Tugas Kelompok Sos. pol wawancara
Nama
Kelompok :
1.
Fathur
Rouf M (201410310311102)
2.
Eviyana
Utami (201410310311108)
3.
Nuraesha
Indri H. (201410310311104)
4.
Ilham
Setiyaji Galih (201410310311063)
5.
Makhrus
Ali Musthofa (201410310311087)
Strategi
Dalam Memenangkan Pemilu
Dalam pemilihan umum
khususnya pemilihan kepala daerah atau Pilkada tidak terlepas dengan yang
namanya strategi-strategi dalam memenangkan pemilu untuk mendapatkan suara,
yang mana orientasi akhirnya adalah menang dan bisa menduduki sebuah jabatan
yang diinginkan semisal, kedudukan menjadi Kepala Desa (Kades). Strategi dalam
pemilu semisal money politic,
serangan fajar (black campaign),
persuasive dengan menebar janji, melibatkan media seperti baliho, dan berbaur dengan
masyarakat atau lebih mudah dikenal dengan blusukan.
Hal itulah yang sering dipakai strategi dalam pemilu dan itu bukan menjadi
rahasia masyarakat umum.
Namun kebanyakan
masyarakat berperspektif, bahwasannya para calon pemilu menggunakan money
politic dan black campaign. Tapi kita sebagai anggota masyarakat yang bisa
berpikir lebih jernih atau tidak berprasangka negative dalam pemilu, sudah
selayaknya harus meminta keterangan terkait strategi dalam memenangkan pemilu
dari narasumber yang telah terlibat dalam pemilihan tersebut. Sehingga tidak
terjadi justifikasi yang bersifat negative.
Berdasarkan hasil
wawancara dengan narasumber kami bernama Bapak Fahrurrozi yang selaku kepala
desa Lajut, Kecamatan Praya Tengah, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara
Barat (NTB). Beliau mengungkapkan strategi yang dilakukan untuk memenangkan
pemilu adalah berbaur dengan masyarakat dan menjadi bagian dalam masyarakat
misalnya, dalam melakukan gotong royong pembangunan masjid seperti pada masyarakat
umumnya.
Beliau juga mengatakan,
pemilihan kepala desa tersebut juga tidak terlepas dari dukungan dan dorongan masyarakat
untuk menjadi kepala desa, yang mana beliau mempunyai prinsip segala sesuatu yang
dilakukan harus ikhlas karena berangkat dari niat.
Lanjutnya, beliau juga
mengungkapkan bahwa dalam melakukan kampanye kemarin beliau tidak menggunakan
politik uang atau yang dikenal dengan istilah money politic, kemengan yang
didapatkan murni atas aspirasi dalam masyarkat. Adapun dana yang dihabiskan
tidak terlalu banyak hanya sebagai pengganti rokok dan bensin dari kerja tim. Lebih
mengagumkan lagi ialah, beliau menang murni dari ke-5 calon kepala desa dengan
1500 suara dari 4500 suara, berselisih 150 suara dari pesaing yang berada di
bawahnya.
Membahas money politic
beliau kurang sependapat dengan para
calon pilkada yang menggunakan money politic, karena dapat merugikan masyarakat
dan juga ada maunya. Melakukan kampanye dengan menggunakan money politic dapat
menimbulkan peluang munculnya para koruptor. Beliau membagi masyarakat menjadi
2 golongan yaitu masyarakat yang pandai memilih dan masyarakat yang kurang
pandai memilih. Disini masyarakat yang pandai memilih tergolong dalam
masyarakat menengah keatas karena orang-orang tersebut lebih cerdas memilih.
Sedangkan golongan yang kurang pandai memilih tergolong dalam masyarakat
menengah kebawah, karena memilih atas dasar uang.
Beliau memberikan saran
kepada calon-calon pemimpin sebaiknya jika mencalonkan diri atas dasar
keikhlasan, murni dari niat yang baik. Jangan sampai ada money politic dan juga
jangan menghalalkan segala cara untuk menang, karena dapat menghasilkan
pemimpin yang kurang baik dan menimbulkan peluang bagi para calon koruptor. Dan
untuk masyarakat agar pandai memilih calon pemimpin yang dapat mengayomi
masyarakat dan menjadi wadah bagi penampungan aspirasi masyarakat.
Oleh karena itu tidak
semua para pemilu menang menggunakan money politic, namun juga bisa menggunakan
strategi jitu yang murni yaitu dengan berbaur ke dalam masyarakat dan menjadi
bagian dari masyarakat itu sendiri.
Komentar
Posting Komentar