“Tari Pendet Sebagai Identitas Kebudayaan Masyarakat Bali”

“Tari Pendet Sebagai Identitas Kebudayaan Masyarakat Bali”
Untuk Memenuhi Ujian Akhir Semester Civil Society dan Multikulturalisme
Dosen Pengampu : Luthfi J. Kurniawan

images (7).jpg


Disusun Oleh
Eviyana Utami     (201410310311108)

Sosiologi B
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Muhammadiyah Malang
2016


BAB I
Pendahuluan
1.1                         Latar Belakang
Negara Indonesia adalah negara yang terkenal dengan keanekaragaman kebudayaan yang dimiilikya. Dari sabang hingga merauke terlukis beraneka ragam kebudayaan dengan yang berbeda-beda. Seperti Seni Tari, seni pahat, Seni Lukis, Rumah adat, Lagu khas masing- masing daerah serta masih banyak lagi keanekaragaman kebudaayn lainnya. keragaman kesenian kebudayaan ini menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia dan menjadi kekayaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Kemudian menjadi identitas tersendiri bagi bangsa Indonesia.
Identitas Nasional Bangsa adalah suatu ciri yang dimiliki oleh suatu bangsa yang secara filosofis membedakan bangsa tersebut dengan bangsa yang lain. Berdasarkan pengertian tersebut maka suatu bangsa akan memiliki ciri khas yang menjadi identitas. Identitas nasional merupakan jati diri yang melekat pada suatu bangsa. Identitas nasional pada hakikatnya juga merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam aspek-aspek budaya. Seperti halnya Indonesia yang memiliki keanekaragaan budaya yang kemudian menjadi identitas yang dikenal oleh seluruh masyarakat dipenjuru dunia.
Indonesia diminati oleh para wisatawan ataupun Tourist dari mancanegara tidak hanya karena wisata alamnya yang indah namun juga kareana kebudayaannya. Terutama Bali yang menjadi sentral wisata yang tidak hanya menyugukan keindahan alamnya namun juga menyugukan keindahan budayanya yang kemudian menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong seperti seni tari, seni ukiran atau pahat hingga seni pertunjukan yang kerap disuguhkan oleh masyarakat bali.
Bali merupakan salah satu Provinsi yang tersohr dengan keanekaragaman kebudayaan dan eksotisme tempat wisata yang dimilikinya. Termasuk seni tari yang kerap menjadi suguhan utama bagi para wisatawan. Bali mempunyai beberapa kesenian tari yang sudah mendunia popularitasnya. Selain tari kecak, Tari pendet merupakan salah satu keseniaan yang sudah tidak asing lagi bagi para pelancong lokal maupun mancanegara. Tari ini secara rutin dipersembahkan  dan dipentaskan dan menjadi hiburan bagi para wisatawan.
Tari Pendet sendiri merupakan sebuah pernyataan dari persembahan yang dituangkan dalam bentuk kesenian. Menjadi populer karena kesenian ini sangat mudah ditarikan oleh semua orang dengan latihan yang intensif. Tarian ini dapat dipelajari dalam sanggar-sanggar tari yang sudah banyak dibentuk di daerah Bali sebagai wujud pelestarian budaya yang hampir punah. Tarian ini tidak hanya dipelajari oleh kalangan masyarakat Bali saja namun juga oleh para pengunjung dari mancanegara. Tarian ini tidak hanya dipelajari di daerah Bali saja namun juga terdapat diberbagai sanggar tari yang ada di Indonesia.
Tak dapat dipungkiri keterbukaan masyarakat Bali dengan Touris-touris dari mancanegara untuk masuk kedalam kebudayaan dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Seperti halnya dengan kasus pengklaiman kebudayaan yang terjadi pada tahun 2009 yang dilakukan oleh Negara tetangga, negara jiran Malaysia. Salah satu stasiun tv di Malaysia menayangkan iklan wisata dengan menyuguhkan tari pendet. Tentunya hal tersebut mengundang banyak kontroversi dari berbagai kalangan masyarakat di Indonesia khususnya masyarakat Bali yang menjadi induk atau pemilik dari tarian tersebut. Hal tersebut kemudian menjadi kontroversi yang meluas mengingat masyarakat Indonesia mempunyai jiwa nasionalis yang tinggi.
Dalam setiap bangsa dipastikan memiliki adat dan kebudayaan masing-masing. Untuk itu, mereka memiliki kewajiban untuk menjaga, melestarikan dan mengimplementasikan segala adat dan kebudayaannya secara sungguh-sungguh. Demikian halnya dengan adat dan kebudayaan yang ada dipulau Bali yang hingga kinipun masih dipegang teguh secara konsistens oleh masyarakatnya. Terlebih lagi setiap kebudayaan yang ada di Bali berkaitan erat dengan agama Hindu dan Budha.
1.2  Rumusan Masalah
1.2.1                    Bagaimana sejarah Tari Pendet ?
1.2.2                    Bagaimana Tari Pendet Sebagai Identitas kebudayaan masyarakat Bali ?
1.2.3                    Bagamimana Kontroversi Pengklaiman Tari Pendet antara Negara Indonesia
            dengan Malaysia ?
1.3  Tujuan Masalah
1.3.1                    Untuk mengetahui sejarah tari Pendet.
1.3.2                    Untuk mengetahui tari pendet sebagai identitas kebudayaan masyarakat Bali
1.3.3                    Untuk mengetahui seperti apa kontroversi yang pernah terjadi antara Negara
Indonesia dengan Malaysia.









