“Tari Pendet Sebagai Identitas Kebudayaan Masyarakat Bali”
“Tari Pendet Sebagai
Identitas Kebudayaan Masyarakat Bali”
Untuk Memenuhi Ujian Akhir Semester Civil Society dan
Multikulturalisme
Dosen Pengampu :
Luthfi J. Kurniawan

Disusun Oleh
Eviyana Utami (201410310311108)
Sosiologi B
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Muhammadiyah Malang
2016
BAB I
Pendahuluan
1.1
Latar Belakang
Negara Indonesia adalah
negara yang terkenal dengan keanekaragaman kebudayaan yang dimiilikya. Dari
sabang hingga merauke terlukis beraneka ragam kebudayaan dengan yang berbeda-beda.
Seperti Seni Tari, seni pahat, Seni Lukis, Rumah adat, Lagu khas masing- masing
daerah serta masih banyak lagi keanekaragaman kebudaayn lainnya. keragaman
kesenian kebudayaan ini menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia dan
menjadi kekayaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Kemudian menjadi identitas
tersendiri bagi bangsa Indonesia.
Identitas Nasional Bangsa
adalah suatu ciri yang dimiliki oleh suatu bangsa yang secara filosofis
membedakan bangsa tersebut dengan bangsa yang lain. Berdasarkan pengertian
tersebut maka suatu bangsa akan memiliki ciri khas yang menjadi identitas.
Identitas nasional merupakan jati diri yang melekat pada suatu bangsa.
Identitas nasional pada hakikatnya juga merupakan manifestasi nilai-nilai
budaya yang tumbuh dan berkembang dalam aspek-aspek budaya. Seperti halnya
Indonesia yang memiliki keanekaragaan budaya yang kemudian menjadi identitas
yang dikenal oleh seluruh masyarakat dipenjuru dunia.
Indonesia diminati oleh
para wisatawan ataupun Tourist dari mancanegara tidak hanya karena wisata
alamnya yang indah namun juga kareana kebudayaannya. Terutama Bali yang menjadi
sentral wisata yang tidak hanya menyugukan keindahan alamnya namun juga
menyugukan keindahan budayanya yang kemudian menjadi daya tarik tersendiri bagi
para pelancong seperti seni tari, seni ukiran atau pahat hingga seni
pertunjukan yang kerap disuguhkan oleh masyarakat bali.
Bali merupakan salah satu
Provinsi yang tersohr dengan keanekaragaman kebudayaan dan eksotisme tempat
wisata yang dimilikinya. Termasuk seni tari yang kerap menjadi suguhan utama
bagi para wisatawan. Bali mempunyai beberapa kesenian tari yang sudah mendunia
popularitasnya. Selain tari kecak, Tari pendet merupakan salah satu keseniaan
yang sudah tidak asing lagi bagi para pelancong lokal maupun mancanegara. Tari
ini secara rutin dipersembahkan dan
dipentaskan dan menjadi hiburan bagi para wisatawan.
Tari Pendet sendiri
merupakan sebuah pernyataan dari persembahan yang dituangkan dalam bentuk
kesenian. Menjadi populer karena kesenian ini sangat mudah ditarikan oleh semua
orang dengan latihan yang intensif. Tarian ini dapat dipelajari dalam
sanggar-sanggar tari yang sudah banyak dibentuk di daerah Bali sebagai wujud
pelestarian budaya yang hampir punah. Tarian ini tidak hanya dipelajari oleh
kalangan masyarakat Bali saja namun juga oleh para pengunjung dari mancanegara.
Tarian ini tidak hanya dipelajari di daerah Bali saja namun juga terdapat
diberbagai sanggar tari yang ada di Indonesia.
Tak dapat dipungkiri
keterbukaan masyarakat Bali dengan Touris-touris dari mancanegara untuk masuk
kedalam kebudayaan dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
Seperti halnya dengan kasus pengklaiman kebudayaan yang terjadi pada tahun 2009
yang dilakukan oleh Negara tetangga, negara jiran Malaysia. Salah satu stasiun
tv di Malaysia menayangkan iklan wisata dengan menyuguhkan tari pendet.
Tentunya hal tersebut mengundang banyak kontroversi dari berbagai kalangan
masyarakat di Indonesia khususnya masyarakat Bali yang menjadi induk atau
pemilik dari tarian tersebut. Hal tersebut kemudian menjadi kontroversi yang
meluas mengingat masyarakat Indonesia mempunyai jiwa nasionalis yang tinggi.
Dalam setiap bangsa
dipastikan memiliki adat dan kebudayaan masing-masing. Untuk itu, mereka
memiliki kewajiban untuk menjaga, melestarikan dan mengimplementasikan segala
adat dan kebudayaannya secara sungguh-sungguh. Demikian halnya dengan adat dan
kebudayaan yang ada dipulau Bali yang hingga kinipun masih dipegang teguh
secara konsistens oleh masyarakatnya. Terlebih lagi setiap kebudayaan yang ada
di Bali berkaitan erat dengan agama Hindu dan Budha.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1
Bagaimana sejarah Tari Pendet ?
1.2.2
Bagaimana Tari Pendet Sebagai
Identitas kebudayaan masyarakat Bali ?
1.2.3
Bagamimana Kontroversi Pengklaiman
Tari Pendet antara Negara Indonesia
dengan Malaysia ?
1.3 Tujuan Masalah
1.3.1
Untuk mengetahui sejarah tari Pendet.
1.3.2
Untuk mengetahui tari pendet sebagai
identitas kebudayaan masyarakat Bali
1.3.3
Untuk mengetahui seperti apa kontroversi
yang pernah terjadi antara Negara
Indonesia dengan Malaysia.
BAB II
Pembahasan
2.1 Sejarah Tari Pendet
Tari pendet merupakan tari
pemujaan yang dilakukan di pura-pura. Tari ini merupakan sajian untuk para
leluhur yang disebut Bharata dan Barhari, yang juga menggambarkan penyambutan
atas turunnya para dewa ke Marcapada. Pendet dilakukan oleh wanita dengan
memakia pakaian adat membawa bokor penuh berisi canang sari, kawang dan
bunga-bunga. Sebagian membawa alat-alat seperti sangku, cawan, kendi dan lain
sebagainya.
Sebelum kita mengupas tentang
sejarah tari pendet, kita akan mengupas terlebih dahulu tentang sejarah tari
Bali. Tari Bali merupakan bagian organik dari masayarakat itu atau menurut
struktr masayarakatnya. Seni tari Bali dapat dibagi menjadi tiga periode yaitu
: [1]
a.
Periode masyarakat Primitif ( Pra
Hindu 2000 SM – 400 M)
b.
