tangisnya. “sebelum kamu berkata Ram. Bolehkah aku mengajukan pertanyaan?”. “iya na, kamu boleh mengajukan seribu pertanyaan sekalipun untukku”. “aku hanya ingin bertanya untuk apa kamu datang kembali kekehidupanku setelah aku bersusah payah untuk melupakan semua kejadian yang hampir merenggut semua bahagiaku, yang mengubah semua duniaku, yang merenggut bahagiaku. Kenapa ?”. suaraku mengeras membuat Rama tertunduk. Bibirnya masih saja terbungkam. Air matanya terus saja mengalir.
            Rama menarik napas panjang. Kali ini ia mulai berbicara. “maafkan aku na. sebenarnya yang kamu ketahui bukanlah kejadian yang sebenarnya”. Sontak membuat memubuat aku dan yang lain tercengang. “Apa maksudmu ram?” kali ini Ocha angkat bicara. “sebenarnya aku memilih pergi bukan karena aku ingin pergi tapi kondisi yang menyuruhku untuk untuk pergi. Kalian liat kondisi aku yang sekarang. Aku bukanlah Rama yang dulu. Aku cacat”. Suara tangisnya kembali memecah. “waktu aku ingin menghampirimu ditempat ini na. Dalam perjalanan Sebuah Bus menabrak kendaraan yang tengah aku kendarai. Aku terpelanting keras. Saat itu aku tidak ingat apa yang tengah terjadi. Saat aku sadar aku tengah berada di rumah sakit. Ingin sekali aku memberitahumu kala itu. Tapi aku tak ingin membuatmu khawatir. Terlebih vonis dokter yang megatakan kakiku lumpuh membuatku semakin frustasi. Aku tak ingin mengecewakanmu na. aku tak mungkin membiarkanmu mencintai orang sepertiku yang lumpuh. Aku ingin kamu mendapatkan yang jauh lebih baik dariku na. aku ingin kamu bahagia tak lebih dari itu. Karena senyummu adalah penguat bagiku. Satu-satunya laki-laki yang bisa membuatmu bahagia adalah Bayu. Karena aku tahu dia sangat mencintaimu na. kemudian kuceritakan semua kondisiku padanya. Semua cerita yang kamu dapat tentang perselingkuhanku dengan perempuan lain semuanya adalah bohong. Aku sengaja, karena aku ingin membuatmu benci kepadaku dan cepat melupakanku. Aku ingin kamu bersanding dengan Bayu na. laki-laki yang memang lebih pantas untukmu”.
            “Laki-laki bodoh”. Ucapku dengan suara tersendak. “ kenapa kamu biarkan aku menunggu bertahun-tahun. Kenapa kamu tidak menceritakan semuanya. Kenapa kamu biarkan hatiku remuk. Kamu tahu aku tidak peduli tentang semua cerita itu. Aku tidak peduli kamu memilih wanita lain. Aku tidak peduli. Sampai sekarang diujung senja ini aku masih menantimu, masih mencintaimu hingga detik ini. Tak mungkin aku berpaling dengan cinta yang lain”. Suara tangisku kembali memecah. Aku tak percaya dengan apa yang saat ini aku rasakan. Kenyataan yang pahit. “na maafkan aku na. aku hanya ingin membuatmu bahagia dengan melepaskanmu denganBayu karena aku juga tahu selama ini bayu yang lebih dulu mencintaimu bukan aku. Bahkan sampai sekarang dia masih menunggumu na”. “lalu untuk apa kamu kembali jika hanya untuk mengundang perih. Mengundang semua cerita yang telah kukubur selama beberapa tahun ini”.
“aku kembali untuk cintaku. Aku sadar aku telah mengambil jalan yang salah dengan merelakanmu dengan yang lain. Aku sadar sekarang aku bukanlah laki-laki yang sempurna. Aku cacat. Aku tak pantas bagimu,tapi satu hal yang harus kamu ketahui aku masih rama yang dulu Rama yang mencintaimu dengan tulus yang selalu memegang janji untuk setia pada perempuannya yaitu kamu na. selama aku sakit aku terus saja mencari informasi tentangmu melalui sosial mediamu. aku bahagia saat kamu memposting semua cerita tentang kebahagiaanmu. Aku tukus mencintaimu na’.
Bayu melangkah hendak pergi namun Ocha menghentikan langkahnya. “katakan yu kalau kamu memang benar mencintainya. Ungkapkan apa yang kamu rasakan. Jangan kamu pendam lagi. “apa yang harus aku perjuangkan lagi cha. Cintanya telah kembali menjemputnya untuk kembali memadu kasih. Aku hanya duri dalam hubungan mereka yang hanya akan menjadi penghambat. Aku akan pergi. Cukup untuk menjadi sahabat saja sudah bisa membuatku sangat bahagia. Tidaklah pantas aku bersanding dengannya. Merebutnya dari kekasihnya yang datang menjemputnya”. “tapi setidaknya katakanlah padanya tentang perasaanmu kepadanya. Agar dia mengerti isi dalam hatimu”. “Na aku”. “sejak kapan kamu mulai menaruh rasa padaku yu”. “na aku. Hmm sejak kita pertama kali bertemu na dikelas yang sama. Sejak pertama kali melihatmu aku sudah bertekad dalam hatiku untuk terus bersamamu untuk terus mencintaimu. Sampai kamu memilih Rama sebagai laki-laki pilihanmu. Aku sakit na. tapi aku tahu rasa sakit yangku alami tak sebanding dengan bahagia yang kamu dapatkan. Dan sejak saat itu aku berjanji untuk terus bersamamu. Titik terang itu pernah datang saat Rama memintaku untuk menjagamu untuk mendampingimu. Tapi aku sadar aku tidak dapat menggantikan posisinya. Karena aku tahu yang didalam hatimu hanya dia. Tapi aku terus berusaha untuk menggantikan posisinya. Tapi sayang aku sempat gagal. Saat kamu memilih untuk menjauhiku. Hidupku terasa gelap. Aku merasa gagal hingga sekarang titik terang itu datang lagi. Aku tidak memintamu untuk mencintaiku na yang aku inginkan hanya terus bersamamu mendampingimu kembali. Sama halnya seperti dulu.
“ya Allah”. Bisikku dalam hati. Tubuhku lemas. Kenapa jadi serumit ini. Gumamku dalam hati. “na kamu baik-baik saja” ucap ocha yang sedari merasa tegang. “pergilah kalian. Aku tak memilih siapa-siapa diantara kalian. aku tak memilih cinta pertamaku ataupun sahabatku. Pergilah”.

Kaki kuayunkan menyusuri karang dipesirir pantai. Desiran ombak masih menemani ditengah kekabutan hatiku. “Ayah samapai diujung senja ini aku masih menunggu. Aku belum bisa memilih ayah. Biarkan saja senja yang nantinya akan menjawab semua penantianku. Dan aku akan menunggu sampai waktu itu akan tiba”. matahari mulai kembali dalam peraduan. Sisa-sisa sinarnya masih meancar ke awan menambah indah kedatangan senja.

Komentar

Postingan Populer