BAB II
Pembahasan
2.1  Sejarah Tari Pendet
Tari pendet merupakan tari pemujaan yang dilakukan di pura-pura. Tari ini merupakan sajian untuk para leluhur yang disebut Bharata dan Barhari, yang juga menggambarkan penyambutan atas turunnya para dewa ke Marcapada. Pendet dilakukan oleh wanita dengan memakia pakaian adat membawa bokor penuh berisi canang sari, kawang dan bunga-bunga. Sebagian membawa alat-alat seperti sangku, cawan, kendi dan lain sebagainya.
Sebelum kita mengupas tentang sejarah tari pendet, kita akan mengupas terlebih dahulu tentang sejarah tari Bali. Tari Bali merupakan bagian organik dari masayarakat itu atau menurut struktr masayarakatnya. Seni tari Bali dapat dibagi menjadi tiga periode yaitu : [1]
a.       Periode masyarakat Primitif ( Pra Hindu 2000 SM – 400 M)
b.      Periode masyarakat Feodal (400 M – 1945)
c.       Periode masyarakat modern (1945 –Sekarang)
a.       Masyarakat Primitif (Pra Hindu)
Pada jaman ini masyarakat Bali sangat dipengaruhi oleh alam sehingga seni tari merekapun mencerminkan gerak-gerik dan kehidupan di dalam alam semesta ini. Gerak alunan ombak, pohon ditiup angin, kumbang-kumbang berkejar-kejaran, dan gerak bintang yang sangat mempengaruhi seni tari mereka dan masih terpelihara hingga saat ini. Pada jaman ini, masyarakat Bali tidak hanya bergantung kepada alam, tetapi mengabadikan seluruh hidupnya kepada kehidupan spiritual, sehingga animisme dan totamisme juga mempengaruhi seni tari Bali. Ciri-ciri tari ini adalah adanya unsur-unsur magis, ketidaksadaran diri, penuh pengabdian, polos dalam penyajian dan berfungsi sebagai penolak bala. ( Tim Penyusun Monografi Daerah Bali, (1076)
b.      Masyarakat Feodal
Pada jaman ini, pengaruh kebudayaan Hindu sangat mempengaruhi perkembangan seni tari Bali. Pengaruh Hindu di Bali ini berjalan sangat lamban, dimulai pada abad ke-8 pada waktu pemerintahan raja Ugrasena di Bali. Kemudian pada abad ke- 10 terjadi perkawinan antara raja Udayana dengan Mahandradata (ratu dari Jawa Timur) , yang dari perkembangan tersebut lahir Raja Airlangga yang kemudian menjadi raja di Jawa Timur. Sejak itu terjadi hbungan yang sangat erat antara jawa dan Bali yang menyebabkan terbawanya kebudayaan Hindu ke Bali. Hubungan ini semakin dipererat lagi oleh Mahapatih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit pada abad ke-14. Terbawanya kerajaan Hindu ke Bali secara total terjadi pada abad ke-15, yaitu pada saat terjatuhnya kerajaan Majapahit ke tangan Islam. Orang-orang Hindu yang tidak mau mengubah agamanya lari ke Bali dan membentuk Kerajaan Bali.
Kebudayaan Bali yang berdasarkan atas penyembahan leluhur (animisme dan totenisme) bercampur dengan Hinduisme dan Budhaisme yang kemudian berkembang menjadi kebudayaan Bali Hindu. Kebudayaan pada jaman Feoalini didukng oleh para raja, khususnya kehidupan musik (gamelan) dan tari dipusatkan diistana, namun para  pelakunya diambil dari desa. Mereka dididik di istana dan setelah pertunjukan mereka dikembalikan ke desa. (Tim Penyusun Monografi Daerah Bali, 1967).
c.       Mayarakat modern
Dalam masayarakat modern, yang dimulai sejak kemerdekaan RI pada tahun 1945, patronisasi dari kerajaan-kerajaan jaman feodal tidak diperlukan lagi. Sehingga, masayarakat mengembangkan memelihara dan mengembangkan kesenian masing-masing. Sistem banjar, Sekehe, atau group lainnya, memberi kehidupan pada seni itu disamping untuk kepentingan agama, seperti yang tercakup dalam Panca Yadnya : Dewa Yadnya, Resi Yadnya, Manusa Yadnya, Pitra Yadnya dan Buta Yadnya.
Seni tari di Bali disamping berbentuk Total teater (terdiri dari berbagai jenis unsur), juga bersifat communal Theatre, artinya penonton tidak hanya sekedar menonton, tetapi lebih daripada itu. Penonton bahkan melakukan tugas-tugas tertentu seperti kerasukan (intrance), contohnya dalam tari Sang Hayang dan Colonarang. Seni tari merupakan organik dari masyarakat pendukungnya. Maka, didalam pertunjukan tari Bali faktor penonton sangat menentukan, baik maupun buruk menyebabkan berhasilnya suatu pementasan.
Dahulu tari pendet merupakan tarian yang bersifat sakral dan hanya dipentaskan dipura pada saat ada ritual keagamaan tertentu. Selain itu tari pendet juga termasuk kedalam jenis tarian wali, yaitu tarian Bali yang dipentaskan khusus untuk keperluan upacara keagamaan dan pemujaan yang bercerita tentang turunnya Dewi-dewi kahyangan ke Bumi. Tarian ini sudah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Berawal dari hal tersebut salah satu seniman bernama I Wayan Rindi terinspirasi dan mengubah tarian tersebut menjadi tarian selamat datang atau penyambutan. Dengan dibantu oleh Ni Ketut Reneng mereka menciptakan tarian pendet menjadi sebuah tarian penyambutan. Kemudian pada tahun 1961, I Wayan Beratha mengelola kembali tari pendet tari tersebut seperti tari sekarang termasuk menambah jumlah penarinya menjadi lima orang. Namun seiring dengan perkembangan zaman perkembangan tari pendet mulai bermunculan seperti Tari pendet sebagai Tari sakral, tari penyambutan dan tari Balih-balihan. Kemudian I Wayan Baratha dan kawan-kwan menciptakan tari pendet massal dengan jumlah penari tidak krang dari 800 orang, untuk ditampilkan dalam upacara pembukaan Asia games di Jakarta.

a.       Tari Pendet sebagai tari Sakral
Pada awalnyatari pendet dibawakan secara berkelompok atau berpasangan oleh para putri, dan lebih dinamis dari tari rejang. Ditampilkan setelah tari Rejang dihalaman pura dan biasanya menghadap kearah suci (Pelinggih) dimana Bhatara dan Bhatari itu bersemayam. Pendet dilakukan oleh para wanita dengan memakai pakaian adat. Para penari membawa bokor yang berisi canang sari, bunga-bunga dan Kawangan. Sebagian dari mereka juga membawa alat-alat upacara sesaji dan persembahan seperti : sangku ( wadah air suci ), kendi dan pasepan. Tari ini dilakukan secara masal dan dipimpin oleh seorang pemangku (pemimpin upacara) dengan membawa sebuah pasepan atau alat pendudusan yang diberi menyan dan dibakar. Pada bagian akhir dari tariannya para penari meletakkan sesaji-sajiannya, canang sari dan kwangen itu pada pelinggih dan ada juga yang menaburkan bunga pada Bhatari sebagai suatu tanda penghormatan. Tari ini diiringi dengan gambelan gong kebyar.
Lahirnya tari pendet adalah sebuah ritual sakral odalan dipura yang disebut memendet atau mendet.prosesi mendet berlangsung setelah pendeta mengumandangkan puja mantranya dan seusai pementasan topeng sidakarya. Aktivitas mendet yang secara etimologis yang berasal dari mendak (menyambut) itu, penarinya tak selalu dipersiapkan secara khsus. Umumnya selalu dapat dibawakan oleh partisian. Lambat laun seiring perkembangan zaman para seniman tari Bali merubah tari pendet menjadi tarian “ucapan selamat datang” dilakukan sambil menaburkan bunga dihadapan tamu yang datang. Kendatidemikian bukan tari pendet kehilangan sakralnya. Tari pendet tetap mengandung anasir sakral-religius dengan menyertakan muatan keagamaan yang kental.