Periode masyarakat Feodal (400 M –
1945)
c.
Periode masyarakat modern (1945
–Sekarang)
a.
Masyarakat Primitif (Pra Hindu)
Pada jaman ini masyarakat
Bali sangat dipengaruhi oleh alam sehingga seni tari merekapun mencerminkan
gerak-gerik dan kehidupan di dalam alam semesta ini. Gerak alunan ombak, pohon
ditiup angin, kumbang-kumbang berkejar-kejaran, dan gerak bintang yang sangat
mempengaruhi seni tari mereka dan masih terpelihara hingga saat ini. Pada jaman
ini, masyarakat Bali tidak hanya bergantung kepada alam, tetapi mengabadikan
seluruh hidupnya kepada kehidupan spiritual, sehingga animisme dan totamisme
juga mempengaruhi seni tari Bali. Ciri-ciri tari ini adalah adanya unsur-unsur
magis, ketidaksadaran diri, penuh pengabdian, polos dalam penyajian dan
berfungsi sebagai penolak bala. ( Tim Penyusun Monografi Daerah Bali, (1076)
b.
Masyarakat Feodal
Pada jaman ini, pengaruh
kebudayaan Hindu sangat mempengaruhi perkembangan seni tari Bali. Pengaruh
Hindu di Bali ini berjalan sangat lamban, dimulai pada abad ke-8 pada waktu
pemerintahan raja Ugrasena di Bali. Kemudian pada abad ke- 10 terjadi
perkawinan antara raja Udayana dengan Mahandradata (ratu dari Jawa Timur) ,
yang dari perkembangan tersebut lahir Raja Airlangga yang kemudian menjadi raja
di Jawa Timur. Sejak itu terjadi hbungan yang sangat erat antara jawa dan Bali
yang menyebabkan terbawanya kebudayaan Hindu ke Bali. Hubungan ini semakin
dipererat lagi oleh Mahapatih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit pada abad
ke-14. Terbawanya kerajaan Hindu ke Bali secara total terjadi pada abad ke-15,
yaitu pada saat terjatuhnya kerajaan Majapahit ke tangan Islam. Orang-orang
Hindu yang tidak mau mengubah agamanya lari ke Bali dan membentuk Kerajaan
Bali.
Kebudayaan Bali yang
berdasarkan atas penyembahan leluhur (animisme dan totenisme) bercampur dengan
Hinduisme dan Budhaisme yang kemudian berkembang menjadi kebudayaan Bali Hindu.
Kebudayaan pada jaman Feoalini didukng oleh para raja, khususnya kehidupan
musik (gamelan) dan tari dipusatkan diistana, namun para pelakunya diambil dari desa. Mereka dididik
di istana dan setelah pertunjukan mereka dikembalikan ke desa. (Tim Penyusun
Monografi Daerah Bali, 1967).
c.
Mayarakat modern
Dalam masayarakat modern,
yang dimulai sejak kemerdekaan RI pada tahun 1945, patronisasi dari
kerajaan-kerajaan jaman feodal tidak diperlukan lagi. Sehingga, masayarakat
mengembangkan memelihara dan mengembangkan kesenian masing-masing. Sistem
banjar, Sekehe, atau group lainnya, memberi kehidupan pada seni itu disamping
untuk kepentingan agama, seperti yang tercakup dalam Panca Yadnya : Dewa
Yadnya, Resi Yadnya, Manusa Yadnya, Pitra Yadnya dan Buta Yadnya.
Seni tari di Bali
disamping berbentuk Total teater (terdiri dari berbagai jenis unsur), juga
bersifat communal Theatre, artinya penonton tidak hanya sekedar
menonton, tetapi lebih daripada itu. Penonton bahkan melakukan tugas-tugas
tertentu seperti kerasukan (intrance), contohnya dalam tari Sang Hayang dan
Colonarang. Seni tari merupakan organik dari masyarakat pendukungnya. Maka,
didalam pertunjukan tari Bali faktor penonton sangat menentukan, baik maupun
buruk menyebabkan berhasilnya suatu pementasan.
Dahulu tari pendet
merupakan tarian yang bersifat sakral dan hanya dipentaskan dipura pada saat
ada ritual keagamaan tertentu. Selain itu tari pendet juga termasuk kedalam
jenis tarian wali, yaitu tarian Bali yang dipentaskan khusus untuk keperluan
upacara keagamaan dan pemujaan yang bercerita tentang turunnya Dewi-dewi
kahyangan ke Bumi. Tarian ini sudah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan
dari masyarakat. Berawal dari hal tersebut salah satu seniman bernama I Wayan
Rindi terinspirasi dan mengubah tarian tersebut menjadi tarian selamat datang
atau penyambutan. Dengan dibantu oleh Ni Ketut Reneng mereka menciptakan tarian
pendet menjadi sebuah tarian penyambutan. Kemudian pada tahun 1961, I Wayan
Beratha mengelola kembali tari pendet tari tersebut seperti tari sekarang
termasuk menambah jumlah penarinya menjadi lima orang. Namun seiring dengan
perkembangan zaman perkembangan tari pendet mulai bermunculan seperti Tari
pendet sebagai Tari sakral, tari penyambutan dan tari Balih-balihan. Kemudian I
Wayan Baratha dan kawan-kwan menciptakan tari pendet massal dengan jumlah
penari tidak krang dari 800 orang, untuk ditampilkan dalam upacara pembukaan
Asia games di Jakarta.
a.
Tari Pendet sebagai tari Sakral
Pada awalnyatari pendet
dibawakan secara berkelompok atau berpasangan oleh para putri, dan lebih
dinamis dari tari rejang. Ditampilkan setelah tari Rejang dihalaman pura dan
biasanya menghadap kearah suci (Pelinggih) dimana Bhatara dan Bhatari
itu bersemayam. Pendet dilakukan oleh para wanita dengan memakai pakaian adat.
Para penari membawa bokor yang berisi canang sari, bunga-bunga dan Kawangan.
Sebagian dari mereka juga membawa alat-alat upacara sesaji dan persembahan
seperti : sangku ( wadah air suci ), kendi dan pasepan. Tari ini dilakukan
secara masal dan dipimpin oleh seorang pemangku (pemimpin upacara) dengan
membawa sebuah pasepan atau alat pendudusan yang diberi menyan dan dibakar.
Pada bagian akhir dari tariannya para penari meletakkan sesaji-sajiannya,
canang sari dan kwangen itu pada pelinggih dan ada juga yang menaburkan bunga
pada Bhatari sebagai suatu tanda penghormatan. Tari ini diiringi dengan
gambelan gong kebyar.