b.      Tari pendet penyambutan
Pencipta atau koreografer dari tari pendet ini adalah I Wayan Rindi (pada tahun 1967), merupakan penari yang dikenal luas sebagai penekun seni tari dengan kemampuan menggubah tari atau melestarikan tari seni bali melalui pembelajaran pada generasi sebelumnya. semasa hidupnya beliau gemar mengajarkan tari-tarian kepada penerusnya maupun dilingkungan keluarganya.
Oleh I Wayan Rindi tarian ini diubah menjadi kesenian yang tidak hanya dipentaskan pada kegiatan ritual saja namun juga untuk menyambut tamu yang datang. Tarian ini dibawakan oleh beberapa orang remaja putri yang dalam menarikannya membawa mangkuk dari perak dimana didalamnya diisi penuh dengan bunga. Pada akhir pementasan, bunga yang berada didalam mangkuk perak nantinya akan ditaburkan oleh para penari kepada para penonton sebagai ucapan selamat datang. Oleh karena itu, Tari pendet sering disebut sebagai tari penyambutan.
Merunut dari sejarah tari pendet sudah lama mengakar dalam budaya Bali. Menurut Wayan Dibia Guru besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, tari pendet merupakan salah satu tarian paling tua diantara tarian-tarian lainnya yang ada dipulau Dewata. Penggagas tarian tersebut lanjutnya adalah I Wayan Rindi dan Ni Ketut Reneng. Kedua seniman ini menciptakan tari pendet sebagai tarian penyambutandengan empat orang penari.
Pada 1961, I Wayan Baretha mengolah tari pendet tersebuthingga seperti sekarang ini, termasuk menambah jumlah penarinya menjadi lima orang. Berselang setahn kemudian I wayan Baretha dan kawan-kawan menciptakan tari pendet masal dengan jumlah penari tidak kurang dari 800 orang, untuk memperkenalkan keduania internasional melalui suatu event internasional spereti Asia games. Tari pendet ini dipertunjukan pada upacara pembukaan asia games di Jakarta yang dibuka oleh Presiden Soekarno.

c.       Tari pendet sebagai Tari Balih-Balihan
Tari pendet merupakan salah satu contoh bentuk seni pertunjukan yang telah mengalami perkembangan selama dua dekade. Perkembangannya ditandaidengan munculnya kembali tarian pendet baru yang memiliki bentuk, isi dan tata penyajian serta fungsi yang berbeda dengan tarian pendet pada waktu sebelumnya. Tari pendet baru disajikan dalam bentuk, isi dan struktur penyajian yang terpola. Unsur-nsur tari yang terkandung dalam tari seperti : musik, gerak, pola lantai, level, ruang dan waktu diatur dalam sebuah tatanan yang terstruktur, sehingga dapat menyuguhkan sebuah tarian yang menarik.
Menurut Dibia, (1993 :31) ada sejumlah tari-tarian, hiburan, atau tontonan yang biasa disebut dengan tari Balihan-balihan. Tarian ini biasanya dipentaskan sebagai seni hiburan, baik bagi masyarakat Bali sendiri maupun masyarakat luar Bali (wisatawan) yang berunjung ke pulau dewata dengan tujuan untuk menghibur atau sebagai suguhan hasil dari kreativitas seni berkualitas tinggi. Berdasarkan hal tersebut tari pendet sering disebut sebagai tarian hiburan atau tarian ucapan selamat datang ( Balih-balihan).
2.2  Tari Pendet Sebagai Identitas Kebudayaan masyarakat Bali
Bali merupakan daerah pariwisata yang tidak hanya menyuguhkan keindahan alamnya saja namun juga menyajikan keindahan serta keragaman budaya yang dimiliki. Salah satu yang paling memikat wisatawan yaitu kebudayaan Tari Pendet yang merupakan kebudayaan yang Sakral untuk acara keagamaan. Sebagai suatu kebudayaan tentunya tarian ini harus dijaga dan dilestarikan.
Budaya adalah bentuk jamak dari kata budi dan daya yang berarti cipta, karsa, dan rasa. Kata budaya sebenarnya berasal dari bahasa Sansekerta budhaya yaitu bentuk jamak kata  buddhi yang berarti akal atau budi. Dalam bahasa inggris budaya berasal dari kata culture, dalam bahasa Belanda di istilahkan dengan kata Cultuur, dalam bahasa Latin, berasal dari kata Colera, yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan mengembangkan tanah (bertani). Kemudian pengertian ini berkembang dalam kata Culture, yaitu sebagai daya dan kativitas manusia untuk mengolah dan mengbah alam. Pengertian budaya menurut beberapa tokoh : [2]
a)      E.B. Taylor, budaya adalah suat keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, hkum, adat istiadat dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masayarakat.
b)      R. Linton, Kebudayaan dapat dipandang sebagai konfigurasi tingkah laku yang dipelajari dan hasil tingkah laku yang dipelajari, dimana unsur pembentuknya idukung dan diteruskan oleh anggota masyarakat lainnya.
c)      Koentjaraningrat, mengartikan bahwa kebdayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, milik diri manusia dengan belajar.
d)     Selo Soemardjan dan Soelaeman Soenardi, Kebudayaan adalah semua hasil, karya, rasa, dan cipta masyarakat.
e)      Herkovis, Kebudayaan adalah bagian dari lingkungan hidup yang dicitakan oleh manusia.
f)       Murdowo, mengatakan bahwa kultur itu mengenai norma kerohanian, moral, etik, dan estetik yang dicapai oleh suatu bangsa.[3]
Dengan demikian dapat diartikan bahwa kebudayaan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan manusia yang diciptakan dari hati, dan memiliki nilai-nilai kerohanian, moral baik itu berbentuk materil maupun non materil. Terlingkup didalamnya adalah usaha memanusiakan bahan alam mentah serta hasilnya.dalam bahan alam, terdiri dari alam diri dan alam lingkungannya baik itu fisik maupun sosial, nilai-nilai diidentifikasikan dan dikembangkan sehingga menjadi  sempurna. Membudayakan alam, memanusiakan hidup, menyempurnakan hubungan keinsanian merupakan kesatuan yang tak terpisahkan. Itulah inti dan batas kebudayaan.
Kebudayaan lama dan asli merupakan puncak-puncak kebudayan diseluruh indonesia, terhitung sebagai kebudayan bangsa. Kebudayaan bangsa merupakan kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budinya rakyat Indonesia seluruhnya dan  merupakan suatu bentuk perjuangan. Setiap kebudayaan memiliki ciri khas yang melekat yang menjadikannya sebagai suatu bentuk identitas. Identitas tersebut merupakan jati diri yang dimiliki untuk diakuinya. Identitas sendiri berasal dari bahasa Inggris yaitu Identity yang dapat diartikan sebagai ciri-ciri, tanda-tanda, serta jadi diri yang melekat pada seseorang atau sesuatu yang memabedakannya dengan yang lain. Dalam ilmu Antropologi, Identitas diartikan sebagai sifat khas yang menerangkan dan sesuai dengan kesadaran diri pribadi sendiri, golongan sendiri, kelompok sendiri, komunitas sendiri atau negara sendiri. Identitas nasional meliputi nilai, norma, dan simbol ekspresif sebagai ikatan sosial untuk membangun solidaritas dan kohensiviitas sosial. Identitas merupakan harga diri dan senjata untuk menghadapi kekuatan luar yang memberikan justifikasi bagi tindakan masa lalu, mejelaskan tindakan masa sekarang.
Identitas Nasional merpakan salah satu bentuk dari identitas sosial[4]. Kelekatan anggota kelompok terhadap negara mereka diekspresikan dengan rasa memiliki, cinta, loyalitas, kebanggaan, dan perlindungan terhadap kelompok dan tanah airnya (Davidov, 2009). Adapun fungsi dari identitas Nasional menurut Smith (1991) yaitu :
a.       Identitas Nasional memberikan jawaban yang memuaskan terhadap rasa takut akan kehilangan melalui identifikasi terhadap bangsa.
b.      Identitas Nasional menawarkan pembaharuan pribadi dan martabat bagi individu dengan menjadi bagian dari keluarga besar suatu bangsa.
c.       Identitas Nasional memmungkinkan adanya relasi dari perasaan persaudaraan, terutama melalui simbol-simbol upacara.
Tentunya dari hal tersebut ada faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan Identitas Nasional bangsa Indonesia. Menurut Surbakti (1999) ada beberapa faktor yang mempengaruhi terbentuknya Identitas Nasional yaitu :
a.       Primordial
Ikatan kekerabatan (darah dan keluarga) dan kesamaan suku bangsa, daerah, bahasa, dan adat-istiadat merupakan faktor-faktor primordial yang dapat membentuk negara-bangsa. Primordialisme tidak hanya menimblkan perilaku yang sama namn juga melahirkan persepsi yang sama tentang masyarakat negara yang dicita-citakan.
b.      Sakral
Kesamaan agama yang dianut oleh suatu masyarakat, atau ikatan ideologi yang kuat dalam masyarakat, juga merupakan faktor yang dapat membentuk bangsa.
c.       Tokoh
Kepemimpinan dari seorang tokoh yang disegani dan dihormati secaraluas oleh masyarakat dapat menjadi faktor yang menyatukan suatu bangsa-negara. Pemimpin ini menjadi panutan sebab dianggap sebagai “penyambuung lidah” masyarakat.