Lahirnya tari pendet
adalah sebuah ritual sakral odalan dipura yang disebut memendet atau mendet.prosesi
mendet berlangsung setelah pendeta mengumandangkan puja mantranya dan seusai
pementasan topeng sidakarya. Aktivitas mendet yang secara etimologis yang
berasal dari mendak (menyambut) itu, penarinya tak selalu dipersiapkan secara
khsus. Umumnya selalu dapat dibawakan oleh partisian. Lambat laun seiring
perkembangan zaman para seniman tari Bali merubah tari pendet menjadi tarian
“ucapan selamat datang” dilakukan sambil menaburkan bunga dihadapan tamu yang
datang. Kendatidemikian bukan tari pendet kehilangan sakralnya. Tari pendet
tetap mengandung anasir sakral-religius dengan menyertakan muatan keagamaan
yang kental.
b.
Tari pendet penyambutan
Pencipta atau koreografer
dari tari pendet ini adalah I Wayan Rindi (pada tahun 1967), merupakan penari
yang dikenal luas sebagai penekun seni tari dengan kemampuan menggubah tari
atau melestarikan tari seni bali melalui pembelajaran pada generasi sebelumnya.
semasa hidupnya beliau gemar mengajarkan tari-tarian kepada penerusnya maupun
dilingkungan keluarganya.
Oleh I Wayan Rindi tarian
ini diubah menjadi kesenian yang tidak hanya dipentaskan pada kegiatan ritual
saja namun juga untuk menyambut tamu yang datang. Tarian ini dibawakan oleh
beberapa orang remaja putri yang dalam menarikannya membawa mangkuk dari perak
dimana didalamnya diisi penuh dengan bunga. Pada akhir pementasan, bunga yang
berada didalam mangkuk perak nantinya akan ditaburkan oleh para penari kepada
para penonton sebagai ucapan selamat datang. Oleh karena itu, Tari pendet
sering disebut sebagai tari penyambutan.
Merunut dari sejarah tari
pendet sudah lama mengakar dalam budaya Bali. Menurut Wayan Dibia Guru besar
Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, tari pendet merupakan salah satu tarian
paling tua diantara tarian-tarian lainnya yang ada dipulau Dewata. Penggagas
tarian tersebut lanjutnya adalah I Wayan Rindi dan Ni Ketut Reneng. Kedua
seniman ini menciptakan tari pendet sebagai tarian penyambutandengan empat
orang penari.
Pada 1961, I Wayan Baretha
mengolah tari pendet tersebuthingga seperti sekarang ini, termasuk menambah
jumlah penarinya menjadi lima orang. Berselang setahn kemudian I wayan Baretha
dan kawan-kawan menciptakan tari pendet masal dengan jumlah penari tidak kurang
dari 800 orang, untuk memperkenalkan keduania internasional melalui suatu event
internasional spereti Asia games. Tari pendet ini dipertunjukan pada upacara
pembukaan asia games di Jakarta yang dibuka oleh Presiden Soekarno.
c.
Tari pendet sebagai Tari
Balih-Balihan
Tari pendet merupakan
salah satu contoh bentuk seni pertunjukan yang telah mengalami perkembangan
selama dua dekade. Perkembangannya ditandaidengan munculnya kembali tarian
pendet baru yang memiliki bentuk, isi dan tata penyajian serta fungsi yang
berbeda dengan tarian pendet pada waktu sebelumnya. Tari pendet baru disajikan
dalam bentuk, isi dan struktur penyajian yang terpola. Unsur-nsur tari yang
terkandung dalam tari seperti : musik, gerak, pola lantai, level, ruang dan
waktu diatur dalam sebuah tatanan yang terstruktur, sehingga dapat menyuguhkan
sebuah tarian yang menarik.
Menurut Dibia, (1993 :31)
ada sejumlah tari-tarian, hiburan, atau tontonan yang biasa disebut dengan tari
Balihan-balihan. Tarian ini biasanya dipentaskan sebagai seni hiburan, baik
bagi masyarakat Bali sendiri maupun masyarakat luar Bali (wisatawan) yang berunjung
ke pulau dewata dengan tujuan untuk menghibur atau sebagai suguhan hasil dari
kreativitas seni berkualitas tinggi. Berdasarkan hal tersebut tari pendet
sering disebut sebagai tarian hiburan atau tarian ucapan selamat datang (
Balih-balihan).
2.2 Tari Pendet Sebagai Identitas Kebudayaan masyarakat Bali
Bali merupakan daerah
pariwisata yang tidak hanya menyuguhkan keindahan alamnya saja namun juga
menyajikan keindahan serta keragaman budaya yang dimiliki. Salah satu yang
paling memikat wisatawan yaitu kebudayaan Tari Pendet yang merupakan kebudayaan
yang Sakral untuk acara keagamaan. Sebagai suatu kebudayaan tentunya tarian ini
harus dijaga dan dilestarikan.
Budaya adalah bentuk jamak
dari kata budi dan daya yang berarti cipta, karsa, dan rasa. Kata budaya
sebenarnya berasal dari bahasa Sansekerta budhaya yaitu bentuk jamak kata buddhi yang berarti akal atau budi. Dalam
bahasa inggris budaya berasal dari kata culture, dalam bahasa Belanda di
istilahkan dengan kata Cultuur, dalam bahasa Latin, berasal dari kata Colera,
yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan mengembangkan tanah (bertani).
Kemudian pengertian ini berkembang dalam kata Culture, yaitu sebagai daya dan
kativitas manusia untuk mengolah dan mengbah alam. Pengertian budaya menurut
beberapa tokoh : [2]
a)
E.B. Taylor, budaya adalah suat
keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral,
keilmuan, hkum, adat istiadat dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang
didapat oleh manusia sebagai anggota masayarakat.
b)
R. Linton, Kebudayaan dapat dipandang
sebagai konfigurasi tingkah laku yang dipelajari dan hasil tingkah laku yang
dipelajari, dimana unsur pembentuknya idukung dan diteruskan oleh anggota
masyarakat lainnya.
c)
Koentjaraningrat, mengartikan bahwa
kebdayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, milik diri manusia dengan belajar.
d) Selo Soemardjan dan
Soelaeman Soenardi, Kebudayaan adalah semua hasil, karya, rasa, dan cipta
masyarakat.
e)
Herkovis, Kebudayaan adalah bagian
dari lingkungan hidup yang dicitakan oleh manusia.
f)
Murdowo, mengatakan bahwa kultur itu
mengenai norma kerohanian, moral, etik, dan estetik yang dicapai oleh suatu
bangsa.[3]
Dengan demikian dapat
diartikan bahwa kebudayaan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan manusia
yang diciptakan dari hati, dan memiliki nilai-nilai kerohanian, moral baik itu
berbentuk materil maupun non materil. Terlingkup didalamnya adalah usaha
memanusiakan bahan alam mentah serta hasilnya.dalam bahan alam, terdiri dari
alam diri dan alam lingkungannya baik itu fisik maupun sosial, nilai-nilai
diidentifikasikan dan dikembangkan sehingga menjadi sempurna. Membudayakan alam, memanusiakan
hidup, menyempurnakan hubungan keinsanian merupakan kesatuan yang tak
terpisahkan. Itulah inti dan batas kebudayaan.