d.      Sejarah
Persepi tentang asal-usul (nenek moyang) dan tentang pengalaman masa lalu, seperti penderitaan yang sama akibat dari penjajahan tidak hanya melahirkan solidaritas tetapi juga tekad dan tjuan yang sama antar kelompok suku bangsa. Solidaritas, tekad, dan tujuan yang sama itu dapat menjadi identitas yang menyatukan mereka sebagai bangsa, sebab dengan konsep ke-kita-an dalam masayarakat.
e.       Bhineka Tunggal Ika
Prinsip bersatu dalam perbedaan (uinity in Diversity) merupakan salah satu faktor yang dapat membentuk bangsa-negara. Bersatu dalam perbedaan artinya kesediaan warga masyarakat untuk bersama dalam suatu lembaga yang disebut Negara, atau pemerintahan walaupn mereka memiliki suku bangsa, adat-istiadat, ras atau agama yang berbeda.
f.       Perkembangan Ekonomi
Indstrialisasi akan melahirkan spesialisasi pekerjaan yang beraneka ragam sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Semakin tinggi mutu dan semakin bervariasi kebutuhan masayarakat, semakin tinggi pula tingkat saling bergantung diantara berbagai jenis pekerjaan. Semakin kuat suasan bergantung antar anggota masayarakat karena perkembangan ekonomi, maka semakin besar pula solidaritas dan persatuan dalam masyarakat.
g.      Kelembagaan
Proses pembentukan bangsa berupa lembaga-lembaga pemerintahan dan politik, seperti birokrasi, angkatan bersenjata, dan partai politik. Setidak-tidaknya terdapat dua smbangan birokrasi pemerintahan bagi proses pembentukan bangsa, yakni mempertemukan berbagai kepentingan dalam instansi pemerintahan dengan berbagai kepentingan dikalangan penduduk sehingga tersusun suatu kepentingan nasiona, watak kerja, dan pelayanannya yang bersifat impersonal.
Identitas Nasional Indonesia merupakan jati diri yang membentuk bangsa yang terdiri atas berbagai suku, adat istiadat, agama, kebudayaan,  serta berdiam diri disuatu wilayah yang terdiri dari beribu-ribu pulau. Sedangkan jati diri bangsa dapat diartikan sebagai totalitas penampilan bangsa yang utuh dengan mendapatkan muatan dari masyarakat sehingga dapat menjadi pembeda antara bangsa kita dengan bangsa yang lain.
Termasuk dalam kebudayaan. Indonesia memiliki keanekaragaman kebudaya, tradisi serta adat yang turun temurun dari nenek moyang dan masih diyakini sampai sekarang ini. Tari pendet merupakan satu dari sekian kebudayaan Indonesia. Tarian ini merupakan peninggalan dari para nenek moyang maupun tokoh-tokoh terdahulu yang merupakan tarian yang dipergunakan dalam proses keagamaan yang sakral. Tarian ini biasanya ditarikan di Pura atau tempat ibadahnya masayarakat Hindu. Tarian ini merupakan sajian untuk para leluhur yang disebut Bhatara dan Bhatari, yang juga menggambarkan penyambutan atas turunnya para dewa di Marcapeda. Pendet dilakukan oleh para perempuan dengan memakai pakaian adat dengan membawa sebuah bokor yang penuh berisi canang sari , kawangan dan bungan-bunga. Sebagian membawa alat-alat pacar seperti sangku, cawan, kendi, dan lain-lain.
Tari pendet lahir dari pemikiran-pemikiran serta sejarah yang ditinggalkan oleh nenek moyang. Tari pendet diciptakan oleh seorang tokoh yang bernama I Wayan Rindi pada tahun 1967 yang kemudian dimodifikasi dalam dua dekade, sehingga tarian ini dari tarian Sakral keagamaan yang hanya digunakan untuk sajian para leluhur namun sekarang juga disajikan sebagai tarian selamat datang atau tarian penyambutan. Jika dilihat dari sejarah awal terbentuknya Tari Bali yaitu dari masyarakat primitif (Pra Hindu). Pada masa ini masyarakat Bali sangat dipengaruhi oleh alam sehingga dalam tariannya mencerminkan gerak-gerik dan kehidupan didalam alam semesta ini. Gerak alunan ombak, tiupan angin, kumbang-kumbang yang saling berkejaran dan kejaran bintang saling mempengaruhi seni tari mereka sehingga terpelihara sampai saat ini.
2.3  Kontroversi Pengklaiman Tari Pende
Hubungan antara Indonesia dan Malaysia beberapa kali mengalami pasang surut. Pada tahun 1963, terjadi konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia. Perang ini berawal dari keinginan Malaysia untuk menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak dengan persekutuan tanah Melayu pada tahun 1961[5]. Hubungan antara Indonesia dengan Malaysia juga sempat memburuk pada tahun 2002 ketika kepulauan Sipadan dan Ligitan di klaim oleh Malaysia sebagai wilayah mereka, dan berdasarkan keputusan Mahkamah Internasional (MI) di Den Haag, Belanda bahwa Sipadan dan Ligitan merupakan pulau kecil di diperairan dekat kawasan pantai negara bagian sabah dan Provinsi Kalimantan Timur, yang di klaim dua negara sehingga menimbulkan persengketaan yang berlangsung selama lebih dari tiga dekade. Sipadan dan Ligitan menjadi ganjalan kecil dalam hubungan sejak tahun 1967 ketika kedua negara mengajukan klaim atas kedua pulau tersebut. Kedua belah pihak menandatangani kesepakatan pada Mei 1997 untuk menyerahkan kesepakatan itu kepada MI. MI diserahkan tanggung jawab untuk menyelesaikan sengketa dengan jiwa kemitraan. Kedua belah pihak juga sudah sepakat untuk menerima keputusan pengadilan sebagai penyelesaian akhir sengketa tersebut. Selain itu, pada 2005 terjadi sengketa mngenai batas wilayah dan kepemilikan ambalat.
Bukan hanya pulau Sipadan dan Ligitan namun lagi-lagi Malaysia mengklaim kebudayaan Indonesia yaitu batik dan juga lagu Rasa Sayange sebagai milik mereka. Tentunya hal ini kembali membuat resah pemerintah Indonesia terutama para seniman serta masyarakat Indonesia. Sehingga, Pada tahun 2007, Sekjen Departemen kebudayaan dan Pariwisata, Sapta Nirwandar menyatakan pemerintah telah mendaftarkan batik dan angklung ke Unesco, sebagai masterpice world heritage. Diduga langkah ini merupakan reaksi setelah sebelumnya Malaysia mengklaim dan mempatentakn batik motif “Perang Rusak”, angklung, wayang kulit, hingga makanan rendang. Belakangan juga, masyarakat Indonesia kembali dibuat resah oleh sebuah iklan budaya Pariwisata yang menonjolkan tarian pendet. Masalahnya iklan tersebut ditayangkan oleh Malaysia melalui iklan acara Discovery  Networks Asia-pacific yang bertajuk “Enigmatic Malaysia” yang di produksi oleh KRU Studio pada agustus 2009. Pembuatan video Enigmatic Malaysia merupakan bagian dari beberapa iklan yang dibuat oleh Malaysia[6]. Menurut keterangan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur, apa yang menjadi kontroversi adalah munculnya beberapa gambar tarian pendet dalam video tersebut. Isi dri video tersebut yaitu dimulai dari munculnya bunga Raflesia yang menjadi pembukaannya kemudian diikuti oleh dua orang penari tarian pendet dan selanjutnya yaitu wayang kulit yang merupakan salah satu kebudayaan Indonesia[7].
Menteri kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar), Jero Wacik, kemudian melayangkan nota protes kepada pemerintah Malaysia. Negara tetangga Malaysia berulah lagi setelah dulu rasa sayange[8], Reog ponorogo, dan tari Indang Barindang, sekarang Tari Pendet, kata Jero Wacik dalam konferensi pers di Gedung departemen Kebudayaan dan Pariwisata (24/8). Kementerian Pendidikan dan Pariwisata mengatakan bahwa sepanjang kurun waktu 2007-2012, Malaysia telah melakukan tujuh kali tindakan pengklaiman produk kebudayaan Indonesai diantaranya, tarian reog, lagu rasa Sayange, batik, tarian pendet, alat musik angklung, beras padi adan krayan dan tarian tor-tor ( Jakarta Post, 2012). Hal ini tentunya memancing kemarahan masayarakat Indonesia terutama para seniman yang ada di Indonesia. Sementara itu, bergulirnya isu tari Pendet, berbagai aksi protes di lakukan oleh masayarakat Indonesia. Antara lain aksi membakar bendera Malaysia di jalur Gemilang sembari meneriakan slogan “Ganyang Malaysia” yang sebelumnya pernah di lontarkan oleh Bung Karno ketika dalam demonstrasi anti Indonesia di Kuala Lumpur Malaysia pada 17 Desember 1963 para demonstran menyerbu gedung KBRI dan merobek-robek foto Soekarno serta membawa lambang Garuda Pancasila kehadapan Pemerintah Malaysia waktu itu, Tunku Abdul Rahman dan memaksanya menginjak lambang Garuda tersebut.
Timbulnya berbagai aksi tersebut merupakan bentuk dari kekecewaan masayarakat Indonesia terhadap tindakan Malaysia yang kemudian lebih kurang dari 100 halaman web Kerajaan Malaysia di musuhi oleh dalam bahasa Malaysia disebut dengan istilah Penggodam-penggodam indonesia (Farish, 2009). Selanjutnya, Slogan “Ganyang Malaysia” senantiasa menghiasi unjuk rasa di depan Kedutaan Malaysia di Jakarta setiap harinya. Para mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia juga tidak ikut ketinggalan melakukan aksi bakar bendera dan meneriakan slogan-slogan berbau anti-Malaysia ( Chong, 2012 : 3). Selain itu juga ikut berperannya NGO yang tergabung dalam Benteng Demokrasi rakyat (BENDERA), Barisan Muda Betawi, Relawan Ganyang Malaysia dan Relawan Pembela Demokrasi (Rapdem). Situasi ini semakin panas ketika anggota NGO terutama BENDERA “mengobarkan” kata perang melawan Malaysia. Ketua BENDERA Mustar Boneventura mengatakan bahwa organisasi ini telah merekrut lebih kurang 1.500 sukarelawan yang siap perang melawan Malaysia. BENDERA juga mengatakan bahwa para sukarelawan telah bersedia setiap waktu untuk berperang (Chong, 2012 :24).
Di Malaysia kontroversi tari pendet terutama berkaitan dengan aksi yang dilakukan oleh BENDERA cukup mendapat perhatian dari masyarakat dan juga kerajaan Malaysia. Majelis Perwakilan Pelajar (MPR) dari 18 Universitas di Malaysia merasa kecewa dan perihatin dengan kontroversi yang terjadi antara Indonesia dengan Malaysia yang berkaitan dengan Isu Tari Pendet. Beberapa perwakilan MPP meminta untuk kedua belah pihak melakukan rundingan dalam usaha menyelesaikan masalah tersebut. Selain itu mahasiswa juga mengirimkan memorandum atau surat yang berisikan enam tuntutan dan rekomendasi bagi penyelesaian masalah tersebut. Selain itu mereka juga meminta supaya media di Indonesia menghentikan provokasi dan menyiarkan berita objektif (Malay Mail, 15 September 2009 : 4). Sebagian pihak pemerintahan Malaysia menyesali kejadian tersebut. Malaysia sudah melakukan tindakan yang cukup meninggung perasaan masyarakat Indonesia melalui isu tari pendet. Walaupun Datuk Seri Dr. Rais Yatim berpendapat masalah tersebut sebagai bentuk “melestarikan” namun fakta menunjukna bahwa tindakan sebagian pihak Malaysia terutama KRU studio merupakan satu kesalahan. Pemerintah Malaysia perlu memberikan ketegasan tergadap rumah-rumah produksi agar hal tersebut tidak terulang kembali.
Untuk meredakan ketegangan dalam isu tari pendet, kedua Negara menyusun beberapa agenda perbincangan. Pada 17 September 2009, Menteri Luar Malaysia Datuk Anifah Aman melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Indonesia di Jakarta. Selanjutnya, pada 11 November 2009, Presiden Susilo Bambamg Yudhoyono melakukan kunjungan resmi pertama ke Malaysia setelah dilantik kembali menjadi Presiden untuk periode keduanya. Berkaitan dengan hal tersebut, Najib Razak mengaskan bahwa indonesia dan Malaysia tidak membiarkan isu-isu kecil yang dibesar-besarkan oleh pihak-pihak tertentu. Oleh karena itu, kedua belah pihak sepakat untuk memperkukuh kerjasama yang pernah terjalin (Bernama, 2009).
Kontroversi iklan promosi Pariwisata Malaysia yang menampilkan tari pendet diyakini pengamat pariwisata Bali, Dr. I Nyoman Darma Putra, justru semakin melambungkan nama pulau wisata ternama Indonesia itu dimata wisatawan dan pelaku Industri pariwisata dunia. “Dibalik kasus ini saya yakin nama Bali akan semakin melambung di kalangan wisatawan dan pelaku wisata dunia,” katanya di Brisbane, Australia, kamis, menanggapi kasus iklan kontroversi pariwisata Malaysia yang tanpa seizin pemerintah Indonesia menampilkan Tari pendet dari Bali. Darma Putra mengatakan pihak-pihak yang bertanggug jawab terhadap pembuatan iklan promosi berjudul “Enigmatic Malaysia” itu tidak etis memasukan materi budaya Bali bagi kepentingan promosi pariwisata Malaysia. “Kalau materi budaya Bali digunakan untuk mendukung promosi pariwisata Bali, kita sangat berterimakasih. Dalam kasus ini sikap pemerintah Malaysia yang sebatas menyalahkan pihak swasta yang memproduksi materi promosi pariwisata negaranya sangat disayangkan,” katanya.
Penulis buku Bali dalam Kuasa Politik (2008) ini mengatakan, pemerintah Malaysia sudah seharusnya dapat menjamin bahwa kasus pemanfaatan dan pengklaiman kekayaan budaya Indonesia oleh Malaysia seperti yang terjadi beberapa tahun terakhir ini tidak terulang lagi dimasa mendatang. Pemerintah Malaysia juga sudah sepatutnya memberi sanksi kepada pihak pembuat materi promosi itu, Katanya. Kasus iklan komersial yang ditayangkan jaringan Televisi Discovery yang diprotes Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik itu tidak hanya mengundang perhatian masyarakat Indonesia saja tetapi juga menarik perhatian media utama di Australia. Surat kabar yang paling berpengaruh di Australia yaitu The Australian misalnya menyroti kasus ini lewat salah satu berita edisi 26 Agustus dibawah judul “Malaysia ‘steals’ Bali Dance” (Malaysia ‘mencuri’ tari Bali). Berita harian The Australian melalui korespondennya di Jakarta, Stephen Fitzpatrick, itu menyoroti perkembangan di seputar kontroversi pemakaian tari pendet dalam kasus iklan kontroversial pariwisata Malaysia dan reaksi publik Indonesia dalam konteks hubungan kedua negara bertetangga ini. Kontroversi yang mewarnai hubungan kedua negara yang dipicu oleh kasus pengklaiman kekayaan wisata seni budaya Indonesia oleh Malaysia itu terjadi sejak kasus lagu asal Maluku, Rasa Sayange  tahun 2007 serta pengklaiman desain batik, angklung dan reog, serta tarian asli Jawa  Timur. Akibat skandal pengklaiman Malaysia terhadap sejumlah kekayaan seni-budaya Indonesia itu, publik Indonesia kemudian menyebut fenomena ini sebagai “Malingsia” atau “Malaysia maling” sebut The Australian
Dengan adanya berbagai kasus tersebut yang melibatkan kebudayaan Indonesia, sejatinya kita harus lebih melestarikan serta mengembangkan kebudayaan yang kita miliki. Tujuan nya adalah untuk menguatkan kebudayaan yang kita miliki. Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk melestarikan budaya diantaranya yaitu :
a)      Culture Experience merupakan pelestarian budaya yang dilakukan dengan cara terjun langsung kedalam sebuah kultur. Contohnya tarian. Masyarakat dianjurkan untuk terjun langsung ataupun belajar secara langsung untuk menguasai tarian tersebut.
b)      Culture Knowledge merupakan pelestarian budaya yang dilakukan dengan cara membuat suatu pusat informasi mengenai kebudayaan yang difungsionalisasikan kedalam banyak bentuk. Tujuannya adalah untuk edukasi ataupun untuk kepentingan pengembangan kebudayaan itu sendiri dan potensi kepariwisataan daerah.
Selain hal-hal tersebut untuk pelestarian buaya dapat dilakukan dengan memperkenalkan secara langsung budaya tradisional kepada generasi selanjutnya. Untuk mempertahankan budaya serta dapat mengembangkan budaya asli kita sendiri agar tidak terulang pengkaliman terhadap budaya oleh Negara tetangga.
Kajian Teori
Dari pembahasan diatas dapat dikaji dengan menggunakan Teori Konflik Sosial Oleh Lewis Coser.
a.       Teori Konflik Sosial
Bagi Lewis A. Coser, konflik yang terjadi dalam suatu masyarakat tidak semata-mata menunjukan fungsi negatinya saja, tetapi juga dapat menimbulkan dampak positifnya. Oleh karena itu konflik bisa menguntungkan bagi sistem yang bersangkutan. Menurut Coser, konflik merupakan salah satu bentuk interaksi dan tidak perlu diingkari keberadaannya. Coser menggambarkan konflik sebagai perselisihan mengenai nilai-nilai atau tuntunan-tuntunan berkenaan dengan status, kekuasaan, dan sumber-sumber kekayaan yang dari persediannya tidak mencukupi. Coser menyatakan, perselisiahn atau konflik dapat berlangsung antar individu, kumpulan (Collectives), atau antara individu dengan kelompok.
Menurut Coser, konflik juga merupakan unsur interaksi yang penting, dan sama sekali tidak boleh dikatakan bahwa konflik selalu tidak baik atau memecah belah atau merusak. Konflik bisa saja menyumbang banyak kelestarian kelompok dan mempererat hubungan antar anggotanya sepert menghadapi musuh bersama dapat mengintegrasi orang, menghasilkan solidaritas dan ketrelibatan, dan membuat orang lupa akan perselisihan internal mereka sendiri.
Fungsi positif dari konflik menurut Lewis A. Coser merupakan cara atau alat untuk mempertahankan, mempersatukan, dan bahkan mempertegas sistem sosial yang ada. Ada dua tipe dasar konflik menurut Coser yaitu konflik realistis, yaitu berdasarkan sumber yang kongkrit (material) seperti perebutan sumber ekonomi atau wilayah, dan juga konflik non realistis yaitu didorong oleh keinginan yang tidak rasional dan cenderung bersifat ideologis seperti konflik antar agama, etnis, suku.
Jika diamati dari teori Konflik yang dikemukakan oleh Lewis A. Coser bahwa kontroversi yang terjadi antara negara Indonesia dengan Malaysia terkait pengklaiman tari Pendet yang dilakukan oleh negara malaysia tersebut tidak selalu mengandung unsur yang negatif. Dengan adanya konflik tersebut Tari pendet mendapat perhatian dari masyarakat tidak hanya masyarakat Indonesia namun juga dari media utama Australia. Hal ini tentunya menjadi keuntungan bagi masyarakat Indonesia  untuk melambungkan nama pariwisata Bali serta perkenalan Tari pendet sebagai identitas budaya asli Indonesia.Selain itu juga konflik yang terjadi semakin memperat jiwa nasionalisme masyarakat Indonesia. Terbukti ketika mengetahui kabar bahwa aset Indonesia telah di klaim oleh negara tetangga, masyarakat gempar dan melakukan berbagai aksi protes terhadap pengklaiman budaya Indonesia.
Seperti yang dinyatakan oleh Coser bahwa kekuatan Solidaritas Internal dan integrasi kelompok dalam (in group) akan bertambah tinggi apabila tingkat permusuhan atau suatu konflik dengan kelompok luar bertambah besar[9]. Hal ini ditandai dengan bergabungnya organisasi-organisasi NGO seperti Benteng Demokrasi rakyat (BENDERA), Barisan Muda Betawi, Relawan Ganyang Malaysia dan Relawan Pembela Demokrasi (Rapdem). Yang kemudian berkumpul dan menyatukan jiwa, memperkuat ikatan dan juga jiwa Nasionalisme.
Seperti yang dikemukakan oleh Coser bahwa konflik bisa mempererat hubungan kelompok yang sedang berkonflik. Hal ini seperti meredanya konflik yang terjadi antara Indonesia dengan malaysia dalam kasus pengklaiman kebudayaan tari Pendet. Setelah resmi meminta maaf kepada Indonesia, hubungan Indonesia dengan Malaysia kembali terjalin mesra seperti biasanya bahkan kembali mejalin kerja sama seperti biasanya.