Kebudayaan lama dan asli
merupakan puncak-puncak kebudayan diseluruh indonesia, terhitung sebagai
kebudayan bangsa. Kebudayaan bangsa merupakan kebudayaan yang timbul sebagai
buah usaha budinya rakyat Indonesia seluruhnya dan merupakan suatu bentuk perjuangan. Setiap
kebudayaan memiliki ciri khas yang melekat yang menjadikannya sebagai suatu
bentuk identitas. Identitas tersebut merupakan jati diri yang dimiliki untuk
diakuinya. Identitas sendiri berasal dari bahasa Inggris yaitu Identity yang
dapat diartikan sebagai ciri-ciri, tanda-tanda, serta jadi diri yang melekat
pada seseorang atau sesuatu yang memabedakannya dengan yang lain. Dalam ilmu
Antropologi, Identitas diartikan sebagai sifat khas yang menerangkan dan sesuai
dengan kesadaran diri pribadi sendiri, golongan sendiri, kelompok sendiri,
komunitas sendiri atau negara sendiri. Identitas nasional meliputi nilai,
norma, dan simbol ekspresif sebagai ikatan sosial untuk membangun solidaritas
dan kohensiviitas sosial. Identitas merupakan harga diri dan senjata untuk
menghadapi kekuatan luar yang memberikan justifikasi bagi tindakan masa lalu,
mejelaskan tindakan masa sekarang.
Identitas Nasional
merpakan salah satu bentuk dari identitas sosial[4]. Kelekatan anggota kelompok
terhadap negara mereka diekspresikan dengan rasa memiliki, cinta, loyalitas,
kebanggaan, dan perlindungan terhadap kelompok dan tanah airnya (Davidov,
2009). Adapun fungsi dari identitas Nasional menurut Smith (1991) yaitu :
a.
Identitas Nasional memberikan jawaban
yang memuaskan terhadap rasa takut akan kehilangan melalui identifikasi
terhadap bangsa.
b.
Identitas Nasional menawarkan
pembaharuan pribadi dan martabat bagi individu dengan menjadi bagian dari
keluarga besar suatu bangsa.
c.
Identitas Nasional memmungkinkan
adanya relasi dari perasaan persaudaraan, terutama melalui simbol-simbol
upacara.
Tentunya dari hal tersebut
ada faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan Identitas Nasional bangsa
Indonesia. Menurut Surbakti (1999) ada beberapa faktor yang mempengaruhi
terbentuknya Identitas Nasional yaitu :
a.
Primordial
Ikatan kekerabatan (darah
dan keluarga) dan kesamaan suku bangsa, daerah, bahasa, dan adat-istiadat
merupakan faktor-faktor primordial yang dapat membentuk negara-bangsa.
Primordialisme tidak hanya menimblkan perilaku yang sama namn juga melahirkan
persepsi yang sama tentang masyarakat negara yang dicita-citakan.
b.
Sakral
Kesamaan agama yang dianut
oleh suatu masyarakat, atau ikatan ideologi yang kuat dalam masyarakat, juga
merupakan faktor yang dapat membentuk bangsa.
c.
Tokoh
Kepemimpinan dari seorang
tokoh yang disegani dan dihormati secaraluas oleh masyarakat dapat menjadi
faktor yang menyatukan suatu bangsa-negara. Pemimpin ini menjadi panutan sebab
dianggap sebagai “penyambuung lidah” masyarakat.
d.
Sejarah
Persepi tentang asal-usul
(nenek moyang) dan tentang pengalaman masa lalu, seperti penderitaan yang sama
akibat dari penjajahan tidak hanya melahirkan solidaritas tetapi juga tekad dan
tjuan yang sama antar kelompok suku bangsa. Solidaritas, tekad, dan tujuan yang
sama itu dapat menjadi identitas yang menyatukan mereka sebagai bangsa, sebab
dengan konsep ke-kita-an dalam masayarakat.
e.
Bhineka Tunggal Ika
Prinsip bersatu dalam
perbedaan (uinity in Diversity) merupakan salah satu faktor yang dapat
membentuk bangsa-negara. Bersatu dalam perbedaan artinya kesediaan warga
masyarakat untuk bersama dalam suatu lembaga yang disebut Negara, atau
pemerintahan walaupn mereka memiliki suku bangsa, adat-istiadat, ras atau agama
yang berbeda.
f.
Perkembangan Ekonomi
Indstrialisasi akan
melahirkan spesialisasi pekerjaan yang beraneka ragam sesuai dengan kebutuhan
masyarakat. Semakin tinggi mutu dan semakin bervariasi kebutuhan masayarakat,
semakin tinggi pula tingkat saling bergantung diantara berbagai jenis
pekerjaan. Semakin kuat suasan bergantung antar anggota masayarakat karena
perkembangan ekonomi, maka semakin besar pula solidaritas dan persatuan dalam
masyarakat.
g.
Kelembagaan
Proses pembentukan bangsa
berupa lembaga-lembaga pemerintahan dan politik, seperti birokrasi, angkatan
bersenjata, dan partai politik. Setidak-tidaknya terdapat dua smbangan
birokrasi pemerintahan bagi proses pembentukan bangsa, yakni mempertemukan
berbagai kepentingan dalam instansi pemerintahan dengan berbagai kepentingan
dikalangan penduduk sehingga tersusun suatu kepentingan nasiona, watak kerja,
dan pelayanannya yang bersifat impersonal.
Identitas Nasional
Indonesia merupakan jati diri yang membentuk bangsa yang terdiri atas berbagai
suku, adat istiadat, agama, kebudayaan,
serta berdiam diri disuatu wilayah yang terdiri dari beribu-ribu pulau.
Sedangkan jati diri bangsa dapat diartikan sebagai totalitas penampilan bangsa
yang utuh dengan mendapatkan muatan dari masyarakat sehingga dapat menjadi
pembeda antara bangsa kita dengan bangsa yang lain.
Termasuk dalam kebudayaan.
Indonesia memiliki keanekaragaman kebudaya, tradisi serta adat yang turun
temurun dari nenek moyang dan masih diyakini sampai sekarang ini. Tari pendet
merupakan satu dari sekian kebudayaan Indonesia. Tarian ini merupakan
peninggalan dari para nenek moyang maupun tokoh-tokoh terdahulu yang merupakan
tarian yang dipergunakan dalam proses keagamaan yang sakral. Tarian ini
biasanya ditarikan di Pura atau tempat ibadahnya masayarakat Hindu. Tarian ini
merupakan sajian untuk para leluhur yang disebut Bhatara dan Bhatari, yang juga
menggambarkan penyambutan atas turunnya para dewa di Marcapeda. Pendet
dilakukan oleh para perempuan dengan memakai pakaian adat dengan membawa sebuah
bokor yang penuh berisi canang sari , kawangan dan bungan-bunga. Sebagian
membawa alat-alat pacar seperti sangku, cawan, kendi, dan lain-lain.
Tari pendet lahir dari
pemikiran-pemikiran serta sejarah yang ditinggalkan oleh nenek moyang. Tari
pendet diciptakan oleh seorang tokoh yang bernama I Wayan Rindi pada tahun 1967
yang kemudian dimodifikasi dalam dua dekade, sehingga tarian ini dari tarian
Sakral keagamaan yang hanya digunakan untuk sajian para leluhur namun sekarang
juga disajikan sebagai tarian selamat datang atau tarian penyambutan. Jika
dilihat dari sejarah awal terbentuknya Tari Bali yaitu dari masyarakat primitif
(Pra Hindu). Pada masa ini masyarakat Bali sangat dipengaruhi oleh alam
sehingga dalam tariannya mencerminkan gerak-gerik dan kehidupan didalam alam
semesta ini. Gerak alunan ombak, tiupan angin, kumbang-kumbang yang saling
berkejaran dan kejaran bintang saling mempengaruhi seni tari mereka sehingga
terpelihara sampai saat ini.
2.3 Kontroversi Pengklaiman
Tari Pende
Hubungan antara Indonesia
dan Malaysia beberapa kali mengalami pasang surut. Pada tahun 1963, terjadi
konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia. Perang ini berawal dari keinginan
Malaysia untuk menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak dengan persekutuan tanah
Melayu pada tahun 1961[5]. Hubungan antara Indonesia
dengan Malaysia juga sempat memburuk pada tahun 2002 ketika kepulauan Sipadan
dan Ligitan di klaim oleh Malaysia sebagai wilayah mereka, dan berdasarkan
keputusan Mahkamah Internasional (MI) di Den Haag, Belanda bahwa Sipadan dan
Ligitan merupakan pulau kecil di diperairan dekat kawasan pantai negara bagian
sabah dan Provinsi Kalimantan Timur, yang di klaim dua negara sehingga
menimbulkan persengketaan yang berlangsung selama lebih dari tiga dekade.
Sipadan dan Ligitan menjadi ganjalan kecil dalam hubungan sejak tahun 1967
ketika kedua negara mengajukan klaim atas kedua pulau tersebut. Kedua belah
pihak menandatangani kesepakatan pada Mei 1997 untuk menyerahkan kesepakatan
itu kepada MI. MI diserahkan tanggung jawab untuk menyelesaikan sengketa dengan
jiwa kemitraan. Kedua belah pihak juga sudah sepakat untuk menerima keputusan
pengadilan sebagai penyelesaian akhir sengketa tersebut. Selain itu, pada 2005
terjadi sengketa mngenai batas wilayah dan kepemilikan ambalat.
Bukan hanya pulau Sipadan
dan Ligitan namun lagi-lagi Malaysia mengklaim kebudayaan Indonesia yaitu batik
dan juga lagu Rasa Sayange sebagai milik mereka. Tentunya hal ini kembali
membuat resah pemerintah Indonesia terutama para seniman serta masyarakat
Indonesia. Sehingga, Pada tahun 2007, Sekjen Departemen kebudayaan dan
Pariwisata, Sapta Nirwandar menyatakan pemerintah telah mendaftarkan batik dan
angklung ke Unesco, sebagai masterpice world heritage. Diduga langkah ini
merupakan reaksi setelah sebelumnya Malaysia mengklaim dan mempatentakn batik
motif “Perang Rusak”, angklung, wayang kulit, hingga makanan rendang.
Belakangan juga, masyarakat Indonesia kembali dibuat resah oleh sebuah iklan
budaya Pariwisata yang menonjolkan tarian pendet. Masalahnya iklan tersebut
ditayangkan oleh Malaysia melalui iklan acara Discovery Networks Asia-pacific yang bertajuk
“Enigmatic Malaysia” yang di produksi oleh KRU Studio pada agustus 2009.
Pembuatan video Enigmatic Malaysia merupakan bagian dari beberapa iklan yang
dibuat oleh Malaysia[6]. Menurut keterangan pihak
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur, apa yang menjadi
kontroversi adalah munculnya beberapa gambar tarian pendet dalam video
tersebut. Isi dri video tersebut yaitu dimulai dari munculnya bunga Raflesia
yang menjadi pembukaannya kemudian diikuti oleh dua orang penari tarian pendet
dan selanjutnya yaitu wayang kulit yang merupakan salah satu kebudayaan
Indonesia[7].
Menteri kebudayaan dan
Pariwisata (Menbudpar), Jero Wacik, kemudian melayangkan nota protes kepada
pemerintah Malaysia. Negara tetangga Malaysia berulah lagi setelah dulu rasa
sayange[8], Reog ponorogo, dan tari
Indang Barindang, sekarang Tari Pendet, kata Jero Wacik dalam konferensi pers
di Gedung departemen Kebudayaan dan Pariwisata (24/8). Kementerian Pendidikan
dan Pariwisata mengatakan bahwa sepanjang kurun waktu 2007-2012, Malaysia telah
melakukan tujuh kali tindakan pengklaiman produk kebudayaan Indonesai
diantaranya, tarian reog, lagu rasa Sayange, batik, tarian pendet, alat musik
angklung, beras padi adan krayan dan tarian tor-tor ( Jakarta Post, 2012). Hal
ini tentunya memancing kemarahan masayarakat Indonesia terutama para seniman
yang ada di Indonesia. Sementara itu, bergulirnya isu tari Pendet, berbagai
aksi protes di lakukan oleh masayarakat Indonesia. Antara lain aksi membakar
bendera Malaysia di jalur Gemilang sembari meneriakan slogan “Ganyang Malaysia”
yang sebelumnya pernah di lontarkan oleh Bung Karno ketika dalam demonstrasi
anti Indonesia di Kuala Lumpur Malaysia pada 17 Desember 1963 para demonstran
menyerbu gedung KBRI dan merobek-robek foto Soekarno serta membawa lambang
Garuda Pancasila kehadapan Pemerintah Malaysia waktu itu, Tunku Abdul Rahman
dan memaksanya menginjak lambang Garuda tersebut.