BAB III
3.1 Kesimpulan
Tari pendet merupakan salah satu tari putri yang biasa di tarikan secara berkelompok atau berpasangan, dengan memakai properti berupa bokor. Dahulu tari pendet merupakan tarian yang bersifat sakral dan hanya dipentaskan dipura pada saat ada ritual keagamaan tertentu. Selain itu tari pendet juga termasuk kedalam jenis tarian wali, yaitu tarian Bali yang dipentaskan khusus untuk keperluan upacara keagamaan dan pemujaan yang bercerita tentang turunnya Dewi-dewi kahyangan ke Bumi. Tarian ini sudah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Namun seiring dengan berkembangnya zaman tarian ini kemudian di modifikasikan sebagai taran penyambutan namun tidak menghilangkan unsur sakralnya. Sehingga tarian ini banyak dijumpai sebagai tarian selamat datang atau penyambutan yang khas di Bali. Tarian ini merupakan salah satu tarian tradisional dari Bali yang sangat terkenal dan dan sering ditampilkan dalam berbagai acara penyambutan dan acara besar lainnya.
Pelestarian budaya ini banyak dilakuakn terutama di sanggar-sanggar tari. Setiap orang dapat mempelajari tarian ini. Dengan semakin menariknya tarian ini sehingga negara tetangga menampilkan tarian pendet pada channel melalui iklan acara Discovery  Networks Asia-pacific yang bertajuk “Enigmatic Malaysia” yang di produksi oleh KRU Studio pada agustus 2009. Hal ini tentunya menuai kontroversi dan berbagai kecaman dari banyak pihak terutama masyarakat indonesia. Keluarga Alm. I Wayan Rindi selaku pencipta tarian ini tentunya merasa kecewa atas tindakan yang diilakukan oleh Malaysia. Hal ini menuai banyak aksi dari masyarakat Indonesia seperti Orgnaisasi-organisasi yang tergabung dalam NGO, mereka siap melakukan perang atas tindakan yang dilakukan oleh Malaysia. Namun konflik ini kemudia meredam setelah adanya permintaan maaf dari pemerintah Malaysia.
Kejadian tersebut merupakan suatu pukulan keras bagi masyarakat Indonesia terutama para seniman. Dan menjadi PR besar bagi warga Negara Indonesia untuk selalu melestarikan kebudayaan Indonesia yang telah diwariskan oleh nenek moyang yang menjadi identitas bangsa Indonesia.