Timbulnya berbagai aksi
tersebut merupakan bentuk dari kekecewaan masayarakat Indonesia terhadap
tindakan Malaysia yang kemudian lebih kurang dari 100 halaman web Kerajaan
Malaysia di musuhi oleh dalam bahasa Malaysia disebut dengan istilah
Penggodam-penggodam indonesia (Farish, 2009). Selanjutnya, Slogan “Ganyang
Malaysia” senantiasa menghiasi unjuk rasa di depan Kedutaan Malaysia di Jakarta
setiap harinya. Para mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia juga
tidak ikut ketinggalan melakukan aksi bakar bendera dan meneriakan
slogan-slogan berbau anti-Malaysia ( Chong, 2012 : 3). Selain itu juga ikut
berperannya NGO yang tergabung dalam Benteng Demokrasi rakyat (BENDERA),
Barisan Muda Betawi, Relawan Ganyang Malaysia dan Relawan Pembela Demokrasi
(Rapdem). Situasi ini semakin panas ketika anggota NGO terutama BENDERA
“mengobarkan” kata perang melawan Malaysia. Ketua BENDERA Mustar Boneventura
mengatakan bahwa organisasi ini telah merekrut lebih kurang 1.500 sukarelawan
yang siap perang melawan Malaysia. BENDERA juga mengatakan bahwa para
sukarelawan telah bersedia setiap waktu untuk berperang (Chong, 2012 :24).
Di Malaysia kontroversi
tari pendet terutama berkaitan dengan aksi yang dilakukan oleh BENDERA cukup
mendapat perhatian dari masyarakat dan juga kerajaan Malaysia. Majelis
Perwakilan Pelajar (MPR) dari 18 Universitas di Malaysia merasa kecewa dan perihatin
dengan kontroversi yang terjadi antara Indonesia dengan Malaysia yang berkaitan
dengan Isu Tari Pendet. Beberapa perwakilan MPP meminta untuk kedua belah pihak
melakukan rundingan dalam usaha menyelesaikan masalah tersebut. Selain itu
mahasiswa juga mengirimkan memorandum atau surat yang berisikan enam tuntutan
dan rekomendasi bagi penyelesaian masalah tersebut. Selain itu mereka juga
meminta supaya media di Indonesia menghentikan provokasi dan menyiarkan berita
objektif (Malay Mail, 15 September 2009 : 4). Sebagian pihak pemerintahan
Malaysia menyesali kejadian tersebut. Malaysia sudah melakukan tindakan yang
cukup meninggung perasaan masyarakat Indonesia melalui isu tari pendet.
Walaupun Datuk Seri Dr. Rais Yatim berpendapat masalah tersebut sebagai bentuk
“melestarikan” namun fakta menunjukna bahwa tindakan sebagian pihak Malaysia
terutama KRU studio merupakan satu kesalahan. Pemerintah Malaysia perlu
memberikan ketegasan tergadap rumah-rumah produksi agar hal tersebut tidak
terulang kembali.
Untuk meredakan ketegangan
dalam isu tari pendet, kedua Negara menyusun beberapa agenda perbincangan. Pada
17 September 2009, Menteri Luar Malaysia Datuk Anifah Aman melakukan pertemuan
dengan Menteri Luar Indonesia di Jakarta. Selanjutnya, pada 11 November 2009,
Presiden Susilo Bambamg Yudhoyono melakukan kunjungan resmi pertama ke Malaysia
setelah dilantik kembali menjadi Presiden untuk periode keduanya. Berkaitan
dengan hal tersebut, Najib Razak mengaskan bahwa indonesia dan Malaysia tidak
membiarkan isu-isu kecil yang dibesar-besarkan oleh pihak-pihak tertentu. Oleh
karena itu, kedua belah pihak sepakat untuk memperkukuh kerjasama yang pernah
terjalin (Bernama, 2009).
Kontroversi iklan promosi
Pariwisata Malaysia yang menampilkan tari pendet diyakini pengamat pariwisata
Bali, Dr. I Nyoman Darma Putra, justru semakin melambungkan nama pulau wisata
ternama Indonesia itu dimata wisatawan dan pelaku Industri pariwisata dunia.
“Dibalik kasus ini saya yakin nama Bali akan semakin melambung di kalangan
wisatawan dan pelaku wisata dunia,” katanya di Brisbane, Australia, kamis,
menanggapi kasus iklan kontroversi pariwisata Malaysia yang tanpa seizin
pemerintah Indonesia menampilkan Tari pendet dari Bali. Darma Putra mengatakan
pihak-pihak yang bertanggug jawab terhadap pembuatan iklan promosi berjudul
“Enigmatic Malaysia” itu tidak etis memasukan materi budaya Bali bagi
kepentingan promosi pariwisata Malaysia. “Kalau materi budaya Bali digunakan
untuk mendukung promosi pariwisata Bali, kita sangat berterimakasih. Dalam
kasus ini sikap pemerintah Malaysia yang sebatas menyalahkan pihak swasta yang
memproduksi materi promosi pariwisata negaranya sangat disayangkan,” katanya.
Penulis buku Bali dalam
Kuasa Politik (2008) ini mengatakan, pemerintah Malaysia sudah seharusnya dapat
menjamin bahwa kasus pemanfaatan dan pengklaiman kekayaan budaya Indonesia oleh
Malaysia seperti yang terjadi beberapa tahun terakhir ini tidak terulang lagi
dimasa mendatang. Pemerintah Malaysia juga sudah sepatutnya memberi sanksi
kepada pihak pembuat materi promosi itu, Katanya. Kasus iklan komersial yang
ditayangkan jaringan Televisi Discovery yang diprotes Menteri Kebudayaan dan
Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik itu tidak hanya mengundang perhatian
masyarakat Indonesia saja tetapi juga menarik perhatian media utama di
Australia. Surat kabar yang paling berpengaruh di Australia yaitu The
Australian misalnya menyroti kasus ini lewat salah satu berita edisi 26
Agustus dibawah judul “Malaysia ‘steals’ Bali Dance” (Malaysia ‘mencuri’ tari
Bali). Berita harian The Australian melalui korespondennya di Jakarta, Stephen
Fitzpatrick, itu menyoroti perkembangan di seputar kontroversi pemakaian tari
pendet dalam kasus iklan kontroversial pariwisata Malaysia dan reaksi publik
Indonesia dalam konteks hubungan kedua negara bertetangga ini. Kontroversi yang
mewarnai hubungan kedua negara yang dipicu oleh kasus pengklaiman kekayaan
wisata seni budaya Indonesia oleh Malaysia itu terjadi sejak kasus lagu asal
Maluku, Rasa Sayange tahun 2007 serta
pengklaiman desain batik, angklung dan reog, serta tarian asli Jawa Timur. Akibat skandal pengklaiman Malaysia
terhadap sejumlah kekayaan seni-budaya Indonesia itu, publik Indonesia kemudian
menyebut fenomena ini sebagai “Malingsia” atau “Malaysia maling” sebut The
Australian
Dengan adanya berbagai
kasus tersebut yang melibatkan kebudayaan Indonesia, sejatinya kita harus lebih
melestarikan serta mengembangkan kebudayaan yang kita miliki. Tujuan nya adalah
untuk menguatkan kebudayaan yang kita miliki. Upaya-upaya yang dapat dilakukan
untuk melestarikan budaya diantaranya yaitu :
a)
Culture Experience merupakan
pelestarian budaya yang dilakukan dengan cara terjun langsung kedalam sebuah
kultur. Contohnya tarian. Masyarakat dianjurkan untuk terjun langsung ataupun
belajar secara langsung untuk menguasai tarian tersebut.
b)
Culture Knowledge merupakan
pelestarian budaya yang dilakukan dengan cara membuat suatu pusat informasi
mengenai kebudayaan yang difungsionalisasikan kedalam banyak bentuk. Tujuannya
adalah untuk edukasi ataupun untuk kepentingan pengembangan kebudayaan itu
sendiri dan potensi kepariwisataan daerah.
Selain hal-hal tersebut
untuk pelestarian buaya dapat dilakukan dengan memperkenalkan secara langsung
budaya tradisional kepada generasi selanjutnya. Untuk mempertahankan budaya
serta dapat mengembangkan budaya asli kita sendiri agar tidak terulang
pengkaliman terhadap budaya oleh Negara tetangga.
Kajian Teori
Dari pembahasan diatas
dapat dikaji dengan menggunakan Teori Konflik Sosial Oleh Lewis Coser.
a.
Teori Konflik Sosial
Bagi Lewis A. Coser,
konflik yang terjadi dalam suatu masyarakat tidak semata-mata menunjukan fungsi
negatinya saja, tetapi juga dapat menimbulkan dampak positifnya. Oleh karena
itu konflik bisa menguntungkan bagi sistem yang bersangkutan. Menurut Coser, konflik
merupakan salah satu bentuk interaksi dan tidak perlu diingkari keberadaannya.
Coser menggambarkan konflik sebagai perselisihan mengenai nilai-nilai atau
tuntunan-tuntunan berkenaan dengan status, kekuasaan, dan sumber-sumber
kekayaan yang dari persediannya tidak mencukupi. Coser menyatakan, perselisiahn
atau konflik dapat berlangsung antar individu, kumpulan (Collectives),
atau antara individu dengan kelompok.
Menurut Coser, konflik
juga merupakan unsur interaksi yang penting, dan sama sekali tidak boleh
dikatakan bahwa konflik selalu tidak baik atau memecah belah atau merusak.
Konflik bisa saja menyumbang banyak kelestarian kelompok dan mempererat
hubungan antar anggotanya sepert menghadapi musuh bersama dapat mengintegrasi
orang, menghasilkan solidaritas dan ketrelibatan, dan membuat orang lupa akan
perselisihan internal mereka sendiri.
Fungsi positif dari
konflik menurut Lewis A. Coser merupakan cara atau alat untuk mempertahankan,
mempersatukan, dan bahkan mempertegas sistem sosial yang ada. Ada dua tipe
dasar konflik menurut Coser yaitu konflik realistis, yaitu berdasarkan sumber
yang kongkrit (material) seperti perebutan sumber ekonomi atau wilayah, dan
juga konflik non realistis yaitu didorong oleh keinginan yang tidak rasional
dan cenderung bersifat ideologis seperti konflik antar agama, etnis, suku.
Jika diamati dari teori
Konflik yang dikemukakan oleh Lewis A. Coser bahwa kontroversi yang terjadi
antara negara Indonesia dengan Malaysia terkait pengklaiman tari Pendet yang
dilakukan oleh negara malaysia tersebut tidak selalu mengandung unsur yang
negatif. Dengan adanya konflik tersebut Tari pendet mendapat perhatian dari
masyarakat tidak hanya masyarakat Indonesia namun juga dari media utama
Australia. Hal ini tentunya menjadi keuntungan bagi masyarakat Indonesia untuk melambungkan nama pariwisata Bali serta
perkenalan Tari pendet sebagai identitas budaya asli Indonesia.Selain itu juga
konflik yang terjadi semakin memperat jiwa nasionalisme masyarakat Indonesia.
Terbukti ketika mengetahui kabar bahwa aset Indonesia telah di klaim oleh
negara tetangga, masyarakat gempar dan melakukan berbagai aksi protes terhadap
pengklaiman budaya Indonesia.
Seperti yang dinyatakan
oleh Coser bahwa kekuatan Solidaritas Internal dan integrasi kelompok dalam (in
group) akan bertambah tinggi apabila tingkat permusuhan atau suatu konflik
dengan kelompok luar bertambah besar[9]. Hal ini ditandai dengan
bergabungnya organisasi-organisasi NGO seperti Benteng Demokrasi rakyat
(BENDERA), Barisan Muda Betawi, Relawan Ganyang Malaysia dan Relawan Pembela
Demokrasi (Rapdem). Yang kemudian berkumpul dan menyatukan jiwa, memperkuat
ikatan dan juga jiwa Nasionalisme.
Seperti yang dikemukakan
oleh Coser bahwa konflik bisa mempererat hubungan kelompok yang sedang
berkonflik. Hal ini seperti meredanya konflik yang terjadi antara Indonesia
dengan malaysia dalam kasus pengklaiman kebudayaan tari Pendet. Setelah resmi
meminta maaf kepada Indonesia, hubungan Indonesia dengan Malaysia kembali
terjalin mesra seperti biasanya bahkan kembali mejalin kerja sama seperti
biasanya.
BAB III
3.1 Kesimpulan
Tari pendet merupakan
salah satu tari putri yang biasa di tarikan secara berkelompok atau
berpasangan, dengan memakai properti berupa bokor. Dahulu tari pendet merupakan
tarian yang bersifat sakral dan hanya dipentaskan dipura pada saat ada ritual
keagamaan tertentu. Selain itu tari pendet juga termasuk kedalam jenis tarian
wali, yaitu tarian Bali yang dipentaskan khusus untuk keperluan upacara
keagamaan dan pemujaan yang bercerita tentang turunnya Dewi-dewi kahyangan ke
Bumi. Tarian ini sudah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari
masyarakat. Namun seiring dengan berkembangnya zaman tarian ini kemudian di
modifikasikan sebagai taran penyambutan namun tidak menghilangkan unsur
sakralnya. Sehingga tarian ini banyak dijumpai sebagai tarian selamat datang
atau penyambutan yang khas di Bali. Tarian ini merupakan salah satu tarian
tradisional dari Bali yang sangat terkenal dan dan sering ditampilkan dalam
berbagai acara penyambutan dan acara besar lainnya.