Daftar Pustaka
Suratman,dkk, 2013,Ilmu Sosial dan Budaya Dasar,Intimedia, Malang
Ali Maksum dan Reevy Bustamy. 2014. Ketegangan Hubungan Indonesia-Malaysia dalam
Isu Tarian Pendet (The tension between Indonesia-Malaysia In The Pendet dance Issue) Kajian Malaysia. Dalam Jurnal vol. 32 no 2, 2014 hal-41-72 Terdapat dalam
http://www.myjurnal.my/filebank/published_article/32351/3.pdf diakses pada hari Rabu 04 Januari 2017 pukul 19.20 wib
Eny Iryanti. 200. Tari Bali : Sebuah Historys (Bali Dance : a Historical Research). Dalam
jurnal Pengetahuan dan Pemikiran Seni vol.1 No.2/September 200. Terdapat dalam http://download.portalgaruda.org/article.php?article=135891&val=5651 diakses pada hari Rabu 04 Januari 2017 pukul 19.33 wib
Kiki Zakiah. 2012. Pencitraan Indonesia di Media massa oleh Malaysia. Dalam Jurnal
Komunikasi, vol 2, No. 1 April 2012 terdapat dalam http://jurnalilkom.uinsby.ac.id/index.php/jurnalilkom/article/view/35/29 diakses pada hari Rabu 04 Januari 2017 pukul 19.25 wib
Windi, Resmiyati dan Indah Sri Pinasti. 2015, Upaya Pelestarian Budaya Lokal Indonesia
Melalui Pelatihan Tari Tradisional Usia Dini (studi deskriptif di Sanggar Tari KembangDusun Sorogenen II Kecamatan Kalasan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta). Dalam Jurnal Sosiologi. Terdapat dalam http://www.e-jurnal.com/2016/02/upaya-pelestarian-budaya-lokal.html diakses pada hari rabu 04 Januari 2017 pukul 19.12 Wib