Pelestarian budaya ini
banyak dilakuakn terutama di sanggar-sanggar tari. Setiap orang dapat
mempelajari tarian ini. Dengan semakin menariknya tarian ini sehingga negara
tetangga menampilkan tarian pendet pada channel melalui iklan acara Discovery Networks Asia-pacific yang bertajuk
“Enigmatic Malaysia” yang di produksi oleh KRU Studio pada agustus 2009. Hal
ini tentunya menuai kontroversi dan berbagai kecaman dari banyak pihak terutama
masyarakat indonesia. Keluarga Alm. I Wayan Rindi selaku pencipta tarian ini
tentunya merasa kecewa atas tindakan yang diilakukan oleh Malaysia. Hal ini
menuai banyak aksi dari masyarakat Indonesia seperti Orgnaisasi-organisasi yang
tergabung dalam NGO, mereka siap melakukan perang atas tindakan yang dilakukan
oleh Malaysia. Namun konflik ini kemudia meredam setelah adanya permintaan maaf
dari pemerintah Malaysia.
Kejadian tersebut
merupakan suatu pukulan keras bagi masyarakat Indonesia terutama para seniman.
Dan menjadi PR besar bagi warga Negara Indonesia untuk selalu melestarikan
kebudayaan Indonesia yang telah diwariskan oleh nenek moyang yang menjadi
identitas bangsa Indonesia.
Daftar Pustaka
Suratman,dkk, 2013,Ilmu
Sosial dan Budaya Dasar,Intimedia, Malang
Ali Maksum dan Reevy
Bustamy. 2014. Ketegangan Hubungan Indonesia-Malaysia dalam
Isu Tarian Pendet (The
tension between Indonesia-Malaysia In The Pendet dance Issue) Kajian Malaysia. Dalam Jurnal vol. 32 no
2, 2014 hal-41-72 Terdapat dalam
http://www.myjurnal.my/filebank/published_article/32351/3.pdf diakses pada hari Rabu 04
Januari 2017 pukul 19.20 wib
Eny Iryanti. 200. Tari
Bali : Sebuah Historys (Bali Dance : a Historical Research). Dalam
jurnal Pengetahuan dan
Pemikiran Seni vol.1 No.2/September 200. Terdapat dalam http://download.portalgaruda.org/article.php?article=135891&val=5651 diakses pada hari Rabu 04
Januari 2017 pukul 19.33 wib
Kiki Zakiah. 2012. Pencitraan
Indonesia di Media massa oleh Malaysia. Dalam Jurnal
Komunikasi, vol 2, No. 1
April 2012 terdapat dalam http://jurnalilkom.uinsby.ac.id/index.php/jurnalilkom/article/view/35/29 diakses pada hari Rabu 04
Januari 2017 pukul 19.25 wib
Windi, Resmiyati dan Indah
Sri Pinasti. 2015, Upaya Pelestarian Budaya Lokal Indonesia
Melalui Pelatihan Tari
Tradisional Usia Dini (studi deskriptif di Sanggar Tari KembangDusun Sorogenen
II Kecamatan Kalasan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta). Dalam Jurnal Sosiologi.
Terdapat dalam http://www.e-jurnal.com/2016/02/upaya-pelestarian-budaya-lokal.html diakses pada hari rabu 04
Januari 2017 pukul 19.12 Wib
http://lipsus.kompas.com/jalanjalan/read/2009/08/27/1749078/.quot.Iklan.Tari.Pendet.quot..Malah.Kian.Populerkan.Bali diakses pada hari rabu 04
Januari 2017 pukul 18.12 Wib
http://repo.isidps.ac.id/1142/1/%E2%80%9CPendet_Mahardhika%E2%80%9D_MenggedorKeindonesiaan.pdf diakses pada hari rabu 04
Januari 2017 pukul 19.45 Wib
[1] Djayus, 1980 dalam jurnal Tari Bali Sebuah Telaah
History (Bali dance : A History research). Oleh V. Eny Iryanti Vol. 1 No.
2/September- Desember 2000
[2]
Elly M Setijadi, et al.,op.cit., halaman 27
[3] Murdowo, Arti
Kata Kebudayaan, Pewarta PPK, 1955, halaman 132
[4] Michener dan Delamater, 1999 ; Bastock dan Smith,
2001 (dalam Jurnal)
[5] Tahun 1962, terjadi demonstrasi anti-Indonesia di
Kuala Lumpur, ketika para demonstran menyerbu
gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, membawa lambang negara Garuda
Pancasila ke hadapan Tungku Abdul Rahman- Perdana Menteri Malaysia saat itu dan
memaksanya menginjak Garuda, amarah
Soekarno terhadap Malaysia pun meledak ( dalam Jurnal Ilmu Komunikasi, vol.2,
No 1, April 2012 oleh Kiki Zakiah)
[6] Chong, 2012: 2,
New Straits Times, 12 September 2009 : 5 dalam Jurnal Ketegangan
Hubungan Indonesia-Malaysia dalam Isu tarian Pendet ( The Tension Between
Indonesia-Malaysia In the Pendet Dance Issue) kajian Malaysia, vol 32, No
2, 2014, hal. 41-72 oleh Ali Maksum dan Reevany Bustami
[7] Anonymonger, 2009 dalam Jurnal dalam Jurnal
Ketegangan Hubungan Indonesia-Malaysia dalam Isu tarian Pendet ( The Tension
Between Indonesia-Malaysia In the Pendet Dance Issue) kajian Malaysia, vol
32, No 2, 2014, hal. 41-72 oleh Ali Maksum dan Reevany Bustami
[8] Pada Oktober 2007, lagu yang sangat mirip “Rasa
Sayange” menjadi soundtrack iklan pariwisata Malaysia. Judul lagu itu adalah
“Rasa Sayang”. Lagu ini pernah diupload di situs resmi pariwisata Malaysia, http://www.rasasayang.com.my dan disiarkan oleh televisi-televisi di Malaysia.
Klaim ini menuai kecaman hebat dari masyarakat Indonesia, hingga DPR. Tapi
Malaysia berdalih lagu itu sudah terengar dikepulauan Nusantara sebelum
lahirnya Indonesia, sehingga tidak bisa di Klaim sendiri oleh Indonesia.
Komentar
Posting Komentar