[1] Djayus, 1980 dalam jurnal Tari Bali Sebuah Telaah History (Bali dance : A History research). Oleh V. Eny Iryanti Vol. 1 No. 2/September- Desember 2000
[2] Elly M Setijadi, et al.,op.cit., halaman 27
[3] Murdowo,  Arti Kata Kebudayaan, Pewarta PPK, 1955, halaman 132
[4] Michener dan Delamater, 1999 ; Bastock dan Smith, 2001 (dalam Jurnal)
[5] Tahun 1962, terjadi demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, ketika para demonstran menyerbu  gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Tungku Abdul Rahman- Perdana Menteri Malaysia saat itu dan memaksanya menginjak  Garuda, amarah Soekarno terhadap Malaysia pun meledak ( dalam Jurnal Ilmu Komunikasi, vol.2, No 1, April 2012 oleh Kiki Zakiah)
[6] Chong, 2012: 2,  New Straits Times, 12 September 2009 : 5 dalam Jurnal Ketegangan Hubungan Indonesia-Malaysia dalam Isu tarian Pendet ( The Tension Between Indonesia-Malaysia In the Pendet Dance Issue) kajian Malaysia, vol 32, No 2, 2014, hal. 41-72 oleh Ali Maksum dan Reevany Bustami
[7] Anonymonger, 2009 dalam Jurnal dalam Jurnal Ketegangan Hubungan Indonesia-Malaysia dalam Isu tarian Pendet ( The Tension Between Indonesia-Malaysia In the Pendet Dance Issue) kajian Malaysia, vol 32, No 2, 2014, hal. 41-72 oleh Ali Maksum dan Reevany Bustami

[8] Pada Oktober 2007, lagu yang sangat mirip “Rasa Sayange” menjadi soundtrack iklan pariwisata Malaysia. Judul lagu itu adalah “Rasa Sayang”. Lagu ini pernah diupload di situs resmi pariwisata Malaysia, http://www.rasasayang.com.my dan disiarkan oleh televisi-televisi di Malaysia. Klaim ini menuai kecaman hebat dari masyarakat Indonesia, hingga DPR. Tapi Malaysia berdalih lagu itu sudah terengar dikepulauan Nusantara sebelum lahirnya Indonesia, sehingga tidak bisa di Klaim sendiri oleh Indonesia.

Komentar

Postingan Populer